<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727</id><updated>2012-02-16T20:42:49.711+07:00</updated><category term='video'/><category term='dewasa'/><category term='penulisan'/><category term='literatur'/><category term='gereja'/><category term='keluarga'/><category term='pelatihan'/><category term='jemaat'/><category term='artikel'/><title type='text'>The Amazing Grace Literature Ministers</title><subtitle type='html'>Wahana Berbagi Kasih Karunia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tagliners.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-555328905035245846</id><published>2010-02-22T03:09:00.000+07:00</published><updated>2010-02-22T08:11:16.912+07:00</updated><title type='text'>Sok Kenal, Sok Dekat [SKSD]</title><content type='html'>&lt;div class="content"&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.clipartguide.com/_named_clipart_images/0511-0811-1015-4071_Journalist_Interviewing_Someone_clipart_image.jpg" mce_src="http://www.clipartguide.com/_named_clipart_images/0511-0811-1015-4071_Journalist_Interviewing_Someone_clipart_image.jpg" alt="" align="left" height="190"" width="133"&gt;Kata orang, wartawan yang baik itu harusnya hasil blasteran antara ilmuwan dan wartawan. Maksudnya, wartawan itu harus memiliki otak yang berpikir kritis seperti ilmuwan. Setiap informasi tidak ditelan mentah-mentah tetapi diverfikasi, diuji dan diperiksa kebenarannya. Di sisi lain, meski bersikap kritis [bahkan kadang skeptis], tapi wartawan harus mahir menjalin hubungan pribadi dengan narasumber, luwes dalam pergaulan dan tidak boleh malu-malu. Akan tetapi kalau terlalu sok kenal dan sok dekat juga dapat membuat malu. Inilah yang saya alami. Begini ceritanya.&lt;br&gt; Waktu itu, kami akan mengangkat laporan utama tentang tulisan apokrif "Injil" Tomas. Kami mendapat informasi bahwa ada narasumber yang sangat berkompeten yang sedang berkunjung di Jogja. Namanya romo V Indra Sanjaya pr. Beliau adalah lulusan Universitas di Roma dan mendalami tentang kitab-kitab apokrif. Informasi itu juga menyebutkan bahwa romo Indra sedang berada di asrama mahasiswa Realino yang bertetangga dengan kantor redaksi.&lt;br&gt; Ini kesempatan bagus. Maka pak Xaiver lalu menugaskan saya dan Lily Halim untuk mengejar sang narasumber. Saya menyiapkan kamera foto, semantara Lily Halim menyiapkan tape dan kaset. Mengendarai sepeda motor Yamaha milik kantor, kami segera meluncur ke asrama Realino. Bagi Liliy Halim, tempat ini bukan asing lagi baginya karena dia pernah kuliah di IKIP Sanata Darma [sekarang menjadi Universitas].&lt;br&gt; Saat berjalan masuk, saya bertanya pada Lily Halim, "Mbak Lily sudah mengenal romo Indra?"&lt;br&gt; "Belum," jawabnya. Blaik! Semula saya menyangka dia sudah tahu yang mana romo Indra. Selain lebih senior daripada saya, dia juga pernah kuliah di sini.&lt;br&gt; Suasana asrama sangat lengang. Kami bingung harus menemui siapa. Lalu tiba-tiba melintas sosok pria dewasa. Dari postur dan cara berjalannya, sepertinya sih seperti imam katolik. Maka kami menyimpulkan dia pasti romo Indra. Toh, tak banyak orang yang ada di sini.&lt;br&gt; Segera saja Lily Halim menyodorkan tape dan mengajukan rekaman. Saya segera bersiap memotret sang "narasumber". Namun ada keanehan. Sang "narasumber" kelihatan &lt;i&gt; plenggang-plenggong&lt;/i&gt;, tidak tahu harus menjawab apa. Maka kami mulai sadar, jangan-jangan kami salah sangka.&lt;br&gt; "Bapak yang namanya romo Indra Sanjaya, bukan?" tanya saya dengan senyum kecut.&lt;br&gt; "Bukan. Saya petugas administrasi di sini," jawabnya. Maka meledaklah tawa kami. Dengan rasa malu, kami minta maaf dan menjelaskan maksud kedatangan kami.&lt;br&gt; Untunglah bapak itu tidak marah, Dia lalu menjelaskan bahwa romo Indra sudah pergi ke Seminari Kentungan di jalan Kaliurang. Dengan wajah memerah, akhirnya kami pun pamitan.&lt;br&gt; ***&lt;br&gt; Keesokan harinya, barulah kami berhasil mewawancarai romo Indra yang "asli"&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-555328905035245846?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/555328905035245846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/555328905035245846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2010/02/sok-kenal-sok-dekat-sksd.html' title='Sok Kenal, Sok Dekat [SKSD]'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-5456486473278311820</id><published>2010-02-22T03:00:00.000+07:00</published><updated>2010-02-22T08:01:39.383+07:00</updated><title type='text'>Pencarian Terakhir</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;img title="gambar: www.chomikuj.pl" src="http://2.bp.blogspot.com/_czc1O9-t1Xc/R7Kot_n-NWI/AAAAAAAAA54/b4MlefK441Y/s320/2007%2BFinal%2BInquiry%2Bbanner%2Bcrop.JPG" mce_src="http://2.bp.blogspot.com/_czc1O9-t1Xc/R7Kot_n-NWI/AAAAAAAAA54/b4MlefK441Y/s320/2007%2BFinal%2BInquiry%2Bbanner%2Bcrop.JPG" alt=""&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah &lt;i&gt;Passion of Christ,&lt;/i&gt; kira-kira film apa lagi yang cocok ditonton untuk membantu menghayati penderitaan Kristus pada masa pra Paskah ini? Meski tidak menceritakan Yesus di dalam plot utama, namun film "&lt;b&gt;&lt;i&gt;The Final Inquiry&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;" ini perlu Anda pertimbangkan untuk ditonton.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Film ini mengambil setting tiga tahun setelah kematian Yesus. Pada saat itu beredar rumor bahwa pengikut Guru yang bangkit dari kematian itu sedang menyiapkan pemberontakan terhadap kekaisaran Romawi.  Kaisar Tiberius (Max von Sydow ) yang mengasingkan diri di pulau Capri memutuskan untuk menyelidiki kebenaran rumor ini. Maka dia memanggil jenderal perangnya, Titus Valerius Toros (Daniele Liotti) yang sedang diasingkan ke negeri Jerman.   Titus pulang sambil membawa Braxus (Dolph Lundgren), orang Jerman yang ditaklukannya sebagai budak.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Titus mendapat tugas menyelidiki kebangkitan Yesus. Dia diangkat sebagai utusan khusus dan harus melapor langsung kepada kaisar. Ditemani oleh Braxus, Titus segera berlayar ke wilayah Yudea di Yerusalem. Begitu mendarat di kota suci itu, hambatan pertama sudah menghadang. Penghubungnya yang ada di Yudea dibunuh oleh ekstremis Yahudi. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, sang penghubung memberikan petunjuk yang mengarah ke bekas rumah Yudas Iskariot. Saat ditelusur ke sana, pemilik rumahnya tidak banyak memberikan informasi yang berharga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kembali ke Yerusalem, secara tidak sengaja Titus bertemu dengan Tabitha (M�nica Cruz), seorang perempuan belia yang dijodohkan dengan Rabi Yahudi. Titus yang masih lajang langsung terpesona kecantikan Tabitha pada pandangan pertama. Saat itu, Tabita baru saja menghadiri pertemuan rahasia dengan orang Kristen yang dipimpin oleh Stefanus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebenarnya Titus ingin melakukan penyelikan dengan diam-diam, tapi keberadaannya di Yerusalem tercium oleh Pontius Pilatus. Meskipun menikahi Claudia, adik kaisar Tiberius, namun Pontius Pilatus berusaha menjaga jarak dengan kaisar Tiberius. Maka ketika mengetahui ada utusan Kaisar yang diam-diam melakukan penyelidikan di wilayahnya, Pilatus merasa jengkel dan menjadi&lt;i&gt; paranoid&lt;/i&gt;. Meski begitu, dia tidak menunjukkan secara terang-terangan. Sebagaimana kaum politisi, Pilatus berpura-pura ramah. Dia mengundang Titus untuk menghadiri perjamuan makan di istananya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun sesungguhnya Pilatus menginginkan Titus segera pergi dari wilayahnya. Untuk itu, dia melakukan serangkaian upaya untuk meyakinkan Titus bahwa kematian yesus tidak lebih dari kematian kriminal lainnya. Pilatus melakukan rekayasa dengan memalsukan jenazah Yesus dan berusaha membunuh Titus dengan menyewa gladiator. Dia juga bersengkokol dengan pemuka agama Yahudi dengan menaruh racun di gelas Titus. Namun semuanya nihil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://www.collider.com/uploads/imageGallery/Final_Inquiry/the_final_inquiry_movie_image__2_.jpg" mce_src="http://www.collider.com/uploads/imageGallery/Final_Inquiry/the_final_inquiry_movie_image__2_.jpg" alt="" height="405" width="429"&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sela-sela kerja keras mengungkapkan misteri ini, benih cinta mulai bersemi di hati Titus. Dia kasmaran pada Tabita. Dan cintanya ini ternyata tak bertepuk sebelah tangan meski mendapat tentangan dari ayah Tabita (F. Murray Abraham). Kedua sejoli ini lalu memutuskan untuk kawin lari, tetapi terlanjur diketahui sang ayah yang sangat murka. Dengan kalap, kepala Tabita dipukulnya dengan kayu sehingga terluka parah dan nyaris mati. Dalam kondisi tubuh yang sangat lemah, Tabita ingin didoakan oleh orang Kristen. Pada mulanya, permintaannya ditentang oleh ayahnya yang pemuka agama Yahudi. Namun mengingat mungkin itu permintaan terakhir Tabita, maka ayahnya mengizinkan Titus pergi ke Galilea untuk menemui komunitas Kristen di sana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di Galilea, Titus bertemu dengan Maria,--ibu Yesus--, Maria Magdalena dan Petrus. Titus memohon kepada Petrus supaya mau pergi ke Yerusalem untuk mendoakan Tabita. Dengan berat hati Petrus menolak permintaan itu karena di Yerusalem sedang ada penganiayaan terhadap orang Kristen. Dengan perasaaan kecewa Titus pulang ke Yerusalem dengan ditemani Braxus. Di tengah jalan mereka diserang suku yang tinggal di padang pasir. Braxus tewas demi menyelamatkan Titus.&lt;/p&gt; &lt;p class="rtecenter"&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Film ini adalah pembuatan ulang dari film berjudul &lt;i&gt;L'Inchiesta&lt;/i&gt;, yang dibintangi Keith Carradine dan Harvey Keitel, tahun 1986. Ada sejumlah aktor tenar yang bermain di sini seperti pemenang piala Oscar F. Murray Abraham, Dolph Lundgren dan nominator Oscar Max von Sydow. Sayangnya, sutradara tidak berhasil memaksimalkan kemampuan bermain peran masing-masing aktor. Sebagai contoh, akting yang diperlihatkan Murray Abraham ketika menghajar anak perempuannya bahkan hampir seperti aktor kemarin sore.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Adegan pertempuran juga tidak digarap dengan serius sehingga penonton tidak larut dalam ketegangan. Dolph Lundgren yang dikenal sebagai aktor laga hanya terlihat mengayun-ayunkan kapak yang terbuat dari bahan lunak. Demikian juga pedang dan senjata-senjata yang digunakan tidak ubahnya properti yang digunakan pada acara komedi Opera van Java. Terlihat sekali kepalsuannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anak-anak sebaiknya tidak menonton film ini karena menampilkan gambar darah dan mayat secara lugas. Sebagai contoh diperlihatkan adegan tentara Romawi yang sedang menusuk lambung Yesus. Darah bercampur air itu muncrat dari lambung-Nya. Meskipun Alkitab mencatat demikian, namun tentunya tidak harus divisualkan begitu jelas dan ;ugas. Demikian juga ketika sesosok mayat yang sudah menghitam ditampilkan. Hal ini dapat menimbulkan kengerian yang tak perlu di benak penonton.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://media.monstersandcritics.com/articles/1389435/article_images/dolph1.jpg" mce_src="http://media.monstersandcritics.com/articles/1389435/article_images/dolph1.jpg" alt=""&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Film yang berdurasi 90 menit ini aslinya bukan film untuk versi layar lebar. Film ini merupakan hasil pemampatan dari serial televisi berdurasi 200 menit yang diputar di Spanyol dan Italia. Maka bisa dipahami jika irama penceritaan agak tersendat-sendat, transisi antar scene terasa kurang mulus dan ada bagian tertentu yang tidak nyambung. Misalnya pada bagian akhir film tiba-tiba muncul tokoh Caligula yang licik. Ada kemungkinan pada versi aslinya memang terdapat sub plot tentang Caligula ini, namun sengaja dipotong dalam versi pendek ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di luar semua kekurangan itu, tema yang diangkut dalam film ini cukup unik dan menarik. Film yang dibuat oleh televisi Italia ini meneropong kisah kematian Yesus dari kacamata bangsa Italia [kekaisaran Romawi]. Di dalam penyelidikannya, Titus mengunjungi tempat-tempat yang disebutkan dalam Alkitab. Dia mendaki ke Golgota, menemui Stefanus di penjara, dan pergi ke Betania untuk mengecek makam Lazarus. Dia ingin menelisik kemungkinan adanya unsur subversi di balik penyaliban dan kebangkitan Yesus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Titus lalu menulis laporan pada kaisar Tiberius. Dia mengaku gagal menjalankan misinya. Meski begitu, Titus mengungkapkan bangkitnya sebuah kekuatan baru yang dapat menciptakan sebuah kerajaan baru. Jika kekaisaran Romawi memerintah dengan landasan ketakutan, maka kerajaan baru ini akan memerintah dengan kekuatan cinta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tiberius yang sekarat berhasil diyakinkan oleh Titus. Dia lalu mengeluarkan dekrit untuk mengangkat agama Kristen sebagai agama negara. Namun sesaat setelah dekrit dikeluarkan, kaisar Tiberius dibunuh oleh Caligula yang kemudian mengangkat dirinya sebagai kaisar yang baru. Tindakan pertama Caligula sebagai kaisar adalah membatalkan dekrit Tiberius dan memberikan hukuman mati terhadap Titus. Selamatkah Titus? Apakah Tabitha bertahan hidup? Apakah mereka bisa hidup bersama? Tak elok rasanya jika saya menuliskan di sini. Silakan tonton sendiri filmnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Thrillernya dapat dilihat di&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=FFkj5gPzX-w" mce_href="http://www.youtube.com/watch?v=FFkj5gPzX-w"&gt;&lt;b&gt; sini&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;   &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-5456486473278311820?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/5456486473278311820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/5456486473278311820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2010/02/pencarian-terakhir.html' title='Pencarian Terakhir'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_czc1O9-t1Xc/R7Kot_n-NWI/AAAAAAAAA54/b4MlefK441Y/s72-c/2007%2BFinal%2BInquiry%2Bbanner%2Bcrop.JPG' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-3222179690500706244</id><published>2010-02-19T08:12:00.000+07:00</published><updated>2010-02-19T13:36:42.959+07:00</updated><title type='text'>Bikin Seru Sekolah Minggumu</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/?action=view&amp;current=carajitu.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/carajitu.jpg" alt="Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggu" border="0" width="366" height="482"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;"Jangan bermain-main terus, ayo belajar." Kata-kata ini mungkin sering Anda dengar dari mulut orangtua. Pernyataan ini tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar. Dipandang dari sudut lain, bermain adalah proses belajar juga. Dengan bermain, seseorang mendapatkan pengetahuan dan meningkatkan keterampilan tertentu.Permainan dapat menjadi sarana belajar yang baik karena aktivitas dalam permainan melibatkan lebih banyak indera manusia. Dalam teori psikologi, semakin banyak indera manusia terlibat di dalam pembelajaran, maka tingkat pemahaman dan ingatan akan pelajaran itu semakin baik.Sementara itu, dalam teori tentang pembelajaran, dikenal ada tiga gaya belajar manusia. Pertama, orang yang belajar secara visual. Dia lebih dapat memahami pengetahuan yang baru dengan cara melihat. Misalnya, menyaksikan demonstrasi, mengamati benda atau melihat gambar. Kedua, gaya orang yang belajar dengan mendengarkan. Dia lebih banyak menyerap informasi dengan mendengarkan suara dan penjelasan dari orang lain. Ketiga, orang yang mendapatkan pengetahuan setelah mempraktikkannya secara langsung. Kadangkala dia juga banyak belajar dari kesalahan yang dilakukan. Untuk itulah, kita perlu menyediakan berbagai metode supaya setiap partisipan mendapat kesempatan untuk belajar sesuai dengan gaya belajar masing-masing. Dalam hal ini permainan dapat memberikan berbagai variasi untuk variasi.Setiap orang memiliki bermacam-macam kecerdasan, tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Hal demikian disampaikan oleh Prof. Howard Gardener saat melemparkan teori tentang "multiple intelligence" atau kecerdasan majemuk. Di dalam konsepnya, setiap orang memiliki banyak jenis kecerdasan, namun ada salah satu atau beberapa kecerdasan yang lebih menonjol. Sebagai contoh, ada anak yang kecerdasan logisnya lebih menonjol. Ada anak lain yang menunjukkan kemampuan luarbiasa di bidang musik. Itu sebabnya, seorang anak yang kesulitan dalam pelajaran berhitung tidak dapat dikatakan bahwa dia lebih bodoh daripada anak yang pandai dalam pelajaran berhitung. Bisa jadi anak ini memiliki kecerdasan yang menonjol di bidang lain. Itu sebabnya, Howard Gardener menganjurkan agar proses pembelajaran dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode sehingga mengasah berbagai jenis kecerdasan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/?action=view&amp;current=Permainan_Gloria4.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img style="border: 0pt none;" src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/Permainan_Gloria4.jpg" alt="Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggumu" border="0" width="302" height="371"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menurut Howard Gardener dalam setiap diri manusia ada 8 macam kecerdasan, yaitu:&lt;br&gt;1. Kecerdasan linguistik&lt;br&gt;2. Kecerdasan logis-matematis&lt;br&gt;3. Kecerdasan visual-spasial&lt;br&gt;4. Kecerdasan kinestetik&lt;br&gt;5. Kecerdasan musik&lt;br&gt;6. Kecerdasan interpersonal&lt;br&gt;7. Kecerdasan intrapersonal&lt;br&gt;8.  Kecerdasan naturalis&lt;p align="center"&gt;***&lt;/p&gt;Di dalam buku ini terdapat 77 permainan yang telah dibagi ke dalam 8 jenis kecerdasan. Permainan dalam buku ini dapat digunakan untuk memeriahkan suasana, memecahkan suasana yang beku di awal pertemuan dan menggairahkan kembali semangat partisipan yang mengalami kejemuan. Namun lebih dari itu, permainan tersebut juga dapat digunakan sebagai pemicu untuk mendiskusikan materi, pelajaran, pengetahuan atau informasi baru.Permainan dalam buku ini sengaja dirancang secara sederhana karena tidak memerlukan alat atau persiapan yang rumit. Bahkan ada beberapa permainan yang dapat dilakukan tanpa persiapan atau spontan. Saya berharap buku ini dapat menjadi "sahabat" bagi guru, pengajar sekolah minggu,&lt;em&gt; trainer&lt;/em&gt;, pembicara motivasi, pemimpin kelompok sel, pembimbing remaja, penyelenggara &lt;em&gt;outbond&lt;/em&gt;, dan siapa saja yang merindukan menciptakan suasana pertemuan menjadi meriah dan bermakna.Kritik, saran dan pujian saya nantikan di email saya: purnawank@gmail.com.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/?action=view&amp;current=Permainan_Gloria2.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img style="border: 0pt none;" src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/Permainan_Gloria2.jpg" alt="Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggumu" border="0" width="366" height="439"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Contoh Halaman Isi&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/?action=view&amp;current=Permainan_Gloria1.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img style="border: 0pt none;" src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/Permainan_Gloria1.jpg" alt="Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggumu" border="0" width="367" height="499"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-3222179690500706244?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3222179690500706244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3222179690500706244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2010/02/bikin-seru-sekolah-minggumu.html' title='Bikin Seru Sekolah Minggumu'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-7487338911594172343</id><published>2009-09-18T06:25:00.003+07:00</published><updated>2009-09-18T06:42:39.091+07:00</updated><title type='text'>Substansi dan Praktik Ibadah yang Segar</title><content type='html'>Oleh Sansulung John Sum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SrLHwla8fYI/AAAAAAAAARM/Vavo_-uCyyU/s1600-h/darsum_gravatar+OK.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382584142153940354" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 80px; CURSOR: hand; HEIGHT: 80px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SrLHwla8fYI/AAAAAAAAARM/Vavo_-uCyyU/s200/darsum_gravatar+OK.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;DENGAN&lt;/strong&gt; cekatan, Indra menyendok kuah sup yang masih hangat tersebut dan menyeruputnya. Terasa lezat di lidah. Lagi. Ia menyendok kuah beserta sayurnya. Tiba-tiba, ia bergeming sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi &lt;em&gt;gua udah&lt;/em&gt; berdoa apa belum ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu menggelayut di benaknya dan mengganggu sanubarinya. Indra lupa. Bukan lupa berdoa. Tapi, lupa bahwa ia sebenarnya sudah berdoa sebelumnya. Sudah berdoa &lt;em&gt;koq&lt;/em&gt; lupa, &lt;em&gt;hehe..&lt;/em&gt; Beberapa orang mungkin akan menghakimi, “Wah, pasti berdoanya &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt; dari hati &lt;em&gt;tuh&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jujur saja, kita pasti akrab dengan kejadian seperti yang dialami oleh Indra itu, bukan? Saya pernah mengalaminya. Siapa yang mau mengaku juga? Anda? Saya berani memastikan bahwa hampir semua dari kita pernah mengalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2001, saya mengerjakan &lt;em&gt;proofreading&lt;/em&gt; untuk buku &lt;strong&gt;Kebapaan &amp;amp; Pemuridan: Karakter yang Utama&lt;/strong&gt; yang diterbitkan oleh Metanoia. Buku berjudul asli &lt;strong&gt;Dadship and Discipleship&lt;/strong&gt; ini karya David E. Schroeder, pendiri MasterWorks yang membantu para murid di gereja-gereja lokal. Kami meminta Jonathan Pattiasina, Eddy Leo, dan Samiton Pangellah untuk memberikan &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; bagi buku ini sebelum diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tersebut, David menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi keluarga Ken yang baru saja mulai datang ke gereja yang digembalakannya. Ken berlatar belakang Yahudi dan baru menjadi Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam David mengunjungi mereka, Ken dan Nancy baru saja pulang dari toko bahan makanan. Setelah menaruh semua belanjaan ke atas meja, Ken menengok ke arah David dan berkata, “Pak, maukah Anda bersama-sama kami bersyukur kepada Tuhan atas makanan ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ken mulai menaikkan doa syukur atas makanan itu. David merasakan doanya sangat indah. Sebuah doa yang mengalir dari hati yang penuh penyerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, David bertanya kepada Nancy tentang kebiasaan yang tidak lazim itu. Nancy menuturkan bahwa mereka tidak berdoa setiap kali mau makan, tetapi selalu ketika mereka membeli bahan-bahan makanan. Ini semata-mata gagasan Ken yang menganggapnya sebagai kesempatan terbaik untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tersebut telah mengubah paradigma saya tentang “aturan” berdoa sebelum makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, saya makan siang bersama seorang teman. Pada suapan pertama, teman saya itu tiba-tiba bilang, “Wah lupa berdoa &lt;em&gt;nih&lt;/em&gt; gara-gara lapar &lt;em&gt;banget&lt;/em&gt;.” Saya pun menyahut, “&lt;em&gt;Gak&lt;/em&gt; apa-apa. Saya juga berdoanya tidak selalu sebelum makan. Tetapi, saya membiasakan diri beryukur atas setiap suapan yang saya makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, saya beryukur, “Terima kasih Tuhan atas sayur ini yang mengandung vitamin A”, ketika saya mengunyah sayur tersebut. Lalu, “Terima kasih Tuhan atas ayam yang enak ini” ketika saya mengunyah potongan ayam goreng tersebut. Seperti itulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada orang yang pernah melihat saya tidak berdoa sebelum makan dan heran atas hal itu. Karena itu, kadang-kadang saya juga berdoa sebelum makan supaya tidak menjadi syak bagi orang yang tidak mengerti kebiasaan saya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memahami substansi praktiknya, maka kita tidak lagi terpaku pada aturan-aturan tertentu yang terkadang malah kehilangan substansinya itu sendiri. Kebebasan untuk melakukan praktik rohani yang murni dapat menghasilkan praktik-praktik yang menyenangkan dan segar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-7487338911594172343?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7487338911594172343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7487338911594172343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2009/09/substansi-dan-praktik-ibadah-yang-segar.html' title='Substansi dan Praktik Ibadah yang Segar'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SrLHwla8fYI/AAAAAAAAARM/Vavo_-uCyyU/s72-c/darsum_gravatar+OK.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-3932223557364881989</id><published>2008-12-26T20:48:00.000+07:00</published><updated>2008-12-27T02:00:26.485+07:00</updated><title type='text'>Dumbeg</title><content type='html'>&lt;a title="gumbeg by purnawankristanto, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/21129429@N02/3139060924/"&gt;&lt;img src="http://farm4.static.flickr.com/3241/3139060924_44e5889e31.jpg" alt="gumbeg" vspace="3" width="218" align="left" height="164" hspace="3"&gt;&lt;/a&gt;Nama makanan ini agak unik dan menurut saya cukup lucu: "Dumbeg". Ketika pertama kali mendengar nama ini, pikiran saya segera membayangkan film kocak "Dumb and Dumberer". Setelah itu, saya teringat tradisi "Gumbregan" di desa saya. Setiap wuku Gumbreg dalam penanggalan Jawa, warga kampung saya menggelar ritual untuk mendoakan alat-alat pertanian seperti luku (bajak) garu, pacul, sabit dan sapi. Para petani mengeluarkan sesaji berupa nasi gudangan dan umbi-umbian rebus seperti uwi, gembili, suwek, garut, ganyong, singkong, ketela rambat, dll. Setelah didoakan, sesaji ini dibagikan secara merata kepada anak-anak kampung. Setelah itu mereka pindah ke rumah petani lain. Tradisi ini dilaksanakan setelah Maghrib. Anak-anak berkunjung dari rumah ke rumah sambil membawa bakul nasi untuk mengumpulkan makanan. Mirip dengan tradisi Halloween di mana anak-anak mengumpulkan permen dari rumah ke rumah.&lt;img style="width: 230px;height: 156px;" src="http://happyhomemaker88.files.wordpress.com/2007/10/ketupat2.jpg" alt="" vspace="3" align="right" hspace="3"&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kembali ke Dumbeg. Makanan ini terbuat dari tepung nasi yang dibumbui dengan gula kelapa, kemudian dibungkus menggunakan daun kelapa muda (janur) dengan cara dililitkan menyerupai kerucut. Setelah itu dikukus dengan matang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cara memakannya dengan memegang bagian bawah yang lancip, membuka lilitannya sedikit demi sedikit untuk menyantapnya hingga habis. Rasanya tentu saja manis, namun yang menarik adalah aroma pembungkusnya. Karena mengalami proses pemanasan, maka bau yang dimiliki oleh daun kelapa itu meresap ke dalam makanan. Hal ini menimbulkan aroma yang khas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain dumbeg, makanan lain yang dibungkus dengan janur adalah ketupat dan legondo. Kalau ketupat, tentu sudah banyak orang yang tahu. Bagaimana dengan legondo? Legondo adalah penganan yang terbuat dari ketan, yang bagian tengahnya diberi daging cincang, abon atau kalau pingin ngirit diberi parutan kelapa. Memang mirip sekali dengan lemper, namun dibungkus dengan janur dengan cara dililitkan membentuk silinder, lalu diikat dengan tali dari bambu. Setelah itu dikukus sampai masak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada zaman yang serba praktis ini, penganan jenis seperti ini tidak lagi populer karena cara membuatnya yang agak ribet. Karena ingin cepat, maka untuk membuat ketupat tidak lagi menggunakan bungkus janur, melainkan dibungkus plastik saja. Hal ini seperti ini sebenarnya kurang tepat karena aroma janur akan hilang dari ketupat. Selain itu, ketika mengalami pemanasan yang sangat tinggi, bungkus plastik ini akan mengalami perubahan kimiawi yang bersifat racun.&lt;img style="width: 191px;height: 143px;" src="http://www.geocities.com/siwajaya18/buntil-ayam.JPG" alt="" vspace="5" align="left" hspace="5"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain janur, nenek moyang kita telah menemukan berbagai jenis pembungkus makanan yang lebih ramah lingkungan dan sehat. Hampir semua suku di Indonesia mengenal daun pisang sebagai pembungkus makanan. Entah itu untuk makanan yang direbus, dibakar, dipanggang atau pun dipepes. Daun pisang juga menimbulkan aroma yang khas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dulu, di kampung saya menggunakan daun jati sebagai pembungkus nasi pada acara kenduri. Nasi yang masih panas dibentuk bulat seukuran bola voli, kemudian dibungkus dengan daun jati. Nasi yang masih panas, ketika bersentuhan dengan daun jati juga menimbulkan aroma yang enak. Daun talas juga dapat dipakai untuk membungkus makanan yang akan dipepes. Ada juga daun singkong yang dimanfaatkan untuk bungkus buntil.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi hendak dikata. Gerusan gelombang kapitalisasi telah meminggirkan kearifan lokal ini. Sekarang kita sulit menemukan tempe mentah yang masih dibungkus dengan daun jati. Kebanyakan tempe sudah dibungkus plastik dan menggunakan kedelai impor yang berbiji besar-besar. Bahkan sudah ada pengusaha yang membuka usaha pengalengan tempe. Dulu, saya masih menjumpai ibu-ibu yang menggendong segulung besar daun jati untuk dijual ke pasar. Sekarang sudah tergantikan oleh kertas dan plastik. Inikah yang disebut kemajuan zaman? Atau justru menuju kepada kehancuran peradaban?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekarang, nasi gudeg pun dibungkus menggunakan Styrofoam. Dulu, ketika mahasiswa, saya masih bisa menikmati nasi gudeg di atas pincuk daun pisang, dimakan dengan tangan telanjang. Rasanya nikmat sekali. Waktu kecil, anak-anak di kampung saya terbiasa makan nasi uduk dengan alas daun jati yang pada acara bersih desa. Dulu, pada acara Natal, konsumsinya dibungkus dengan daun pisang. Kami menyebutnya “Sedan Hijau” karena bentuknya mirip mobil sedan. Sekarang, konsumsi Natal dikemas dengan kardus, Styrofoam atau setidaknya kertas minyak. Ini sebuah kemajuan atau kemunduran? Entahlah. Yang jelas, kalau saya merindukan makanan zaman masih kecil, saya terpaksa harus menjelajah tempat-tempat yang lebih terpelosok lagi. Pertengahan tahun 2008, ketika mengirimkan air bersih ke GKJ Baran, Gunungkidul, kami disuguhi uwi, gembili dan kacang rebus. Saya seakan dibawa oleh kapsul waktu kembali ke masa 30 tahun yang lalu.&lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-3932223557364881989?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3932223557364881989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3932223557364881989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/12/dumbeg.html' title='Dumbeg'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm4.static.flickr.com/3241/3139060924_44e5889e31_t.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-5866700168324022058</id><published>2008-12-26T20:43:00.000+07:00</published><updated>2008-12-27T01:46:52.276+07:00</updated><title type='text'>Vox Populi, Vox Duit</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;Berkaitan dengan Pemilu 2009, Mahkamah Konstitusi membatalkan aturan pemakaian sistem nomor urut dalam penetapan calon anggota legislatif. Sebagai gantinya, maka digunakan suara terbanyak. Itu artinya, caleg yang bernomor urut nomor wahid tidak otomatis akan menjadi anggota DPR/D jika suara yang diraihnya tidak memenuhi bilangan yang ditetapkan. Sebaliknya, caleg yang bernomor buncit sekalipun masih ada peluang untuk menjadi anggota dewan.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Lalu apa implikasi dari ketentuan ini. Pertama, peraturan ini telah menihilkan kuota 30 persen bagi perempuan di lembaga wakil rakyat. Aturan baru ini ibarat sebuah pertarungan bebas. Siapa yang kuat, dia adalah yang menang. Secara sepintas hal ini kelihatan demokratis. Tapi jika ditilik lebih jauh, pertarungan bebas ini hanya dapat berlangsung fair jika dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kekuatan yang sama. Dalam kenyataannya, karena tertindas oleh sistem patriarkis selama bertahun-tahun, maka kelompok perempuan kurang memiliki sumber daya dan akses informasi yang dapat digunakan dalam pertarungan bebas ini. Jadi ini seperti pertarungan antara juara kelas berat dengan kelas bulu. Seperti antara pertarungan antara Daud dan Goliat. Sayangnya, dalam kehidupan zaman sekarang tidak selamanya dimenangkan oleh Daud.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Implikasi kedua, banyak politisi karbitan yang mendadak menjadi anggota dewan. Sistem baru ini memberi kesempatan kepada setiap orang yang memiliki dana yang besar atau popularitas yang mentereng untuk menjadi wakil rakyat. Orang yang sedang ngetop dan memiliki banyak penggemar seperti artis atau penyanyi punya peluang besar untuk menang. Orang yang punya banyak uang untuk dibelanjakan dalam bentuk iklan akan mudah meraih suara. Tapi bagaimana dengan kompetensi mereka? Saya tidak mengatakan semua selebritas atau orang kaya tidak punya kompetensi, tapi lihatlah saja buktinya artis-artis yang sekarang menjadi anggota dewan yang terhormat. Berapa banyak di antara mereka yang lantang menyuarakan kepedihan rakyat? Apakah mereka rajin mengikuti rapat-rapat dengar pendapat? Apakah mereka mampu menyerap aspirasi rakyat dan mengartikulasikannya dengan tepat? Kemampuan seperti ini tidak dapat diperoleh dengan sekejap, namun hasil dari tempaan dari pengalaman berorganisasi selama menjadi kader anggota partai.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Sebagai gambaran, ketika pergi ke Solo Baru, saya melihat poster kampanye seorang caleg dari partai moncong putih yang menampilkan seorang mantan “pendeta” berinisial SH. Dia dulu berasal Muslim. Dan ketika dia menganut agama Kristen, maka terjadilah kehebohan, apalagi namanya berbau Arab. Banyak yang gereja segera mengundangnya untuk memberikan kesaksian. Kaset VCD kesaksiannya laku keras. Bahkan ada sebuah denominasi gereja yang kemudian menahbiskannya menjadi pendeta.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Namun jabatan kependetaan ini tidak berlangsung lama, karena SH ini kemudian kembali merasuk agama Muslim. Gereja yang dipimpinnya sekarang sudah ditutup. Sekarang wajahnya terpampang dengan megah pada berlembar-lembar poster di pinggir jalan. Dia  berjanji akan membela rakyat. Dengan melihat kelakuannya seperti itu, apakah kita rela diwakili olehnya. Saya tidak mempersoalkan kepindahannya menjadi penganut Muslim. Bagi saya, perpindahan iman adalah masalah personal, antara orang tersebut dengan Tuhannya. Tidak ada orang lain yang bisa berdiri di tengah-tengah. Jika ada orang beragama lain yang mengakui Kristus sebagai Juruselamatnya, saya pasti akan bergembira. Sebaliknya, jika ada orang Kristen yang merasuk iman lain, jika itu membuatnya menjadi orang yang lebih baik dan saleh, maka saya dapat memahami tindakannya.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Yang membuat saya heran adalah mengapa dia bisa menjadi caleg dari partai tersebut. Apakah dia dicalonkan setelah menjadi kader partai tersebut? Atau karena prestasi tertentu? Atau dari faktor lain? Entahlah saya tidak punya data yang akurat. Tapi sejauh pengamatan saya, sekarang ini semakin banyak orang yang mendadak menjadi politisi. Tanpa pengalaman dalam dunia politik, tiba-tiba poster mereka terpampang dengan megahnya.&lt;/div&gt;  &lt;div&gt;Secara umum, sebagian besar pemilih di Indonesia tidak melihat program yang ditawarkan oleh kandidat sebagai dasar dalam memilih. Mereka lebih terpengaruh oleh sentimen kelompok (agama, suku, aliran, dll), pengaruh pimpinan infomal dan [mungkin] uang. Kandidat yang mampu menampilkan orkes campursari atau dangdut lebih berpotensi meraup suara daripada kandidat yang menggelar acara debat/dialog program. Itu sebabnya, tidak dibutuhkan kemampuan berorasi atau berorganisasi untuk menang dalam Pemilu nanti. Siapa yang bisa menyentuh emosi dasar manusia, dialah yang akan menang. Vox Populi, Vox Duit&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-5866700168324022058?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/5866700168324022058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/5866700168324022058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/12/vox-populi-vox-duit.html' title='Vox Populi, Vox Duit'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-3335715463870785098</id><published>2008-12-24T20:21:00.000+07:00</published><updated>2008-12-25T01:24:08.612+07:00</updated><title type='text'>Banser Amankan Gereja</title><content type='html'>&lt;br&gt;&lt;p&gt;Kebaktian malam Natal di Klaten berlangsung dengan aman, tenteram, dan tanpa insiden yang berarti. Pada malam Natal ini GKI Klaten terpaksa mengadakan kebaktian selama dua kali karena keterbatasan tempat. Kebaktian pertama dimulai pukul 18.00 dan kebaktian kedua pada pukul 22.00 WIB.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada siang harinya, kami sempat dibuat was-was dengan inspeksi keamanan dari pihak kepolisian sampai sebanyak tiga kali. Tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya belum pernah diadakan inspeksi seperti ini. Pemeriksaan pertama dilakukan oleh tim Gegana pada pukul 10.00 pagi. Mereka memeriksa seluruh bangku-bangku gereja, mengecek setiap pot dan melongok setiap kolong dan bawah panggung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Enam jam kemudian, datang lagi tim dari kepolisian. Kami mengatakan bahwa gereja sudah diperiksa oleh tim Gegana, tetapi mereka tetap ingin memeriksa sekali lagi. "Untuk memastikan supaya situasi aman,"kata pimpinan rombongan. Kami persilakan mereka mengerjakan perintah atasan. Toh tidak ada sesuatu yang mengganggu persiapan kami. Menggunakan detektor metal, mereka sekali lagi memeriksa gedung gereja. Menurut saya, alat itu sebenarnya tidak berfungsi efektif karena banyak metal logam di gereja yang pasti akan membuat alat itu aktif. Tapi toh tak mengapa.Setidaknya penggunaannya dapat menciptakan rasa aman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang mengherankan, satu jam kemudian Kapolres Klaten beserta dengan stafnya meninjau lagi kesiapan kami. Ini baru pertama kali perwira polisi tertinggi di Klaten memeriksa langsung pengamanan Natal. Dalam hal ini kami sebagai warga masyarakat dan warga negara merasa berterimakasih dan terlindungi. Namun hati kecil merasa sedikit heran apakah harus dilakukan pemeriksaan secara beruntun? Ada apa gerangan? Apakah ada sesuatu yang membuat aparat keamanan harus waspada?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan ini menggantung di benak sebagian panitia hingga pelaksanaan kebaktian. Kebaktian  I dihadiri lebih dari 300 orang. Seluruh kursi terisi penuh. kebaktian yang dilayani oleh pdt. Pelangi Kurnia Putri ini diiringi oleh musik Ensemble Gitar. Ada enam pemuda yang mengiringi pujian menggunakan gitar akustik. Sedangkan Kebaktian II yang dipimpin oleh pdt. Phan Bie Thon dihadiri lebih sedikit jemaat. Meski begitu, 90 persen kapasitas tempat duduk terisi oleh anggota jemaat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain mendapat bantuan pengamanan dari kepolisian, kami juga mendapat pengamanan dari Banser (Barusan Serbaguna) dari NU. Ada puluhan pemuda Muslim berpakaian doreng-doreng yang ikut berjaga di depan gereja. Selama ini, gereja kami memang menjalin hubungan baik dengan rekan-rekan dari NU. Setiap mengadakan Pasar Murah, kami sering melakukannya bersama-sama dengan para santri dan Pondok Pesantren "Pancasila Sakti", pimpinan kyai karismatik mbah Lim. Itu sebabnya, pada malam Natal ini, mereka menawarkan diri untuk ikut menjaga keamanan selama ibadah berlangsung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lihiat videonya &lt;a href="http://www.beoscope.com/video-kebaktian-malam-natal?id=20080002124"&gt;di sini&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="PIC_1022 by Aktivitas GKI Klaten, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/31374381@N03/3133822182/"&gt;&lt;img style="width: 357px;height: 269px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3293/3133822182_c52691e9ac.jpg" alt="PIC_1022"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibadah Malam Natal, 24 Desember di GKI Klaten  &lt;a title="PIC_1024 by Aktivitas GKI Klaten, on Flickr" href="http://www.flickr.com/photos/31374381@N03/3133822194/"&gt;&lt;img style="width: 355px;height: 267px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3249/3133822194_332c8d3860.jpg" alt="PIC_1024"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengamanan dari Banser NU&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-3335715463870785098?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3335715463870785098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3335715463870785098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/12/banser-amankan-gereja.html' title='Banser Amankan Gereja'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm4.static.flickr.com/3293/3133822182_c52691e9ac_t.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-1445115634228407454</id><published>2008-12-15T23:35:00.001+07:00</published><updated>2008-12-15T23:40:49.012+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;embed src="http://www.liputan6.com/video/player.swf" width="450" height="380" bgcolor="#FFFFFF"allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" flashvars="file=http://www.liputan6.com/video/playlist.php%3Fprogram%3Dnews%26id%3D169869%26m_id%3D771213&amp;plugins=ltas&amp;channel=386&amp;autostart=true"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-1445115634228407454?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1445115634228407454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1445115634228407454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/12/blog-post.html' title=''/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-2734125388024390618</id><published>2008-11-24T12:30:00.003+07:00</published><updated>2008-11-24T15:06:55.448+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pelatihan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='literatur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penulisan'/><title type='text'>Video Latihan Observasi</title><content type='html'>Saya diundang oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), Solo untuk memberi pelatihan kepada staf mereka. Kalau Anda menggunakan program alkitab elektronik SABDA, Anda pasti mengenal lembaga ini.&lt;br /&gt;Salah satu teknik yang diajarkan dalam pelatihan itu adalah pengumpulan data menggunakan metode observasi. Berikut rekaman videonya.&lt;span class = "fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;embed src="http://images.multiply.com/multiply/multv.swf" type="application/x-shockwave-flash" flashvars="first_video_id=purnawankristanto:video:53&amp;amp;base_uri=multiply.com&amp;amp;is_owned=1&amp;amp;security=3K%2BV3AlFv6XN1lYyK3VkUQ" allowfullscreen="true" wmode="transparent" quality="high" width="480" height="420"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;br /&gt;Video: &lt;a href="http://purnawan.web.id/"&gt;Purnawan Kristanto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nonton&lt;a href="http://beoscope.com/"&gt; Bioskop&lt;/a&gt; Gratis!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-2734125388024390618?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2734125388024390618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2734125388024390618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/11/video-latihan-observasi.html' title='Video Latihan Observasi'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-2741609058994888946</id><published>2008-11-24T12:26:00.008+07:00</published><updated>2008-11-24T15:13:49.056+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='literatur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penulisan'/><title type='text'>Teknik Membaca Cepat</title><content type='html'>Oleh Purnawan Kristanto&lt;br /&gt;Ketika mengumpulkan bahan-bahan dari sumber sekunder, Anda tidak mungkin membaca keseluruhan bahan sebelum memastikan akan memakai bahan tersebut atau tidak. Ibarat sedang belanja bahan, Anda tidak mungkin meneliti semua bahan masakan yang ada di pasar. Anda harus memeriksa dan memutuskan dengan cepat. Dalam hal ini dibutuhkan keterampilan membaca cepat.&lt;span class = "fullpost"&gt; &lt;p class="bodytext" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://musicforchange.com/cms/images/speedreading.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 181px; height: 131px;" src="http://musicforchange.com/cms/images/speedreading.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Syarat utama untuk dapat membaca cepat adalah Anda mengetahui dengan persis bahan apa yang sedang Anda cari. Ketika masuk ke pasar, Anda sudah punya daftar belanjaan. Dengan demikian Anda mudah mencari bahan-bahan. Jika Anda akan memasak steak, maka Anda segera pergi ke bagian daging. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;br /&gt;&lt;p class="bodytext" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Langkah pertama adalah melakukan pemindaian secara cepat. Anda hanya mencari bagian-bagian yang Anda butuhkan. Ini seperti Anda melihat papan penunjuk los-los di pasar. Anda berjalan dengan cepat dengan tidak menghiraukan barang-barang dagangan yang dipajang. Begitu Anda melihat papan penunjuk bertulis "daging sapi", barulah Anda berhenti, kemudian memperhatikan barang dagangan secara mendetil. Analogi serupa dilakukan ketika membaca bahan pustaka. Anda mencari "papan penunjuk", biasanya berupa judul bab, sub judul atau kata-kata kunci. Ketika sampai pada bagian yang dikehendaki, barulah Anda membacanya dengan tempo yang lebih lambat sehingga dapat memahami isinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ketika Anda membaca uraian secara terperinci, Anda masih perlu menguasai keterampilan membaca yang efisien. Pada saat mulai belajar membaca, kita diajari untuk mengeja huruf demi huruf atau membaca kata demi kata. Ketika kita merasa tidak yakin telah membaca dengan benar, maka kita mengulang lagi kata atau kalimat yang telah kita lewati. Hal ini jelas menyita waktu dan menguras energi. Bayangkanlah otot bola mata Anda harus bekerja keras karena bolak-balik bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Seorang pembaca yang terlatih akan membaca beberapa kata dalam satu blok. Matanya hanya berhenti sejenak pada sebuah blok kemudian berpindah ke blok berikutnya. Dia jarang sekali kembali ke blok sebelumnya. Cara ini akan menghemat waktu dan menambah jumlah informasi yang dapat diserap oleh otak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Hambatan lain dalam membaca cepat adalah kebiasaan membaca dengan bibir bergerak-gerak. Gerakan otot lebih lambat daripada kecepatan gerak otak. Jika kita membaca dengan gerakan bibir, maka otak dipaksa melambatkan kecepatannya untuk menyesuaikan diri dengan gerakan bibir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-family:Garamond;font-size:12;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;font-size:12;"  &gt;Teknik SQ3R&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Teknik ini sangat membantu kita dalam menyerap informasi tertulis. Bagaimana caranya? Teknik ini menggunakan metode penahapan dalam membaca.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Survey&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Lakukan pemindaian terhadap daftar isi, pendahuluan, bab pertama/pengantar dan bagian ringkasan untuk mendapatkan gambaran umum isi buku. Tentukan apakah Anda akan menggunakan bahan ini atau tidak. Jika ya, maka Anda bisa melangkah ke tahap berikut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Question&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Buatlah daftar pertanyaan yang berkaitan dengan bahan-bahan yang sedang Anda cari. Pertanyaan ini dapat digunakan sebagai tujuan utama di dalam membaca buku tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Read&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Sekarang bacalah isi buku tersebut. Lewati bagian yang kurang menarik. Ketika sampai bagian yang dapat digunakan sebagai bahan penulisan, bacalah dengan cermat. Dalam hal ini Anda boleh membaca dengan tempo lambat, terutama jika pembahasannya sulit dipahami. Ketika membaca, jangan lupa untuk mencatat bagian-bagian yang menarik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Recall&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ketika Anda membaca uraian yang Anda butuhkan, maka pahami isinya dan ingat-ingatlah bagian itu. Simpanlah kata-kata kunci di dalam ingatan Anda. Proses ini sangat penting jika Anda akan melakukan parafrasa bacaan tersebut sehingga tidak melanggar hal cipta karena melakukan plagiat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Review&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Setelah mengingat-ingat, Anda dapat beralih ke tahapan terakhir yaitu mengulas materi yang Anda dapatkan. Tindakan ini dapat dilakukan dengan membaca ulang uraian dalam buku tersebut, mengembangkan catatan Anda atau mendiskusikannya dengan orang lain. Cara lain yang sangat efektif adalah mengajarkan informasi itu kepada orang lain. Dengan cara ini, Anda akan semakin ingat informasi yang Anda ajarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-2741609058994888946?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2741609058994888946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2741609058994888946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/11/teknik-membaca-cepat.html' title='Teknik Membaca Cepat'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-4905126147758060725</id><published>2008-11-24T11:54:00.004+07:00</published><updated>2008-11-24T15:14:59.658+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='literatur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penulisan'/><title type='text'>Teknik Mengumpulkan Bahan Tulisan</title><content type='html'>&lt;p class="Blessing" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Anda tidak akan membuang waktu dengan sia-sia jika Anda menggunakan pengalaman dengan bijaksana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="Blessing" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: right; text-indent: 0cm;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Auguste Rodin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;color:black;"  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;color:black;"  &gt;Sebuah artikel di situs www.sabda.org mengibaratkan menulis cerita sebagai usaha menyiapkan hidangan perjamuan makan. Penulis mengutip Matius 22:4, “Sesungguhnya, hidanganku telah kusediakan ... semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan." &lt;span class = "fullpost"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://purnawankristanto.multiply.com/photos/album/41/Outing_Office_YLSA#14"&gt;&lt;img style="width: 234px; height: 175px;" src="http://images.purnawankristanto.multiply.com/image/2/photos/41/500x500/14/ylsa-13.JPG?et=t%2BnvnUetKHl1Kn%2B%2BiYyckA&amp;amp;nmid=134089732" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt; &lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;color:black;"  &gt;Keberhasilan suatu perjamuan ditentukan oleh persiapan-persiapan yang telah dibuat. Tidak ada seorang tamu pun yang telah diundang ke suatu perjamuan, yang akan senang bila ia tiba di tempat perjamuan dan mendapati bahwa belum ada persiapan apa-apa. Kurangnya persiapan menunjukkan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;color:black;"  &gt; kurangnya perhatian kepada tamu yang diundang. Persiapan yang banyak bagi kesenangannya akan menyebabkan tamu itu merasa dirinya dipentingkan. Tentunya setelah selesai, dia akan meninggalkan pesta itu dengan mengatakan, "Perjamuannya baik sekali. Saya benar-benar menikmatinya!" &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;color:black;"  &gt;Benar, persiapan yang cukup adalah langkah pertama untuk menentukan apakah suatu usaha akan berhasil. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;color:black;"  &gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style=";font-family:Garamond;color:black;"  &gt; pepatah, “Jika &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;kita gagal melakukan persiapan, maka sebenarnya kita telah melakukan persiapan untuk gagal.” Persiapan yang baik adalah setengah perjalanan menuju kesuksesan. Prinsip yang sama juga berlaku dalam menulis. Persiapan menulis memakan waktu dan usaha. Namun, persiapan itu sangat penting bagi keberhasilan! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Sebelum memasak, seorang koki harus menentukan menu masakannya lebih dulu. Demikian juga, seorang penulis harus menetapkan “menu tulisan” lebih dulu. Jika menu sudah dibuat, maka tindakan berikutnya adalah pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan yang diperlukan. Anda bisa berbelanja bahan-bahan cerita di pasar ide. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; tiga jenis pasar ide, yaitu pasar ingatan, pengamatan dan riset. Pada sessi pertama kita sudah mengulas dan mempraktikkan belanja bahan dari pasar ingatan. Sessi berikut, kita akan berbelanja di dua pasar yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;I. PASAR PENGAMATAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Meskipun ingatan dapat menjadi sumber cerita yang kaya, tetapi Anda tidak semua hal masuk ke dalam ingatan Anda. Contohnya, kalau Anda dibesarkan di gunung, Anda mungkin tidak punya kenangan atas kehidupan di laut. Kalau Anda lahir dan besar di &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;, Anda mungkin tidak memiliki kenangan atau pengalaman sebagai penggembala. Untuk itu, Anda dapat memakai teknik pengamatan atau &lt;i style=""&gt;observasi&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;a. Pengamatan Objek&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Di dalam kemiliteran sebelum menyerbu sebuah &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;, sang perwira biasanya mengirimkan unit mata-mata untuk menyusup ke sasaran serbu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tugas mereka adalah mengamati situasi di dalam &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;kota&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; dan mengumpulkan informasi intelijen sebanyak-banyaknya. Misalnya mencatat keadaan jalan, pembangkit listrik, instalasi militer, sarana komunikasi, jumlah penduduk dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Mirip dengan agen spionase, dalam metode ini Anda mendatangi sebuah tempat dan mencatat apa saja yang menonjol dan berkesan bagi Anda. Berikut caranya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;a.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bawalah bloknot dan alat tulis. Datangilah sebuah tempat yang ingin Anda amati, kemudian tentukan sudut pandang Anda. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; empat sudut pandang:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 27pt; text-indent: 9pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;a.1. Sudut pandang wisatawan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 54pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Posisi mata Anda sejajar dengan objek yang akan diamati. Anda dapat mengamati salah satu sisi objek yang diamati: sebelah muka, belakang dan samping.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;a.2. Sudut pandang burung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 54pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Posisi mata Anda di atas objek yang diamati. Misalnya, Anda mengamati lapangan parkir dari puncak gedung, menyaksikan pertandingan sepakbola dari tribun atas, melihat perkotaan dari pesawat terbang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;a.3. Sudut pandang katak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 54pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Posisi mata Anda di bawa objek yang diamati. Misalnya, Anda melihat patung jenderal Sudirman di Jakarta, melihat puncak Monas, memeriksa kolong mobil dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;a.4. Sudut pandang komidi putar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 54pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Pada komidi putar, kita dapat melihat seluruh sisi objek karena objek itu berputar. Karena tidak semua objek dapat diputar, maka dalam hal ini si pengamatlah yang berputar. Ia mengelilingi objek untuk mengamati semua sisinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;b. Perhatikan objek tersebut dan tuliskan apa saja yang dapat Anda &lt;i style=""&gt;lihat&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;dengar&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;cium&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;rasa&lt;/i&gt;. Pergunakan semua indera yang Anda miliki. Sama seperti dalam curah gagasan, Anda tidak perlu memusingkan masalah susunan kalimat, penulisan ejaan, alur logika dll. Tugas pokok Anda adalah menuliskan kesan dominan yang tertangkap oleh indera-indera Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;c. Setelah 15 menit, bacalah catatan yang Anda buat. Lihat objek yang diamati sekali lagi, untuk mengetahui jika ada sesuatu yang ketinggalan untuk dicatat. Akhirnya, tuliskan komentar singkat berdasarkan catatan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Contoh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Lokasi: Alun-alun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Waktu: 15.00-17.00&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Cuaca: Cerah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Lapangan berdebu. Rumput kering karena lama tidak turun hujan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Anak-anak laki-laki asyik bermain sepakbola. Bolanya sudah butut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ibu mengajak bayi jalan-jalan sambil menyuapi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Bau busuk tercium dari selokan yang mampet&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Udara terasa hangat, angin berembus semilir&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Seorang pengamen asyik menghitung hasil ngamennya di bawah pohon beringin&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Seorang anak menangis keras minta jajan es krim&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-left: 36pt; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;·&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Penjual sate keliling membakar sate ayam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; &lt;i style=""&gt;di atas gerobak dorongnya. Baunya enak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;b. Pemetaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Jika Anda memiliki &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;gaya&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; belajar visual, maka Anda dapat melakukan pengamatan dengan membuat sketsa peta. Anda menggambarkan situasi yang Anda amati dengan coretan-coretan tertentu. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; tiga jenis peta dasar:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Peta spasial&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;. Jenis ini yang paling mudah dibuat karena sama dengan peta konvensional yang selama ini kita kenal. Sang pembuat peta melihat objek-objek, kemudian menempatkannya pada sebidang kertas dengan jarak yang proporsional dengan benda yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Peta aktivitas&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;. Jenis ini masih memanfaatkan peta spasial, namun sang pengamat membuat catatan tentang pergerakan objek yang diamati dengan menggambar garis putus-putus yang menghubungkan antar lokasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Peta figuratif&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;. Peta jenis ini menggambarkan objek dengan perspektif dua atau tiga dimensi. Teknik ini membutuhkan keterampilan menggambar yang di atas rata-rata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin-top: 6pt; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;2. PASAR RISET &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; pepatah mengatakan, “&lt;i style=""&gt;Learn from other people's mistakes, life isn't long enough to make them all yourself&lt;/i&gt;.” Meski kelihatannya bercanda, tapi ada kebenaran indah di dalam kebenaran ini. Kita harus belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan mereka saja, tetapi juga dari keberhasilan mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Dengan belajar dari orang lain, kita bisa menghemat waktu, biaya dan sumberdaya lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin belum pernah melihat &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;padang&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; rumput di &lt;/span&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Israel&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; karena untuk pergi ke &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;sana&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; membutuhkan ongkos besar. Hal ini dapat disiasati dengan riset, yaitu meminta informasi dari orang lain. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; beberapa langkah yang baik untuk memulai riset:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Mulailah dengan &lt;i style=""&gt;perpustakaan pribadi&lt;/i&gt;. Kumpulkan kliping dari berbagai macam koran dan majalah yang menarik. Selain itu, Anda pun perlu melengkapi perpustakaan dengan buku‑buku tafsir yang baik, telaah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kamus‑kamus, konkordansi lengkap, ensiklopedia dan bermacam buku teologia, sejarah, arkeologi, penelitian penulis lain, geografi, kebudayaan dan lain sebagainya. Makin lengkap perpustakaan Anda, makin mudah Anda dalam membuat cerita menulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Gunakan &lt;i style=""&gt;sumber‑sumber informasi&lt;/i&gt;. Di Indonesia ada LINK (Lembaga Informasi Kristen), Pusat Perpustakaan Nasional dan sebagainya. Nah, mengapa kita tidak memanfaatkan sumber‑sumber informasi yang bisa memperkaya dan memberi bobot pada cerita Anda?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Mengunjungi para pakar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;. Di samping sumber‑sumber tertulis di atas, Anda pun bisa mendapatkan informasi dari berbagai pakar menurut bidang keahlian mereka masing‑masing. Mereka biasanya senang membagikan ilmu dan keahlian yang mereka miliki, asal kita menanyakan secara sopan serta menjelaskan untuk apa informasi yang kita tanyakan itu. Kalau sumber 'hidup' ini jaraknya dekat, kita bisa langsung datang ke rumahnya dengan perjanjian lebih dulu. Kalau jaraknya jauh, dan cerita dikejar oleh &lt;i style=""&gt;deadline&lt;/i&gt;, Anda bisa menyuratinya lebih dulu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0cm 0.0001pt 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Akses internet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;. Kalau Anda memiliki komputer, modem dan saluran telepon, maka Anda bisa “menjelajahi dunia”. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; informasi melimpah yang bisa didapatkan dari internet. Gunakan &lt;i style=""&gt;search engine&lt;/i&gt; semacam Google.com, Yahoo.com, Ask.com untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-4905126147758060725?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/4905126147758060725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/4905126147758060725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/11/teknik-mengumpulkan-bahan-tulisan.html' title='Teknik Mengumpulkan Bahan Tulisan'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-6319557740292165735</id><published>2008-11-24T11:34:00.006+07:00</published><updated>2008-11-24T15:09:57.151+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='literatur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penulisan'/><title type='text'>Teknik Menulis Cepat</title><content type='html'>&lt;span class = "fullpost"&gt;&lt;div style="FONT-STYLE: italic; TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;a href="http://purnawan.web.id/"&gt;Oleh Purnawan Kristanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam. Jika saat ini Anda masih menulis tentang Obama, maka tulisan Anda tidak akan diminati karena momentumnya sudah lewat.  &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Untuk itu, kita perlu menguasai teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan ingatan (memori) kita sebagai bahan tulisan. Jika kita masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi ters&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Berikut contohnya:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-LEFT: 0cm; TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Bunga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-LEFT: 0cm; TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Tukang Kebun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-LEFT: 0cm; TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Sederhana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-LEFT: 0cm; TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Anak banyak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-LEFT: 0cm; TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Nakal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-LEFT: 0cm; TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Polisi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;endat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0cm"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;a. Kode Kata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah dengan memilih kata kunci dari tema cerita atau &lt;i&gt;premise&lt;/i&gt; yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman yang Anda memiliki.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-LEFT: 0cm; TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Kegaduhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang &lt;i&gt;kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari tema tulisan hendak Anda buat. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0cm"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;b. Curah Gagasan (&lt;i&gt;Brainstorming&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Contoh:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Rasul Petrus menjala ikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Yesus ikut makan ikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ikan bakar bebas kolesterol&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Memancing itu asyik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Menjala hasilnya lebih banyak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Yunus pernah ditelan oleh ikan besar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="TEXT-INDENT: 26.95pt"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Hati-hati tertusuk duri ikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan diantara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang &lt;i&gt;petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0cm"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;c. Menulis Bebas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; dua teknik yang dapat digunakan. Pertama, menggunakan kode kata sebagai panduannya. Kedua, menulis bebas secara total. Anda menulis seperti mengikuti air yang mengalir. Anda tidak tahu dan tidak meriasukan kemana tujuan akhir dari aliran itu. Yang penting Anda menuangkan apa saja yang terekam di benak Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Contoh:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-ALIGN: left" align="left"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Hmmm….cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;st1:state&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;n Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang &lt;i&gt;ngelantur &lt;/i&gt;kemana-mana. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang &lt;i&gt;menyambut kedatangan Yesus&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 0cm"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;d. Pemetaan Pikiran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Pemetaan pikiran (&lt;i&gt;mind mapping&lt;/i&gt;) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. &lt;i&gt;Mind mappin&lt;/i&gt;g memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN: 6pt 0cm 0pt 18pt; TEXT-INDENT: -18pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Catat poin utama, pikiran atau ide utama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN: 6pt 0cm 0pt 18pt; TEXT-INDENT: -18pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang &lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.george-spencer.notts.sch.uk/LeadingEdge_Website/L2L/images/LearningPower_MindMap.gif"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 219px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 195px" alt="" src="http://www.george-spencer.notts.sch.uk/LeadingEdge_Website/L2L/images/LearningPower_MindMap.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN: 6pt 0cm 0pt 18pt; TEXT-INDENT: -18pt"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;·&lt;span style="font-family:';font-size:7;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;MENULIS BUKU JURNAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 27pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Seorang penulis wajib memiliki dan selalu membawa buku kecil (atau PDA) kemana pun dia pergi. Inilah yang disebut buku jurnal. Buku ini berbeda dengan buku harian (&lt;i&gt;diary&lt;/i&gt;) yang mencatat segala kegiatan fisik setiap hari. Buku ini merupakan catatan dari aktivitas otak kita. Buku ini mencatat semua hal yang terlintas di otak Anda, entah itu ide, kegelisahan, pergumulan, pengalaman atau kekesalan Anda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 27pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ilham atau ide itu bisa datang kapan saja, tanpa diundang dan tak bisa ditolak. Ketika ide itu datang, kita harus segera mencatatnya. Jangan pernah mempercayai ingatan Anda, karena ingatan kita ini sangat terbatas. Jika kita lalai mencatat dan tidak ingat lagi ide tersebut, maka kita telah melepas angsa yang bertelor emas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 27pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Dengan selalu mengantongi buku jurnal, ada dua keuntungan yang Anda dapatkan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 27pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Pertama, melatih keberanian Anda untuk menulis. Buku jurnal memberikan kebebasan menulis sebebas-bebasnya karena hanya Anda yang akan membacanya. Jadi tidak perlu takut dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. &lt;/span&gt;&lt;st1:city&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt; pepatah:&lt;i&gt;practice make perfect&lt;/i&gt; (kita bisa karena terbiasa).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-TOP: 6pt; TEXT-INDENT: 27pt"&gt;&lt;span style="font-family:Garamond;"&gt;Kedua, menyediakan sumber tulisan. Setiap bulan saya harus menulis 11 renungan untuk renungan &lt;i&gt;Blessing&lt;/i&gt;. Saya selalu menggunakan jurnal yang saya tulis di blog saya sebagai bahan penulisan.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Karena sudah terbiasa menulis jurnal, hal iru memudahkan saya untuk mencari bahan tulisan dengan cepat.&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;Meski efeknya tidak langsung, tetapi menulis jurnal dapat mendukung kita ketika ingin menulis dengan cepat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-6319557740292165735?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/6319557740292165735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/6319557740292165735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/11/teknik-menulis-cepat.html' title='Teknik Menulis Cepat'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-2919228723762645723</id><published>2008-10-29T05:54:00.005+07:00</published><updated>2008-11-08T08:33:16.295+07:00</updated><title type='text'>Aman di Mana-Mana Tatkala Tiada yang Aman</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SQeiFYXPxMI/AAAAAAAAAOY/tNvBAkD1By0/s1600-h/C4151968.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5262352902928712898" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 128px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SQeiFYXPxMI/AAAAAAAAAOY/tNvBAkD1By0/s200/C4151968.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Johannes Darsum, literature minister&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah kerajaan-Mu, kehendak-Mu jadilah. Kerajaan Allah sudah datang dan sedang datang. Bagaimanakah bentuk kehadiran kerajaan Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerajaan Allah adalah Kehidupan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Allah hadir dalam bentuk “kehidupan”. Melalui kesaksian kitab-kitab Injil, kita mendapati bahwa hati Yesus senantiasa terarah kepada kehidupan. Kerajaan Allah sudah datang dan sedang datang. Kerajaan Allah sudah datang dalam teladan kehidupan-Nya. Akulah kehidupan, kata-Nya (Yohanes 14:6). Kerajaan Allah juga sedang datang ke dalam kehidupan setiap orang yang mau menyambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Allah hadir dalam bentuk kehidupan, bukan dalam bentuk agama. Sistem keagamaan, dan pemuka agama justru kadang kala menghalangi kehadiran kerajaan Allah. Bukan kehidupan yang ada di dalam mereka, tetapi kematian (Matius 23:27). Itulah yang hendak direformasi oleh Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berulang kali mendobrak sistem keagamaan yang dibangun oleh pemuka agama dan kalangan elite Yahudi. Puncaknya adalah kemarahan-Nya terhadap praktik “sertifikasi” halal yang &lt;span class="fullpost"&gt;menguntungkan kelompok mereka sendiri (Matius 21:12-13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelaan-Nya kepada kehidupan tergambar jelas dalam kejadian di ladang gandum (Markus 2:23-28), di sinagoge (Markus 3:1-6), di rumah pemimpin orang Farisi (Lukas14:1-6), dalam penggerebekan perempuan yang berzinah (Yohanes 8:1-11), dan banyak kejadian lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kehidupan adalah Keamanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tempat yang aman. Tidak di Indonesia. Tidak di Amerika. Kejadian mutakhir membuktikannya. &lt;em&gt;Everything is risky,&lt;/em&gt; kata pakar Risk Management Larry Laudan. Segala sesuatu beresiko, tidak ada yang aman. Namun, bagi orang yang memiliki kehidupan, resiko sebesar apapun tidak lagi menakutinya. Ya, karena Anda kini lebih hidup, sungguh hidup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang dapat menghalangi Anda. Seperti Yesus yang tidak mau dihalangi oleh siapa dan apapun demi kehidupan. Begitulah teladan kehidupan-Nya, hidup dalam segala kelimpahan (Yohanes 10:10). Di dalam “kehidupan” yang seperti itu, di dalam kerajaan Allah, di dalam Dia yang memberi kekuatan, segala sesuatu dapat Anda tanggung! (Filipi 4:13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Anda beralih dari sistem keagamaan kepada kehidupan, Anda akan mempunyai paradigma baru terhadap tutorial kehidupan yang Allah berikan, yaitu segenap sabda-Nya. Anda akan merasa beruntung memilikinya. Anda akan gemar mempelajarinya. Anda akan antusias menerapkannya. Anda hidup dan bergerak di dalam sabda-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada tempat yang aman. Namun, tempat yang aman ada di mana-mana. Ya, tempat di mana pun bisa menjadi aman, yaitu tatkala kerajaan Allah hadir di sana. Jika kerajaan Allah sudah hadir dalam kehidupan Anda, niscaya kehidupan Anda pun menghadirkan kerajaan Allah di manapun Anda berada dan ke manapun Anda pergi. Anda sudah aman. Amankan pula lingkungan Anda.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-2919228723762645723?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2919228723762645723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2919228723762645723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/10/aman-di-mana-mana-tatkala-tidak-ada.html' title='Aman di Mana-Mana Tatkala Tiada yang Aman'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SQeiFYXPxMI/AAAAAAAAAOY/tNvBAkD1By0/s72-c/C4151968.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-929039816219755534</id><published>2008-10-27T19:14:00.001+07:00</published><updated>2008-11-08T04:31:23.048+07:00</updated><title type='text'>Mengoperasikan Iman Kristiani</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_BNih3bkAZjM/R5SEkzuF9sI/AAAAAAAAAKY/mZu-9mXbUmg/s1600-h/gramedia+plangi+OK.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5157893241139754690" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_BNih3bkAZjM/R5SEkzuF9sI/AAAAAAAAAKY/mZu-9mXbUmg/s320/gramedia+plangi+OK.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_BNih3bkAZjM/R42JXzuF9qI/AAAAAAAAAKI/kWw1WiQvE_Q/s1600-h/gramedia+plangi+ok.jpg"&gt;&lt;/a&gt;Masih efektifkah iman kristiani kita dalam realita baru kehidupan ini? Bagaimana agar &lt;strong&gt;aplikatif&lt;/strong&gt; dalam kehidupan nyata?&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagaimana mengejawantahkan ora et labora (serta akal-penalar et budi-pekerti) untuk mencapai kesuksesan dan melampauinya dengan tujuan-tujuan yang lebih tinggi dalam Tuhan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Masih mungkinkah damai sejahtera dan sukacita berdasarkan kebenaran, dan senantiasa beryukur, dalam menghadapi pergumulan di dunia yang makin mengglobal ini?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagaimana sepatutnya kita menyikapi fenomena The Secret dan ajaran New AgeMovement?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;"My though speaks softly in my ears,&lt;/em&gt; &lt;em&gt;be clean in body and spirit even if you have nowhere to lay your head."&lt;/em&gt; [Kahlil Gibran]&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Simak uraiannya dalam buku terbaru saya,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"The Secret &amp;amp; Purpose Driven Life: Menggapai Manusia Baru, Pikiran Baru, HidupBaru". &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Buku yang pas dibaca dalam masa awal &lt;strong&gt;tahun baru&lt;/strong&gt; ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga. Matius 5:15-16&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-929039816219755534?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/929039816219755534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/929039816219755534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/10/mengoperasikan-iman-kristiani.html' title='Mengoperasikan Iman Kristiani'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_BNih3bkAZjM/R5SEkzuF9sI/AAAAAAAAAKY/mZu-9mXbUmg/s72-c/gramedia+plangi+OK.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-761932562607674308</id><published>2008-10-27T19:09:00.001+07:00</published><updated>2008-10-27T19:09:40.972+07:00</updated><title type='text'>Kritisi Ajarannya, Reguk Dahsyatnya!</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_BNih3bkAZjM/R2GRIXknxsI/AAAAAAAAAJo/1qiTL1vZNyA/s1600-h/cover+Secret-n-PDL.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143551822386415298" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_BNih3bkAZjM/R2GRIXknxsI/AAAAAAAAAJo/1qiTL1vZNyA/s320/cover+Secret-n-PDL.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Daftar Isi:&lt;br /&gt;-Pengantar&lt;br /&gt;1. Quantum Ora-et-Labora&lt;br /&gt;2. The Law of Attraction &amp;amp; Positive Thinking&lt;br /&gt;3. Manusia Baru &amp;amp; Rahasia Keunggulannya&lt;br /&gt;4. Pikiran Baru &amp;amp; Transformasi Akal-Budi&lt;br /&gt;5. Minta, Percaya, Terima&lt;br /&gt;6. Hidup Baru &amp;amp; Penuh Makna&lt;br /&gt;7. The Law of Abraham &amp;amp; Abundant Blessing&lt;br /&gt;8. Gratitude &amp;amp; Positive Attitude&lt;br /&gt;-Penutup: Kaidah Emas Versi Positif Hanya Ada di Alkitab &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Ukuran: 13,5 x 17 cm2 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Tebal: 136 hlm &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Disertai Panduan Mengenali Impian Anda Seutuhnya Berdasarkan Quantum Ora-et-labora&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Penulis adalah seorang &lt;em&gt;literature minister,&lt;/em&gt; yang aktif dalam komunitas penulis &amp;amp; jurnalis Krisiani (Penjunan) dan lama bekerja &lt;em&gt;fulltime&lt;/em&gt; di sebuah gereja di Jakarta. Sekarang melayani di Abbalove Oikos Community.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-761932562607674308?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/761932562607674308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/761932562607674308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/10/kritisi-ajarannya-reguk-dahsyatnya.html' title='Kritisi Ajarannya, Reguk Dahsyatnya!'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_BNih3bkAZjM/R2GRIXknxsI/AAAAAAAAAJo/1qiTL1vZNyA/s72-c/cover+Secret-n-PDL.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-5175019202833192458</id><published>2008-07-25T17:02:00.005+07:00</published><updated>2008-11-08T04:32:11.776+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Ana dan Diran</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;oleh Martha Pratana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini cerita tentang Ana dan Diran. Ceritanya asli (memang terjadi), tetapi namanya direkayasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana pintar memasak masakan Indonesia. Kalau memasak rawon, soto, balado dan lain-lain memang oke sekali. Ana juga menyadari bahwa dirinya itu pandai memasak. Sayangnya, Ana "over pe-de", dia anggap kalau sudah pandai memasak masakan Indonesia itu berarti dia pasti bisa memasak semua jenis masakan secara otomatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, dia ditempatkan pada suatu situasi di mana dia harus memasak masakan Cina. Dia harus memasak fuyunghai. &lt;span class="fullpost"&gt;Tentu, dia tahu yang namanya fuyunghai itu modelnya bagaimana. Dia pun sudah pernah mencicipi bagaimana rasa fuyunghai itu. Tetapi, memasak fuyunghai? Dia belum pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Ana tak bisa mengelak. Dia harus memasak fuyunghai. Dan hasilnya? Ana gagal. Ana tak paham bagaimana membuat saus fuyunghai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Ana masih merasa dia serba bisa dalam hal masak memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, Ana berkenalan dengan seorang pemuda. Pada pandangan pertama, kelihatannya si pemuda menyukai Ana. Demikian pula Ana, yang memang sudah lama mencari-cari calon suami, langsung jatuh hati pada pemuda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pertama berlanjut pada pertemuan kedua dan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Mereka mulai saling menjajaki. Pada pertemuan yang kesekian, Ana mulai berani menyombongkan diri. Pikirnya, sekalian promosi, dia bercerita pada pemuda itu, yang bernama Diran, bahwa dia pandai masak. Ana mengatakan bahwa majikannya cocok dengan masakannya (Ana bekerja sebagai seorang kepala rumah tangga di sebuah keluarga). Ana pun bertanya, apa pekerjaan Diran. Diran menjawab bahwa dia bekerja di sebuah restoran. Ana senang. Katanya, tipe pekerjaan mereka memiliki benang merah. yaitu sama-sama bersentuhan dengan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertemuan selanjutnya, Ana bercerita bahwa sebagai kepala rumah tangga, Ana tidak hanya memasak, tapi juga melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya, seperti mencuci baju, membersihkan perabot dan sebagainya. Pokoknya pekerjaan Ana sangat kompleks. Dia bekerja serabutan dan Ana memberikan kesan bahwa dia orang yang sangat terampil dan jika jadi isteri pasti dia jadi isteri yang mumpuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara iseng, Ana bertanya pada Diran, apakah kalau kerja di restoran Diran harus pakai seragam? Karena sejauh yang Ana tahu, pada umumnya karyawan restoran selalu memakai seragam kalau bekerja. Dan Diran pun menjawab, "Iya dong...mesti pakai seragam. Aku pakai seragam koki..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooops! Hati Ana berdetak keras! "Mati aku!" pikirnya. Jadi Diran adalah koki? Berarti Diran juga pintar masak, dan bukan sekadar karyawan restoran. Ah, masak sih? Ana hampir-hampir tak percaya bahwa ada juga orang yang pintar memasak seperti dia. Ana menjadi penasaran, dia melanjutkan bertanya, di manakah kiranya Diran menjadi koki. Diran mengatakan bahwa dia menjadi koki di sebuah restoran Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, kamu bisa memasak masakan Cina?" Ana bertanya.&lt;br /&gt;"Bisa dong...", Diran menjawab.&lt;br /&gt;"Bisa masak fuyunghai?" Ana penasaran.&lt;br /&gt;"BIsa dong...aku biasanya juga masak koloke, bakmi goreng, sapo tahu...dan lain-lain..."&lt;br /&gt;"Wah! Kamu dari mana bisa masak semuanya itu?" Ana masih juga kurang terima.&lt;br /&gt;"Ya...aku sekolah dong..."&lt;br /&gt;"Oh, memangnya ada ya sekolah masak?"&lt;br /&gt;"Ada dong. Aku kan ambil jurusan tata boga..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana terkesiap. Ternyata ada juga orang yang lebih bisa dari dia! Ternyata ada juga sekolah masak; semula dia kira orang bisa masak hanya karena belajar dari pengalaman atau dari melihat orang lain memasak. Ternyata dunia ini luas juga dan isinya macam-macam. Ya, dia belum tahu pepatah Cina ini: “Di atas langit ada langit”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold; COLOR: rgb(51,51,255)"&gt;(CERITA INI SAYA TULIS DAN DAPAT DITEMUKAN JUGA DI www.gkpb.net)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-5175019202833192458?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/5175019202833192458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/5175019202833192458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/07/belajar-dari-ana-dan-diran.html' title='Belajar dari Ana dan Diran'/><author><name>The life's corner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16864871709323105138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7516/2129/1600/Martha1.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-2365272853009608568</id><published>2008-07-23T22:57:00.000+07:00</published><updated>2008-07-23T23:02:21.740+07:00</updated><title type='text'>Kontes Kisah</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_BNih3bkAZjM/SIdVu00r2hI/AAAAAAAAALQ/AzFijW8fuVQ/s1600-h/poster_kisah2008.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5226240155528714770" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_BNih3bkAZjM/SIdVu00r2hI/AAAAAAAAALQ/AzFijW8fuVQ/s400/poster_kisah2008.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-2365272853009608568?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2365272853009608568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2365272853009608568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/07/kontes-kisah.html' title='Kontes Kisah'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_BNih3bkAZjM/SIdVu00r2hI/AAAAAAAAALQ/AzFijW8fuVQ/s72-c/poster_kisah2008.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-8738810022915106751</id><published>2008-07-14T13:38:00.007+07:00</published><updated>2008-10-27T19:00:43.550+07:00</updated><title type='text'>Teknik Penulisan Feature</title><content type='html'>Oleh Purnawan Kristanto&lt;br&gt;&lt;br&gt;Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja.  Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan.  Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah berita lempang dan singkat.  Ini biasanya terjadi pada media-media yang menuntut aktualitas yang tinggi seperti koran, radio, TV dan internet.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Namun media yang tidak begitu diikat oleh waktu seperti tabloid mingguan atau majalah bulanan, jika mereka ikut-ikutan menulis seperti ini, tentu medianya tidak akan laku karena sudah basi.  Karena itulah mereka harus menggali berita dari sudut pandang yang unik dengan tema yang awet alias tak lekang oleh waktu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sebagai contoh, dalam sebuah bencana di kota Y, terjadi kejadian sebagai berikut:&lt;br&gt;•    Sambaran petir dan angin badai meruntuhkan atap gedung berlantai lima&lt;br&gt;•    Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas&lt;br&gt;•    Pengemudinya, seorang remaja putri, menginggal dunia&lt;br&gt;•    Dua penumpang terluka&lt;br&gt;Aturan dasar dalam menulis berita lempang adalah menempatkan hal-hal yang paling penting di awal berita.  Aturan ini tidak menjadi masalah sepanjang kisah ini hanya mempunyai satu peristiwa yang ditekankan.  Namun ketika ada banyak peristiwa yang penting juga untuk diberitakan, maka tugas jurnalis menjadi semakin rumit.  Untuk mengatasi hal ini, ada dua pilihan yang bisa dilakukan:&lt;br&gt;&lt;br&gt;1.    Merangkum semua fakta –dengan urutan penting ke tidak penting—pada paragraf pertama, atau&lt;br&gt;2.    Memberi tekanan pada peristiwa tertentu yang paling penting di awal paragraf.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jika peristiwa di atas ditulis dalam sebuah berita lempang, hasilnya sebagai berikut:&lt;br&gt;“Atap sebuah gedung berlantai lima, runtuh setelah tersambar petir dan tersapu angin badai tadi malam.  Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas, sehingga menewaskan Anastasia Suminem (18 tahun) yang mengemudi mobil itu. Sedangkan dua penumpang lainnya menderita luka-luka serius.”&lt;br&gt;&lt;br&gt;Berita seperti ini biasanya dimuat di koran harian.  Namun ketika redaktur tabloid wanita akan mengangkat peristiwa ini, ia harus mencari sudut pandang lain.  Ia memberi tugas reporternya untuk mengangkat kisah korban yang meninggal.  Inilah hasilnya:&lt;br&gt;&lt;br&gt;“Seorang remaja putri meninggal dunia (Jumat, 18/4) ketika mobil yang dikendarainya tertimpa atap gedung berlantai lima yang runtuh setelah tersambar petir. Selain itu, dua penumpang yang duduk di belakang menderita luka-luka serius.  Saat itu mobil mereka sedang terjebak di kemacetan lalu lintas.&lt;br&gt;&lt;br&gt; Anastasia Suminem (18 tahun) adalah seorang sekretaris PT. Sukar Maju.  Ia sedang melintas jl. Sudirman ketika puluhan kubik bata, kayu, besi dan genting itu menghempas mobilnya.  Timbunan material itu meringsekkan badan mobil bagian depan sehingga menewaskan Anastasia seketika itu juga.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Anastasia adalah seorang karyawati yang menuru penuturan Kristina, rekan kerjanya adalah karyawan periang yang tidak sungkan-sungkan memberi bantuan pada orang lain. Sifat suka menolongnya ini tercermin ketika ia menawarkan untuk mengantarkan pulang Yosafat Tukiyo (23 th) dan Maria Magdalena Pariyem (20 th).  Padahal arah rumah Anastasia berlawanan dengan kedua rekannya ini.. …. “ kisah selanjutnya menceritakan tentang Anastasia.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sementara itu, editor majalah bulanan memandangnya dari sisi lain.  Ia tertarik pada petir yang menyambar pada saat jam-jam sibuk.  Pada saat itu, jalanan macet karena banyak orang pulang kantor pada waktu yang bersamaan.  Untuk itu, ia menugaskan anak buahnya untuk mewawancarai pakar Cuaca dan mencari informasi seputar perilaku petir.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Nah, begitulah.  Untuk peristiwa yang sama, kita bisa menuliskan dalam dua atau lebih berita yang berbeda.  Inilah yang disebut pemilihan sudut berita atau news angle.  Pemilihan news angle sebuah media ini biasanya dipengaruhi oleh kebijaksanaan redaksional dan karakteristik pembacanya.  Masih ingat kecelakaan tragis Lady Di?  Untuk peristiwa yang sama, sebuah tabloid gosip mengangkat sisi perselingkuhan, majalah bulanan mengupas ulah para Paparazi ,sedangkan majalah berita berusaha menelusuri penyebab kecelakaan.  Berbeda-beda ‘kan?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ketika sebuah media sudah mendapat point of interest dari sebuah kisah, mereka akan memusatkan perhatian pada satu hal itu saja.  Mereka mengumpulkan dan menggali fakta di balik berita lempang untuk disusun menjadi sebuah berita kisah atau news feature.  Karena relatif tidak terikat oleh waktu, penulis berita kisah punya kesempatan untuk menyusun kalimat yang menghidupkan imajinasi pembaca.  Tulisan ini menarik perhatian pembaca hingg masuk ke dalam cerita itu dengan membantu mengidentifikasi diri dalam tokoh utama.  Feature dapat menyentuh emosi pembaca sehingga mereka penasaran, skpetis, kagum, heran, tertawa, menangis, dongkol, senang dsb.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menurut Wiliamson, “Feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian situasi atau aspek kehidupan seseorang”.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;Masih kata Wiliamson, feature menekankan unsur kreativitas (dalam penciptaan), informatif (isinya) dan menghibur (gaya penulisannya) dan boleh subyektif (penuturannya).  Ketiga syarat utama ini mutlak ada dalam feature, sedangkan unsur subyektifitas tidak mutlak.  Kalau  ada juga boleh, terutama untuk feature sisi manuniawi (human interest).&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berdasarkan Fakta&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bentuk penulisan cenderung bergaya feature: "mengisahkan sebuah cerita." Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata; ia menghidupkan imajinasi pembaca. &lt;br&gt;Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk menjahit kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme lainnya, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta-fakta dalam ceritanya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pendeknya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam penulisan feature.  Ada sebuah kisah tragis seorang wartawati reporter harian Washington Post, Janet Cooke, yang pada tahun tersebut memenangi Hadiah Pulitzer. Hadiah prestisius ini menjadi idaman jurnalis di "Negeri Paman Sam" itu.  Ia tergoda memasukkan unsur fiksi dalam feature.  Akibat kebohongan ini, karirnya pupus.  Kisahnya begini:&lt;br&gt;&lt;br&gt;Janet berhasil menulis sebuah feature yang sangat menarik, mengharukan, dan tentu saja bagus. Feature yang diberinya judul "Jimmy's World" itu mengalahkan calon-calon lain dan memenangi Pulitzer untuk jenis timeless feature. Washington Post tentu saja bangga dengan karya reporternya yang berusia 26 tahun itu. Sayangnya, kebanggaan yang belakangan menjadi skandal itu telah mencoreng wajah harian terkemuka di Amerika tersebut. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Janet ternyata "mengarang" feature yang indah itu. Tulisannya tidak berangkat dari fakta. Jimmy, tokoh yang digambarkannya itu, ternyata tokoh imajinasi yang hanya hidup dalam benaknya. Artinya, tulisannya bukan karya jurnalistik, tetapi fiksi. Karena perbuatannya itu, Hadiah Pulitzer yang diterimanya dicabut dan ia dipaksa berhenti dari Washington Post. &lt;br&gt;Mengapa kasus memalukan ini terbongkar? Dalam riwayat hidupnya yang diterbitkan di surat kabar setelah ia memenangi hadiah itu, ia menyebutkan nama dua universitas tempat ia dulu memperoleh gelar sarjana. Tak lama setelah biografi singkat Janet Cooke muncul di berbagai media, kedua universitas yang disebutnya menelepon Washington Post dan menyampaikan bantahan. Janet tidak pernah kuliah di sana. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Kecurigaan bermula di sini. Para editor atasan Janet segera menginterogasi reporter itu beberapa jam. Bagaikan mendengar suara guntur di siang hari yang sangat terik, mereka sangat terperanjat dengan pengakuan Janet bahwa karya tulisnya adalah sebuah pabrikasi. Bagaimana mungkin mereka bisa percaya? Kisah anak berusia delapan tahun yang kecanduan heroin dan menggelandang di jalan-jalan ghetto itu dideskripsikannya dengan sangat emosional, penuh kutipan yang sangat meyakinkan. Dunia yang dipaparkannya adalah dunia yang sebagian besar orang tidak pernah memasukinya, tidak juga Janet Cooke sendiri.  (GAMMA Digital News Nomor: 26-3 - 21-08-2001)&lt;br&gt;&lt;br&gt;Seorang jurnalis profesional tidak akan menipu pembacanya, walau sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancam.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Etika menyebutkan bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu surat kabar. Tajuk rencana, tentu saja, merupakan tempat mengutarakan pendapat. Dan edisi Minggu surat kabar diterbitkan untuk menampung fiksi (misalnya cerita pendek).&lt;br&gt;&lt;br&gt;Feature tidak boleh berupa fiksi, dan setiap "pewarnaan" fakta-fakta tidak boleh menipu pembaca. Bila penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan orang pada kita akan hancur.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber-Sumber Feature&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ada seorang anggota jemaat di gereja sekitar Malioboro.  Namanya Mohammad Mustofa.  Sehari-harinya dia adalah pedagang kaki lima di bilangan Malioboro.  Namun setiap kali ada acara Pemahaman Alkitab, Bapak ini selalu menutup dagangannya hari itu. Aspek ini bisa menjadi cantelan penulisan feature bagaimana dia mengatur waktu antara kegiatan gereja dengan mencari nafkah.&lt;br&gt;Di sekitar kita ada banyak bahan-bahan yang dapat diracik menjadi sebuah berita kisah.  Kuncinya adalah kesediaan kita untuk menggali lebih dalam dari peristiwa-peristiwa di sekitar kita.  Namun sebagai petunjuk saja, kita bisa menggali dari peristiwa berikut ini:&lt;br&gt;&lt;br&gt;•    Peristiwa luar biasa : ganjil, aneh, seperti kebetulan, kepribadian yang unik.&lt;br&gt;•    Peristiwa biasa : orang biasa, tempat biasa dan benda biasa tetapi orang selalu ingin mengetahui hal-hal itu.  &lt;br&gt;Sebagai contoh, setiap kali melintasi perempatan Gramedia, kita selalu menjumpai anak-anak jalanan.  Setiap orang yang melintas ingin tahu berapa penghasilan mereka sehari? Apakah ada yang mengkoordinir? bagaimana makan mereka? Apakah mereka tidak pernah sakit karena polusi?  Apakah mereka masih punya keluarga?&lt;br&gt;•    Peristiwa Dramatis: pemenang undian, Orang Kaya Baru, pengelaman heroik, selamat dari kecelakaan dsb.&lt;br&gt;•    Panduan bagi pembaca: Nasehat dan kiat-kiat untuk pembaca, misalnya cara menghindari perampokan, cara memilih helm “standard” yang sudah memenuhi standard, resep, kerajinan tangan dll.&lt;br&gt;•    Informasi: Statitistik, pelajaran, gambar, sejarah dll&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara Menulis Feature&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sebagian besar penulis feature tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.&lt;br&gt;Struktur tulisan feature disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri dari lead, jembatan di antara lead dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup.  Bagian atasnya berupa lapisan lead dan jembatan yang sama pentingya, dan bagian tengahnya berupa tubuh tulisan yang makin ke bawah makin kurang ke-penting-annya.  Bagian bawahnya berupa alenia penutup yang bulat.&lt;br&gt; &lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;br style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup &lt;/span&gt;&lt;br&gt;Kunci penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. (jenis-jenis lead bisa dilihat pada makalah Penulisan Berita)&lt;br&gt;Lead feature berisi hal yang paling penting untuk mengarahkan perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang dimulainya penulisan.&lt;br&gt;Jembatan bertugas sebagai perantara antara lead dan tubuh yang dengan lead masih terkait, tetapi ke tubuh tulisan sudah mulai masuk.  Ia semata-mata melukiskan identitas dan situasi dari hal yang akan dituturkan nanti.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Tubuh feature berisi situsi dan proses disertai penjelasan mendalam tentang mengapa dan bagaimana.  Pada human interest feature, situasi yang dituturkannya disertai pendapat atau pandangan yang subyektif dari penulisnya mengenai situasi yang diutarakan.  Tetapi pada bentuk feature ilmiah populer situasi dan proses yang ditutrkan tidak disertai pendapat subyektif, melainkan tetap dipertahankan keobyektifitasan pandangannya.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Penutup feature berupa alenia berisi pesan yang mengesankan.&lt;br&gt;Suatu feature memerlukan -- bahkan mungkin harus -- ending karena dua sebab:&lt;br&gt;1. Menghadapi feature hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia.&lt;br&gt;Bahkan feature yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan feature tak bisa asal dipotong dari bawah. Feature mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.&lt;br&gt;2. Ending bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis feature pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu "penyelesaian" atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak feature. Karena itu memotong bagian akhir sebuah feature, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.&lt;br&gt;Beberapa jenis penutup:&lt;br&gt;•    Penutup ringkasan. Penutup ini bersifat ikhtisar, hanya mengikat ujung-ujung bagian cerita yang lepas-lepas dan menunjuk kembali ke lead.&lt;br&gt;•    Penyengat. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah terlonjak. Penulis hanya menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada kesimpulan yang tidak terduga-duga. Penutup seperti ini mirip dengan kecenderungan film modern yang menutup cerita dengan mengalahkan orang "yang baik-baik" oleh "orang jahat".&lt;br&gt;•    Klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis. Ini seperti sastra tradisional. Hanya saja dalam feature, penulis berhenti bila penyelesaian cerita sudah jelas, dan tidak menambah bagian setelah klimaks seperti cerita tradisional.&lt;br&gt;•    Tak ada penyelesaian. Penulis dengan sengaja mengakhiri cerita dengan menekankan pada sebuah pertanyaan pokok yang tidak terjawab. Selesai membaca, pembaca tetap tidak jelas apakah tokoh cerita menang atau kalah. Ia menyelesaikan cerita sebelum tercapai klimaks, karena penyelesaiannya memang belum diketahui, atau karena penulisnya sengaja ingin membuat pembaca tergantung-gantung.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Seorang penulis harus dengan hati-hati dalam menilai ending-nya, menimbang~nimbangnya apakah penutup itu merupakan akhir yang logis bagi cerita itu. Bila merasakan bahwa ending-nya lemah atau tidak wajar, ia cukup melihat beberapa paragrap sebelumnya, untuk mendapat penutup yang sempurna dan masuk akal.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Menulis penutup feature sebenarnya termasuk gampang. Kembalilah kepada peranan "tukang cerita" dan biarkanlah cerita Anda mengakhiri dirinya sendiri, secara wajar.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pustaka&lt;/span&gt;&lt;br&gt;&lt;br&gt;Slamet Soeseno, “Teknik Penulisan Ilmiah Populer; Kiat Menulis Non Fiksi Untuk Majalah, Gramedia Pustaka Utama &lt;br&gt;Williamson, “Feature Writing for Newspeper, Hastings House, New York&lt;br&gt; Julian Harris dkk, The Complete Reporter”, Macmillan Publishing, New York&lt;br&gt;Makalah Satrio Arismunandar&lt;br&gt; &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-8738810022915106751?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/8738810022915106751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/8738810022915106751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/07/teknik-penulisan-feature.html' title='Teknik Penulisan Feature'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-1307181112982237431</id><published>2008-05-19T13:18:00.001+07:00</published><updated>2008-10-27T18:58:19.314+07:00</updated><title type='text'>Sekolah Kepenulisan "Gloria" Diselenggarakan oleh penerbit Gloria dan Komunitas "Penjunan"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sekolah Kepenulisan "Gloria"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: 130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Diselenggarakan oleh penerbit Gloria dan Komunitas "Penjunan"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Latar Belakang:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selama dekade terakhir, ada kegairahan baru di bidang penulisan, dan masih kita rasakan hingga saat ini. Iklim kebebasan pada masa reformasi, tumbuhnya penerbitan baru dan perkembangan internet merupakan faktor pendukung timbulnya fenomena ini.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SDEVod8SCRI/AAAAAAAAAMM/B1uIFqSjAkc/s1600-h/Liputan+Tanah+Longsor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SDEVod8SCRI/AAAAAAAAAMM/B1uIFqSjAkc/s200/Liputan+Tanah+Longsor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201962829566052626" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penerbit yang bertambah, memunculkan kebutuhan ketersediaan naskah-naskah buku yang baik. Gayung pun bersambut. Banyak naskah buku yang ditawarkan kepada penerbit. Sayangnya, dari sekian banyak naskah yang tersedia, hanya sedikit yang memenuhi syarat. Kelemahan utama naskah-naskah tersebut adalah cara penulisan yang tidak memenuhi standar dan tema yang dibahas tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Karena prihatin dengan hal tersebut maka penerbit Gloria bekerja sama dengan Komunitas Penjunan (Penulis dan Jurnalis Nasrani) rindu untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan bagi jemaat Tuhan agar mampu menjadi penulis yang andal. Diharapkan, setelah mengikuti sekolah penulisan ini, peserta mampu menemukan tema yang menarik, kemudian mengemasnya menjadi sebuah tulisan yang layak untuk diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SDEUsN8SCQI/AAAAAAAAAME/Ycb3X8yMdKw/s1600-h/Kunjungan+ke+Bernas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 310px; height: 174px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SDEUsN8SCQI/AAAAAAAAAME/Ycb3X8yMdKw/s200/Kunjungan+ke+Bernas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201961794478934274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. Tujuan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memotivasi peserta sekolah untuk menuangkan pemikiran, pengalaman, isi hati mereka dalam bentuk tulisan. Tulisan yang mereka hasilkan adalah tulisan yang memenuhi syarat secara komersial dan layak diterbitkan: dalam bentuk artikel lepas atau buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Sasaran Peserta:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ini akan diikuti oleh sekitar 60 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang kelompok sosial, meliputi:&lt;br /&gt;1. Mahasiswa/pelajar.&lt;br /&gt;2. Aktivis, staf atau pengerja gereja.&lt;br /&gt;3. Kaum profesional.&lt;br /&gt;4. Ibu rumah tangga.&lt;br /&gt;5. Pendeta/Gembala.&lt;br /&gt;6. Guru&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Materi Pelajaran:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1)      Motivasi pelayanan literatur&lt;br /&gt;2)      Menemukan ide penulisan&lt;br /&gt;3)      Menyusun kerangka tulisan&lt;br /&gt;4)      Teknik penulisan (kosa kata sampai tatabahasa)&lt;br /&gt;5)      Penulisan Ulang - Penyuntingan&lt;br /&gt;6)      Kode etik, tata cara pengiriman naskah, hak dan kewajiban penulis&lt;br /&gt;7)      Mengenal dunia penerbitan/trend perbukuan&lt;br /&gt;E. Metode:&lt;br /&gt;1)            Ceramah&lt;br /&gt;2)            Diskusi/Sharing&lt;br /&gt;3)            Penugasan&lt;br /&gt;4)            Kunjungan ke penerbit&lt;br /&gt;5)            Seminar Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;F. Proses Belajar:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Peserta mula-mula disentuh kesadarannya tentang arti penting pelayanan literatur. Setelah itu, peserta akan dipandu untuk menemukan ide penulisan yang akan dikembangkan selama program ini berlangsung. Selama delapan kali pertemuan, peserta akan mendapatkan pelajaran teknik kepenulisan dari penulis yang sudah berpengalaman. Sementara itu, di luar kelas, peserta diharapkan melanjutkan ide penulisan yang sudah mereka pilih. Peserta juga diberi kesempatan untuk mendapatkan mentoring/bimbingan dari fasilitator sebelum atau sesudah pengajaran di kelas. Dimungkinkan juga mentoring/bimbingan melalui email.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SDEWAt8SCSI/AAAAAAAAAMU/jeEvY1fMHAM/s1600-h/Wawancara+Romo+Yatno.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SDEWAt8SCSI/AAAAAAAAAMU/jeEvY1fMHAM/s200/Wawancara+Romo+Yatno.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5201963246177880354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di akhir program, akan digelar acara Seminar Kepenulisan. Dalam seminar ini, Andrias Harefa akan membagikan pengalaman dan pengetahuan di bidang kepenulisan. Acara ini juga sekaligus untuk menutup program Sekolah Kepenulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;G. Pelaksanaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari Rabu, Juli-Agustus 2008&lt;br /&gt;Pukul 16.00-18.00&lt;br /&gt;Tempat Gloria Graha, Jl. F. M. Noto no. 19 Kotabaru, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;H. Fasilitator dan Pemberi Materi:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1. Ev. Xavier Quentin Pranata&lt;br /&gt;Mantan Pemimpin Redaksi Bahana, pengkhotbah, dan penulis buku. Perintis komunitas "Penjunan" (Penulis dan Jurnalis Nasrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Purnawan Kristanto&lt;br /&gt;Penulis buku (21 judul), renungan, penerjemah, mantan redaktur majalah Bahana. Moderator milis komunitas "Penjunan" &lt;a href="mailto:komunitas-penjunan@yahoogroups.com"&gt;komunitas-penjunan@yahoogroups&lt;wbr&gt;.com&lt;/a&gt; dan kontributor &lt;a href="http://beoscope.com/" target="_blank"&gt;beoscope.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Arie Saptaji&lt;br /&gt;Penulis (buku, artikel dan rennugan), penyunting lepas dan penerjemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Agustina Wijayani&lt;br /&gt;Penulis dan editor pada penerbit "Gloria" Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bayu Probo&lt;br /&gt;Editor, copywriter, staf penelitian dan pengembangan Penerbit Buku Rohani ANDI, penulis buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Lusiana Hutabarat&lt;br /&gt;Pernah menjadi editor Penerbit Buku Rohani "Andi" dan wartawan TransTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Bpk. Istoto dari penerbit Kanisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;I. Indikator Keberhasilan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Program ini dianggap berhasil apabila terdapat hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;·Antusiasme partisipan mengikuti program ini (diketahui dari penugasan dan presensi partisipan)&lt;br /&gt;·Partisipan mendapatkan dasar-dasar penulisan yang baik dan mendapatkan manfaat dari program ini (diketahui melalui angket).&lt;br /&gt;·Peserta mampu termotivasi menulis, yang ditunjukkan dengan menulis naskah buku (sangat berhasil), kerangka penulisan buku (berhasil) atau menentukan tema tulisan (kurang berhasil).&lt;br /&gt;·Terbentuknya jejaring penulis-penulis potensial di DIY dan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J. Syarat untuk Peserta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.      Mengisi Formulir Pendaftaran yang tersedia.&lt;br /&gt;2.      Membayar biaya pelatihan sebesar Rp180.000,-&lt;br /&gt;3.      Menyerahkan pas foto 3X4 sebanyak 3 lembar.&lt;br /&gt;4. Menyerahkan tulisan dengan tema: "Tentang aku, talentaku dan pengalaman pekerjaan/pelayananku" Panjang tulisan sekitar 1.000 s/d 3.000 kata.&lt;br /&gt;5.      Pendaftaran ditutup paling lambat 26 Juni 2008. atau jika jumlah pendaftar sudah memenuhi target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;K. Fasilitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1.      Pembicara yang merupakan praktisi yang sudah berpengalaman di bidang kepenulisan.&lt;br /&gt;2.      Bimbingan menulis dari fasilitator&lt;br /&gt;3.      Makalah untuk setiap materi&lt;br /&gt;4.      Map/Tas eksklusif untuk menyimpan materi pelatihan&lt;br /&gt;5.      Sertifikat&lt;br /&gt;6.      Praktik dan kunjungan ke penerbitan&lt;br /&gt;7.      Ruang kuliah ber-AC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;L. Informasi dan Pendaftaran:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Santi&lt;br /&gt;Penerbit Gloria&lt;br /&gt;Jl. Faridan M. Noto 19&lt;br /&gt;Yogyakarta 55224&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:penerbitan@glorianet.org"&gt;penerbitan@glorianet.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Telp. 0274 56362, 565905&lt;br /&gt;Atau:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(136, 136, 136);"&gt;Purnawan Kristanto&lt;br /&gt;Email: &lt;a href="mailto:Purnawank@gmail.com"&gt;Purnawank@gmail.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tlp. (0272) 327776&lt;br /&gt;Hp. 0812-231237&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-1307181112982237431?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1307181112982237431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1307181112982237431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/05/sekolah-kepenulisan-gloria.html' title='Sekolah Kepenulisan &quot;Gloria&quot; Diselenggarakan oleh penerbit Gloria dan Komunitas &quot;Penjunan&quot;'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SDEVod8SCRI/AAAAAAAAAMM/B1uIFqSjAkc/s72-c/Liputan+Tanah+Longsor.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-7969161509913977111</id><published>2008-05-10T04:01:00.003+07:00</published><updated>2008-10-27T19:01:49.032+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SCS_I3GiZBI/AAAAAAAAALI/7g8nxKx6U08/s1600-h/chinese+judge.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5198490028843623442" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SCS_I3GiZBI/AAAAAAAAALI/7g8nxKx6U08/s400/chinese+judge.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;3 x 7 = 27&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Konon di Tiongkok pernah hidup seorang hakim yang sangat dihormati karena tegas dan jujur. Rakyat sangat menghormatinya dan cara penghormatannyapun sambil bertekuk lutut dan bahkan bersujud hingga keningnya mencium lantai, karena mereka sangat segan dan menyanjungnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memutuskan setiap perkara dengan adil, tanpa pandang bulu. Suatu hari, dua orang menghadap hakim tersebut. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya meminta keputusan atas kasus mereka yang sebenarnya sangat sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya berdebat tentang hitungan 3x7. Yang satu mengatakan hasilnya 21, yang lain bersikukuh mengatakan hasilnya 27. Ternyata sang hakim memvonis hukuman cambuk 10x bagi orang yang menjawab benar. Spontan si terhukum protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang hakim menjawab, "Kamu bodoh, mau-maunya berdebat dengan orang-orang yang tidak tahu kalau 3x7 adalah 21!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada orang berbeda pendapat dengan kita, katakan pada diri sendiri bahwa dia belum mengerti, lalu bersabarlah. Karena kesabaran artinya membantu dia mengerti dan menyerahkan dia kepada Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-7969161509913977111?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7969161509913977111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7969161509913977111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/05/3x7-27.html' title=''/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SCS_I3GiZBI/AAAAAAAAALI/7g8nxKx6U08/s72-c/chinese+judge.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-8479229715584850047</id><published>2008-04-24T09:48:00.005+07:00</published><updated>2008-10-27T19:13:36.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dewasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gereja'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jemaat'/><title type='text'>7 Pilar Jemaat yang Dewasa</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SBAF8IkBTlI/AAAAAAAAAK4/ytyiyrT3ECA/s1600-h/7+Pilar+Jemaat+yang+Dewasa_OK.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5192656901007035986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" height="311" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SBAF8IkBTlI/AAAAAAAAAK4/ytyiyrT3ECA/s320/7+Pilar+Jemaat+yang+Dewasa_OK.jpg" width="194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Segera Beredar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Pdt. Gilbert Lumoindong, Gembala Jemaat GBI JaCC (GLOW), Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Rekan sekerja, sahabat dan juga mentor saya, Daniel Ong, adalah seorang Hamba Tuhan dan inspirator yang luar biasa, sehingga jika ia mengupas tentang KEDEWASAAN, pasti tergali dari “pergaulan” kesehariannya dengan Tuhan, jemaat, serta kehidupan itu sendiri. Seperti biasa, prinsip dalam buku ini sangat praktis dan mudah diikuti, namun jika mempraktekkannya, DAMPAK yang DAHSYAT akan menyertai pelayanan kita. Selamat menjadi DEWASA dan memiliki kehidupan yang BERDAMPAK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pdt. Timotius Arifin, Gembala Senior GBI Denpasar (ROCK), Bali&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Pdt. Daniel Ong yang berhasil membangun komunitas anak-anak muda yang berkemenangan dan menjadikan mereka putra-putra di kota Perth, Western Australia. Di dalam kitab Kejadian, di Taman Eden, Sang Bapa membangun hubungan dengan putra (Adam) dan putri-Nya (Hawa) dan menginginkan mereka membangun generasi selanjutnya. Demikian juga ketika Sang Putra datang ke bumi, Dia memulihkan keluarga rohani ini. Di dalam Kerajaan Allah, hubungan antara Raja dan putra-putri-Nya menjadi maha penting. Karena itu, buku ini memberikan pengertian yang praktis tentang rencana Allah tersebut. Tuhan dan Raja kita Yang Mulia, Tuhan Yesus Kristus memberkati semua. Shalom!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dr. Dasaad Mulijono, Internist &amp;amp; Interventional Cardiologist&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Di akhir zaman ini, banyak orang datang ke gereja untuk mencari mukjizat, terutama kesembuhan dari penyakit yang sudah tak dapat disembuhkan oleh dokter, ataupun pemulihan dari cacat akibat penyakit/kecelakaan, pemulihan dari keluarga yang berantakan, usaha yang bangkrut, keterikatan obat-obatan/narkoba, mencari jodoh, lepas dari ikatan kuasa kegelapan, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Memang Tuhan kita yang penuh kasih, Yesus Kristus, akan mengabulkan permintaan-permintaan di atas. Namun tujuan gereja yang sebenarnya bukanlah itu semata-mata. Gereja adalah tempat di mana kebenaran-Nya diajarkan dengan tujuan akhir menciptakan umat untuk menjadi seperti Yesus. Bukan untuk mendapatkan kuasa seperti Yesus, tetapi untuk mempunyai hati dan karakter seperti Dia.&lt;br /&gt;Masalah terbesar mengapa misi dam visi gereja sering tak terwujud adalah dikarenakan sikap umat yang masih suam-suam kuku; hati, pikiran, dan tindakan setiap orang dikendalikan oleh dirinya sendiri. Walaupun gereja dipimpin oleh Tuhan Yesus sekalipun, tetapi kalau umat tetap kurang beriman, umat mendua hati, atau tak taat pada firman-Nya, maka semua visi dan misi gereja akan percuma. Karena itu, kita perlu bersekutu erat dengan Tuhan, membaca/menghayati dan menerapkan firman-Nya, dan membiarkan Roh Kudus bekerja leluasa dalam diri dan hidup kita.&lt;br /&gt;Saya menyambut baik buku dari saudaraku terkasih, Daniel Ong, yang mempunyai visi dan misi yang sama. Saya yakin gereja AOC, Alpha Omega Community, dapat mewujudkan keinginan Tuhan kita yang sangat kita cintai, Yesus Kristus, agar kita semua menjadi umat yang sulung di akhir zaman ini. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-8479229715584850047?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/8479229715584850047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/8479229715584850047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/04/7-pilar-jemaat-yang-dewasa.html' title='7 Pilar Jemaat yang Dewasa'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SBAF8IkBTlI/AAAAAAAAAK4/ytyiyrT3ECA/s72-c/7+Pilar+Jemaat+yang+Dewasa_OK.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-3831348915874653622</id><published>2008-04-21T02:04:00.001+07:00</published><updated>2008-04-21T02:32:21.061+07:00</updated><title type='text'>Bekerja Sesuai Panggilan Anda</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SAuXTsA3YkI/AAAAAAAAAKg/Nb8AAUcnRBc/s1600-h/ikon.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5191409359962726978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SAuXTsA3YkI/AAAAAAAAAKg/Nb8AAUcnRBc/s200/ikon.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sudahkah Anda bekerja sesuai panggilan Anda?&lt;br /&gt;Menurut Cary Cooper, seorang profesor di University of Manchester, ketidakpuasan terhadap pekerjaan merupakan hal yang sangat buruk bagi kesehatan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena itu, ayo, temukanlah panggilan Anda dalam kehidupan nyata!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-3831348915874653622?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3831348915874653622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3831348915874653622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2008/04/bekerja-sesuai-panggilan-anda.html' title='Bekerja Sesuai Panggilan Anda'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/SAuXTsA3YkI/AAAAAAAAAKg/Nb8AAUcnRBc/s72-c/ikon.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-115610057050406999</id><published>2007-12-14T02:18:00.001+07:00</published><updated>2008-11-08T04:48:56.014+07:00</updated><title type='text'>Komentar-Komentar Menjelang Terbitnya Buku Baru Saya</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/R2GSonknxtI/AAAAAAAAAJw/vYgYPudNFpA/s1600-h/Secret-n-PDL.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5143553475948824274" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/R2GSonknxtI/AAAAAAAAAJw/vYgYPudNFpA/s200/Secret-n-PDL.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Sansulung Johannes El Darsum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, saya diminta untuk mengulas buku &amp;amp; video yang fenomenal dan &lt;em&gt;best seller&lt;/em&gt; "The Secret". Setelah membaca berbagai media dan forum yang membahas hal ini, saya pun tertantang untuk meresponinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sebuah buku segera saya susun untuk:&lt;br /&gt;- Menyingkap hal yang krusial dalam The Secret&lt;br /&gt;- Menyikapi beberapa aspek inti dalam The Secret secara proporsional&lt;br /&gt;- Melengkapi kekurangan The Secret yang dipersoalkan oleh berbagai pihak, seperti yang mengemuka di KOMPAS, &lt;a href="http://pembelajar.com/" target="_blank"&gt;PEMBELAJAR.COM&lt;/a&gt;, ataupun CHARISMA Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, buku ini sekaligus menjadi semacam pedoman aman bagi Anda atau rekan Anda yang ingin menerapkan &lt;em&gt;Law of Attraction,&lt;/em&gt; yang menurut beberapa kalangan banyak manfaatnya, namun ada ranjau-ranjau yang perlu kita waspadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ang Tek Khun sebagai pimpinan Gradien Mediatama pun menanggapi kerangka pikir yang saya ajukan dan menerbitkannya dalam waktu dekat. Pak Khun bilang, pemaparan yang memadai dibutuhkan, bukan sekadar wacana setuju atau tidak setuju. Dengan diterbitkan oleh kelompok penerbit umum, kami mengharapkan buku ini bukan hanya menjadi bermanfaat bagi orang Kristen tetapi juga jadi berkat buat yang non-Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pada awal Desember terbitlah buku baru saya ini dengan judul &lt;strong&gt;"The Secret &amp;amp; Purpose Driven Life: Menggapai Manusia Baru, Pikiran Baru, Hidup Baru".&lt;/strong&gt; Buku ini juga disertai &lt;strong&gt;&lt;em&gt;"Panduan Mengenali Impian Anda Seutuhnya Berdasarkan Quantum Ora-et-labora". &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Silakan dapatkan di Gramedia, Gunung Agung, dan toko-toko buku Kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah beberapa komentar menarik yang muncul menjelang terbitnya buku ini. Silakan disimak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Re: [terangdunia] The Secret vs Purpose Driven Christian - Sebuah Pengalaman&lt;br /&gt;&lt;a href="mailto:jelucas@cbn" target="_blank" rel="nofollow" ymailto="mailto:jelucas%40cbn.net.id"&gt;&lt;br /&gt;jelucas@cbn&lt;/a&gt; wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Bro Sansulung Johannes El Darsum,&lt;br /&gt;Saya sangat senang dengan ulasan anda tentang ‘the secret’, akhirnya ada juga dari ‘kalangan sendiri’ yang bersuara ttg hal ini secara akademis. Bro, beberapa bulan ini saya agak &lt;span class="fullpost"&gt;gusar dengan fenomena ‘thesecret’, karena banyak orang merasa telah menjadi ‘beda’ setelah membaca ‘the secret’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya gusar karena hal ini akan membuat manusia menjadi tuhan dan tidak akan lagi memerlukan Tuhan. Hal ini bagus kalo yang dipikirkannya baik secara moril dan tidak melanggar hukum, tapi kalo yang di-ingin-kannya ternyata ‘baik’ bagi dirinya sendiri, gimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nonton dvd-nya, dan ini yang membuat saya tambah yakin bahwa the secret tidak sesuai dengan firman Tuhan adalah:&lt;br /&gt;pada saat ada homo yang bisa menyelesaikan masalah dikucilkannya dia dari lingkungannya dengan meratifikasi law of attraction. Memang dia jadi aman dan bebas dari masalahnya tapi sayangnya dia tetap jadi homo. Dan malah mungkin bisa tambah homo, karena dia bisa mewujudkan semua yang enak bagi dia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo gitu betapa mengerikannya buku itu. Bayangkan kalo ada pecandu narkoba yang bisa mewujudkan dirinya tetap sehat dan gak mati-mati walaupun masih memakai narkoba dengan law ofattraction.&lt;br /&gt;Sangat mengerikan . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ita Siregar &lt;&lt;a href="mailto:ita@feminagroup" target="_blank" rel="nofollow" ymailto="mailto:ita.siregar%40feminagroup.com"&gt;ita@feminagroup&lt;/a&gt;&gt; wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kreatif sekali, bung darsum dan pak khun. kalo istilah saudara kita, mohon doa restu gitu ya. semoga lancar dan berhasil.&lt;br /&gt;pertanyaan: apa dasar atau apa yang menjadi landasan penting untuk menyingkap hal2 krusial dalam the secret sekaligus melengkapi kekurangannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekedar ide saja. seharusnya orang percaya lebih banyak membaca buku yang dipercayanya, alkitab misalnya kalo dia percaya, sehingga secara kreatif, seandainya ia punya waktu, bisa menulis ulang cerita2 di sana dalam narasi berbeda bentuk atau tulisan kreatif lain, atau yang sensasional sehingga jadi bestseller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rahasia yang dimaksud rhonda byrne dalam the secret kupikir adalah rahasia yang sudah lama ada di buku kalangan orang percaya. masalahnya, pertama kali membaca 'rahasia' tersebut adalah di buku the secret, lalu malah mencurigai asal muasal rahasia itu. bingung soal mana yang sesat dan menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mirip- mirip rush saat the da vinci code muncul. kasihan Tuhan.. heheh. . idenya banyak 'dicuri' manusia, lalu sekelompok manusia lain mencurigai kebenarannya. aduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;martha pratana &lt;&lt;a href="mailto:martha@yahoo" target="_blank" rel="nofollow" ymailto="mailto:martha_pratana%40yahoo.com"&gt;martha@yahoo&lt;/a&gt;&gt; wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi konten, The Secret memberi jawaban kepada persoalan-persoalan dunia saat ini. Kebutuhan akan kesehat, kedamaian, dan kesejahteraan lahir dan batin di zaman postmo ini semakin mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kuno yang semakin tidak dapat ditemukan jawabannya: Sudahkah institusi gereja secara berkelompok dan orang Kristen secara individu menjadi jawaban atas berbagai kebutuhan manusia yang semakin kompleks ini? Catatan: Kebutuhan yang paling hakiki dari manusia di zaman postmo ini bukan sekadar pemenuhan materi dan fisik saja! Sigh :-(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Donny Adi Wiguna wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, TS bukan science. Ini namanya pseudoscience, tidak bisa dianggap netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data Buku:&lt;br /&gt;Judul: "The Secret &amp;amp; Purpose Driven Life"&lt;br /&gt;Ukuran: 13,5 x 17 cm2&lt;br /&gt;Tebal: 136 hlm&lt;br /&gt;Daftar Isi:&lt;br /&gt;-Pengantar: Sebuah Pengalaman&lt;br /&gt;1. Quantum Ora-et-Labora&lt;br /&gt;2. The Law of Attraction &amp;amp; Positive Thinking&lt;br /&gt;3. Manusia Baru &amp;amp; Rahasia Keunggulannya&lt;br /&gt;4. Pikiran Baru &amp;amp; Transformasi Akal-Budi&lt;br /&gt;5. Minta, Percaya, Terima&lt;br /&gt;6. Hidup Baru &amp;amp; Penuh Makna&lt;br /&gt;7. The Law of Abraham &amp;amp; Abundant Blessing&lt;br /&gt;8. Gratitude &amp;amp; Positive Attitude&lt;br /&gt;-Penutup: Kaidah Emas Versi Positif Hanya Ada di Alkitab&lt;br /&gt;-Lampiran: Panduan Mengenali Impian Anda Seutuhnya Berdasarkan Quantum Ora-et-labora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah seorang &lt;em&gt;literature minister,&lt;/em&gt; yang aktif dalam komunitas penulis &amp;amp; jurnalis Krisiani (Penjunan) dan lama bekerja &lt;em&gt;fulltime&lt;/em&gt; di sebuah gereja di Jakarta. Sekarang melayani di Abbalove Oikos Community.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-115610057050406999?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/115610057050406999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/115610057050406999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/12/komentar-komentar-menjelang-terbitnya.html' title='Komentar-Komentar Menjelang Terbitnya Buku Baru Saya'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/R2GSonknxtI/AAAAAAAAAJw/vYgYPudNFpA/s72-c/Secret-n-PDL.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-1658266554921764059</id><published>2007-10-25T05:01:00.002+07:00</published><updated>2008-11-08T04:45:31.030+07:00</updated><title type='text'>The Secret vs Purpose Driven Christian</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rx_CloOu9FI/AAAAAAAAAJQ/TwjHp1FpqXA/s1600-h/Oprah.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5125028852681077842" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rx_CloOu9FI/AAAAAAAAAJQ/TwjHp1FpqXA/s320/Oprah.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;Oleh Sansulung John Sum&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;30 Agustus 2007, hari terakhir saya bersama tim kantor kepresidenan bertugas di Gorontalo, Sulawesi. Penerbangan pulang ke Bandara Soekano-Hatta mulus-mulus saja. Hanya ada sedikit turbulansi lazim tatkala akan transit di Bandara Hasanuddin, Makassar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dari Soekarno-Hatta, saya mampir di Jakarta untuk mengambil mobil yang saya titipkan pada adik saya. Setelah beristirahat dan makan malam, saya mengendarai mobil itu untuk pulang ke rumah. Tidak ada masalah apa-apa ketika menempuh rute Grogol, Cawang, Cibubur, Cileungsi, dan Jonggol. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Kecelakaan justru terjadi tatkala saya baru saja melewati pintu gerbang komplek perumahan tempat tinggal saya. Sekonyong-konyong sebuah sepeda motor yang dipacu dengan kecepatan lumayan kencang muncul di depan mobil saya. Segera saya rem. Tak ayal lagi, tabrakan tetap tak terelakkan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Ajaran &lt;em&gt;The Secret&lt;/em&gt; akan menilai saya telah berpikiran negatif sepanjang hari itu. Mungkin saya yang memang mengidap fobia ketinggian, telah membayangkan akan mengalami kecelakaan. Pikiran dan visualisasi itu, sesuai &lt;em&gt;the law of attraction,&lt;/em&gt; telah membangkitkan energi yang menarik semesta yang mewujudkan terjadinya kecelakaan itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Benarkah asumsi itu? Salahkah asumsi itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Hari-hari selanjutnya pada bulan September, saya jalani seperti biasa. Saya pun melanjutkan tugas di Bina Graha untuk membantu Staf Khusus Presiden menerbitkan Tabloid &lt;em&gt;Sambung Hati 9949&lt;/em&gt;. Setiap hari saya bolak-balik Jonggol-Jakarta selama berkantor di lingkungan Istana Kepresidenan dan &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; tidak terjadi hal buruk apa pun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dua minggu berlalu. 15 September dinihari, kembali menjadi saat yang naas bagi saya. Lagi-lagi terjadi dalam perjalanan pulang dan tidak lama lagi akan tiba di komplek perumahan. Malang tak dapat ditolak, tiba-tiba sebuah mobil dari arah yang berlawanan, berpindah jalur dan dalam sekejap menghantam mobil saya. Anda bisa membayangkan apa yang terjadi pada saya dan mobil sedan saya yang ditabrak dari depan oleh sebuah mobil MPV. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dinihari itu, jalanan sepi sekali dan tidak mungkin kami masing-masing berkecepatan hanya 30 km perjam. Namun, saya masih mengira bahwa pengendara mobil yang menabrak saya itu berpindah jalur karena akan menyalip mobil di depannya. Ternyata, setelah polisi datang, ia mengaku mengantuk dan baru sadar setelah tabrakan terjadi. Setelah pagi, ia dan keluarga datang ke rumah saya, mengaku salah, dan menyatakan akan menanggung semua biaya akibat kelalaiannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Walaupun saya juga mengalami kerugian immaterial dalam musibah ini, namun saya masih mengalami kebaikan dan keberuntungan. Pertama, kecelakaan itu meskipun membahayakan jiwa dan menyakiti tubuh, tetapi tidak sampai mengundang maut ataupun cacat tetap. Kedua, mobil saya itu memang sudah waktunya untuk direnovasi, tetapi saya biarkan saja karena kurangnya dana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dengan adanya biaya kompensasi akibat tabrakan itu (Rp 25 juta!) untuk memperbaiki mobil saya, ternyata ada juga hal baik yang bisa didatangkan dari hal buruk ini. Mengapa bisa begitu? Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Roma 8:28. Begitulah, selama 25 tahun bertobat menjadi Kristen, saya senantiasa merasakan penyertaan Allah dalam hidup saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Dari fakta yang sama itu dan ayat Alkitab yang sama, bisa memunculkan minimal 2 pendapat yang berbeda. Tergantung persepsi dan teologi yang dianut orang yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Seorang teman di gereja berkata bahwa Allah bermaksud memberikan dana yang saya butuhkan untuk merenovasi mobil saya, tetapi saya harus mengalami kesusahan dahulu melalui kecelakaan itu. Kesusahan itu menjadi ujian karakter saya. Tatkala saya lulus ujian, barulah Tuhan mencurahkan berkat-Nya itu kepada saya. Mungkin teman saya itu penganut “teologi kesusahan”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Teman saya yang lain berkata bahwa tidak mungkin Tuhan merancangkan kecelakaan karena Ia tidak ingin umat-Nya mengalami kesusahan. Tuhan selalu mendatangkan kesentosaan, yaitu kesejahteraan dan kesehatan. Kecelakaan itu terjadi karena dosa saya sendiri. Tetapi, Tuhan yang baik telah mengubah kecelakaan itu menjadi keberuntungan bagi saya. Mungkin teman saya yang ini menganut “teologi kesentosaan”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Nah, bagaimana ajaran The Secret menilai peristiwa ini? Mungkin tidak jauh dari asumsi terhadap insiden pertama di atas. Jika demikian, maka asumsi itu salah besar karena telah mengabaikan keberadaan Pribadi yang lebih besar daripada semesta ini. Bagi seorang purpose driven christian, segala sesuatu adalah dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;“Ini bukan mengenai Anda.” Paragraf singkat ini ditulis oleh Rick Warren untuk mengawali bab 1 buku &lt;em&gt;The Purpose Driven Life&lt;/em&gt;. Di paragraf berikutnya, Rick menulis bahwa jika Anda ingin tahu mengapa Anda ditempatkan di planet ini, Anda harus memulainya dengan Allah, Anda dilahirkan oleh tujuan-Nya dan untuk tujuan-Nya. Bab pertama itu sendiri berjudul “Semuanya Diawali dengan Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Sebaliknya dengan ajaran The Secret: “Meminta apa yang Anda inginkan kepada Semesta adalah kesempatan untuk membuat jelas bagi diri sendiri mengenai apa yang Anda inginkan. Ketika permintaan itu menjadi jelas di benak Anda, Anda sudah memintanya. Semesta tidak membutuhkan waktu untuk mewujudkan apa yang Anda inginkan.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Jelaslah bahwa The Secret mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah dari Anda, oleh Anda, untuk Anda. Simaklah pernyataan berikut ini: “Semesta muncul dari pikiran. Kita mencipta bukan saja tujuan hidup kita, tetapi juga Semesta.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Selanjutnya, mungkin Anda bertanya, “Apakah semua ajaran The Secret itu bertentangan dengan teologi Kristen? Bukankah The Secret juga mendukung dan melandaskan ajarannya pada Alkitab? Benarkah guru-guru The Secret terhisab dalam New Age Movement?”&lt;br /&gt;Nah, saya ingin mengajak rekan-rekan berdiskusi menyikapi ajaran The Secret secara proporsional. Mengapa harus proporsional? Mengapa tidak kita labrak habis saja komplotan New Age Movement itu? Saya punya pengalaman menarik mengenai penilaian terhadap guru New Age Movement. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Tiga belas tahun yang lalu, seorang staf saya memuat resensi buku &lt;em&gt;Chicken Soup for the Soul&lt;/em&gt; di warta gereja kami. Pada saat yang bersamaan, sebuah majalah Kristen dari Amerika Serikat melaporkan sosok Jack Canfield sebagai penganjur New Age Movement. Jack Canfield adalah penyusun Chicken Soup yang fenomenal itu. Sebagai manajer publikasi di gereja kami, sontak saya mendapat teguran keras dalam rapat kepemimpinan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Lalu, kami menyampaikan ralat dan permohonan maaf di warta gereja edisi berikutnya. Namun, apa yang terjadi bertahun-tahun kemudian? Terbitlah buku &lt;em&gt;Chicken Soup for the CHRISTIAN Soul,&lt;/em&gt; dan Jack Canfield masih sebagai penyusunnya. Buku itu dijual di toko buku gereja kami dan toko-toko buku Kristen lain. Isinya pun sering dikutip sebagai ilustrasi oleh banyak pengkhotbah Kristen! Nah, Jack Canfield yang sama adalah salah satu guru The Secret.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Nah, apa pendapat Anda?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-1658266554921764059?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1658266554921764059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1658266554921764059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/10/secret-vs-purpose-driven-christian.html' title='The Secret vs Purpose Driven Christian'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rx_CloOu9FI/AAAAAAAAAJQ/TwjHp1FpqXA/s72-c/Oprah.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-7099889158877042238</id><published>2007-10-04T00:51:00.000+07:00</published><updated>2007-10-04T12:55:48.922+07:00</updated><title type='text'>Umpan Ampuh untuk Mengail Ide</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/RwPgd8ie49I/AAAAAAAAADU/CChg6oiL9kk/s1600-h/ide.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117180406694601682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/RwPgd8ie49I/AAAAAAAAADU/CChg6oiL9kk/s200/ide.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Purnawan Kristanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Bagi penulis, “ide” adalah makhluk yang menggemaskan. Kedatangannya tak dapat dijadwal tepat waktu, mirip sekali dengan pelayanan kereta api di Indonesia. Ketika kita sangat membutuhkan, dia malah jual mahal, bersembunyi entah dimana. Ketika kita sedang tidak siap menulis, dia malah menari-nari menggoda otak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tidak usah khawatir. Anda sebenarnya dapat memasang umpan yang jitu untuk mengail ide pada saat membutuhkannya. Anda memiliki tiga jenis umpan, yaitu umpan ingatan, umpan pengamatan dan umpan riset. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang lebih lengkap dan tips praktisnya dapat dibaca di &lt;a href="http://purnawan-kristanto.blogspot.com/"&gt;blog saya&lt;/a&gt;: &lt;a href="http://purnawan-kristanto.blogspot.com/"&gt;http://purnawan-kristanto.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Ingatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Theodore Roosevelt berkata, “Do what you can, with what you have, where you are.” Kita dapat memulai mendapatkan bahan cerita dari apa yang sudah kita miliki saat ini, yaitu ingatan atau memori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;a. Kode Kata&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah memilih kata kunci dari tema cerita atau premise yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman. Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;b. Curah Gagasan (Brainstorming)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan diantara ide tersebut?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;c. Menulis Bebas&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang menyambut kedatangan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;d. Pemetaan Pikiran&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pemetaan pikiran (mind mapping) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. Mind mapping memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Pengamatan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ingatan dapat menjadi sumber cerita yang kaya, tetapi Anda tidak semua hal masuk ke dalam ingatan Anda. Contohnya, kalau Anda dibesarkan di gunung, Anda mungkin tidak punya kenangan atas kehidupan di laut. Kalau Anda lahir dan besar di kota, Anda mungkin tidak memiliki kenangan atau pengalaman sebagai penggembala. Untuk itu, Anda dapat memakai teknik pengamatan atau observasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kemiliteran sebelum menyerbu sebuah kota, sang perwira biasanya mengirimkan unit mata-mata untuk menyusup ke sasaran serbu. Tugas mereka adalah mengamati situasi di dalam kota dan mengumpulkan informasi intelijen sebanyak-banyaknya. Misalnya mencatat keadaan jalan, pembangkit listrik, instalasi militer, sarana komunikasi, jumlah penduduk dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip dengan agen spionase, dalam metode ini Anda mendatangi sebuah tempat dan mencatat apa saja yang menonjol dan berkesan bagi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Riset&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ada pepatah mengatakan, “Learn from other people's mistakes, life isn't long enough to make them all yourself.” Meski kelihatannya bercanda, tapi ada kebenaran indah di dalam kebenaran ini. Kita harus belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan mereka saja, tetapi juga dari keberhasilan mereka.&lt;br /&gt;Dengan belajar dari orang lain, kita bisa menghemat waktu, biaya dan sumberdaya lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin belum pernah melihat padang rumput di Israel karena untuk pergi ke sana membutuhkan ongkos besar. Hal ini dapat disiasati dengan riset, yaitu meminta informasi dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang lebih lengkap dan tips praktisnya dapat dibaca di &lt;a href="http://purnawan-kristanto.blogspot.com/"&gt;blog saya&lt;/a&gt;: &lt;a href="http://purnawan-kristanto.blogspot.com/"&gt;http://purnawan-kristanto.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-7099889158877042238?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7099889158877042238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7099889158877042238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/10/umpan-ampuh-untuk-mengail-ide.html' title='Umpan Ampuh untuk Mengail Ide'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/RwPgd8ie49I/AAAAAAAAADU/CChg6oiL9kk/s72-c/ide.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-7088336335593666069</id><published>2007-10-03T18:57:00.000+07:00</published><updated>2007-10-04T13:20:56.061+07:00</updated><title type='text'>The Law of Abraham (The Secret?)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Sansulung Johannes El Darsum&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus. (Roma 14:17)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RwOF3k-xEjI/AAAAAAAAAJI/wgESMR2EaYQ/s1600-h/Abraham.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117080791489253938" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RwOF3k-xEjI/AAAAAAAAAJI/wgESMR2EaYQ/s320/Abraham.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anda ingin menjadi berkat bagi masyarakat, kota dan bangsa kita? Patutlah bagi Anda untuk menengok kecenderungan pergeseran paradigma di marketplace, karena Anda memiliki peluang terbesar untuk meresponi kebutuhan bangsa yang sangat penting dan mendesak saat ini, seperti yang mengemuka dalam berbagai seminar nasional. Inilah saatnya bagi Anda untuk berperan menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di marketplace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disinyalir, banyak orang mengalami suatu sindrom yang membuat mereka tidak cekatan lagi dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan berbagai pola yang berubah sangat cepat. Orang yang memiliki gejala tersebut berbuat banyak kesalahan dalam menyusun urutan...&lt;span class="fullpost"&gt; pikiran yang rasional, dan sulit membawa diri dalam kehidupan sehari-hari. Sindrom diseksekutif ini telah lama terlihat dalam masyarakat Indonesia sehingga turut menyebabkan terjadinya kemelut besar bangsa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya, kita mengintegrasikan head (pikiran/nalar) dan heart (nurani/moral). Keduanya mesti terorganisir dan terbangun sedemikian rupa agar terintegrasi dengan baik. Jika nurani adalah “singgasana” Tuhan Yang Berdaulat, maka pikiran adalah “meja kerja” tuan sang eksekutif. Visi dari pikiran harus mengakar secara mendalam pada misi dari nurani, agar sindrom diseksekutif tidak tetap bercokol dan berkembang lebih luas. Atau dalam bahasa George Barna, misi mendahului visi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, hal itu adalah pekerjaan yang sudah menjadi “makanan sehari-hari” kita (bdgkan Yohanes 4:32-36). Segala pemikiran visi kita diselaraskan dalam misi melakukan kehendak Bapa. Lagipula, sebagai garam dan terang dunia, bisnis kita seyogyanya memiliki misi yang menggarami dan visi yang menerangi masyarakat, kota dan bangsa kita (bdgkan Markus 9:49-50). Kita ingin meneladani Abraham yang diberkati Allah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mantan nomaden yang beralih bertani, Abraham merupakan orang pertama, yang disebutkan dalam Alkitab, yang menganggap kapling tanah adalah properti milik pribadi yang dapat diperjualbelikan. Pembahasan yang dilakukan oleh Abraham dengan Efron tentang harga, penjelasan, serta pengumuman pergantian kepemilikan mengandung unsur-unsur dasar kontrak penjualan properti zaman sekarang (bdgkan Kejadian 23:10-20). Sejak kejatuhan komunisme, “hukum” Abraham berlaku di hampir semua negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelaku bisnis tradisional sejak beberapa abad lalu memperlakukan sumber daya yang terbatas –hanya menghabiskan tanpa mengolah—seperti orang nomad dengan mentalitas kelangkaan. Itulah sebabnya kebanyakan orang berpandangan bahwa bisnis itu kotor. Dalam paradigma kelangkaan, “kue” ekonomi itu sangat terbatas, sehingga mesti berkompetisi untuk memperoleh bagian keuntungan dengan merugikan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pelaku bisnis apostolik tidak percaya bahwa Tuhan menciptakan dunia dengan hukum ekonomi di mana keuntungan seseorang mesti merugikan orang lain. Namun, pebisnis apostolik percaya bahwa Tuhan memberikan seperangkat alat, berupa talenta, karunia, dan potensi untuk tidak sekadar menghabiskan sumber daya tersedia, namun lebih berfokus mengolahnya dalam mentalitas kelimpahan (bdgkan Yohanes 10:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma mentalitas kelimpahan percaya bahwa banyak kue keuntungan yang besarnya tak terbatas. Dan, jumlahnya tak terbatas sehingga selalu cukup untuk diperoleh semua orang yang populasi dan kebutuhannya terus meningkat. Mengapa bisa begitu? Karena produktivitas properti intelektual meningkat semakin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep kepemilikan properti intelektual, sebagaimana hukum Abraham, merupakan landasan perekonomian teknologi modern kita. Kemajuan teknologi terkini telah mengolah dan “menciptakan” lebih banyak sumber daya dan berbagai bisnis kategori baru yang tak terbayangkan pada beberapa dasawarsa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran yang mempertentangkan antara hati nurani dan bisnis telah usang ketinggalan zaman. Paul Zane Pilzer, penulis Unlimited Wealth yang juga pernah menjadi Wakil Presiden termuda Citibank, mengakui bahwa tangan Tuhan memastikan apa yang benar secara moral, kelak dapat membuat setiap orang menikmati kue ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, boleh saja pelaku bisnis dan orang saleh dianggap saling berseberangan. Para pebisnis umumnya menganggap bisnisnya tidak akan maju kalau mengikuti nurani, moral, dan agama. Mereka menyadari cara berbisnis mereka yang tercela sehingga malu kalau berurusan dengan soal-soal agama. Sementara itu, kebanyakan orang saleh tidak mau berbisnis karena menganggap bisnis itu kotor dan akan mengotori nuraninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah seminar yang diadakan oleh sebuah gereja di Kelapa Gading, Hermawan Kartajaya sempat menyinggung gerak perkembangan hubungan dunia bisnis dan kerohanian. Salah seorang pakar pemasaran terbaik di Asia ini membaginya dalam tiga era. Era pertama disebutnya era polarisasi, karena pelaku bisnis dan orang saleh (rohani) bersikap seperti di atas.&lt;br /&gt;Era kedua adalah era balansi dengan pebisnis model Robinhood. Pada era itu, kebanyakan pebisnis sudah tidak malu-malu lagi dengan stigma kotornya bisnis dan terseret ke dalamnya. Lalu, mereka mengimbanginya dengan menjadi pahlawan seperti Robinhood, jika memberi sumbangan dari hasil bisnis yang curang atau korupsi, misalnya. Hasil korupsi pun mereka bagi-bagi, atau melakukan korupsi secara teamwork, sehingga muncullah istilah “korupsi berjamaah”, yang semakin sulit diberantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, era saat ini adalah era integrasi antara bisnis dan kerohanian. Berbisnis bukan hanya harus putar otak, tetapi juga harus berlandaskan dan menyelami hati nurani. Dan, ternyata semakin orang menyadari hal ini, semakin terlihat bahwa bisnis tidak serta merta memiliki hakikat yang kotor. Bisnis juga spiritual. Bisnis bisa rohani. Bahkan, ada yang bilang bahwa bisnis itu sendiri adalah ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak bisnis, atau lebih tepatnya pelaku bisnis, yang berbalik kepada dimensi kerohanian sebagai fondasi dalam memandang keunggulan. Dua konsultan Gay Hendricks dan Kate Ludeman melakukan survei terhadap ratusan perusahaan sukses di Amerika Serikat. Hasilnya, memperlihatkan bahwa aspek etikal manajemen telah berkembang lebih jauh kepada semacam spiritualisasi manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua pengusaha dan eksekutif perusahaan sukses yang diteliti oleh Gay dan Kate memiliki sifat-sifat yang biasanya dimiliki oleh orang-orang suci. Secara lugas, mereka seolah ingin mengatakan bahwa di era globalisasi ini, orang suci tidak hanya dapat ditemukan di rumah-rumah ibadah saja, tetapi Anda juga bisa menemukannya dalam diri pimpinan perusahaan-perusahaan besar atau organisasi-organisasi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat yang merupakan warisan peradaban luhur itu bergaung dalam ruang-ruang kehidupan di milenium ini. Untuk mendorong manusia kepada sasaran yang lebih pantas. Untuk meraih bentuk keunggulan yang berkelanjutan dalam jangka panjang, yang oleh Tom Morris disebut keunggulan kolaboratif. Menurut narasumber populer bidang bisnis di Amerika Serikat ini, untuk mencapai puncak keunggulan manusia, kita harus dijiwai oleh semangat kolaboratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tom memaparkan tiga model keunggulan. Model yang paling dominan selama ini adalah keunggulan kompetitif. Model ini merupakan warisan pemikiran Barat. Untuk mendapatkan keunggulan dalam suatu kegiatan, seseorang harus mengalahkan orang lain yang menentangnya. Segala upaya dilakukan untuk memenangkan permainan zero-sum. Problem model keunggulan kompetitif terletak pada sifatnya yang individualistis dan memusuhi, yang merusak pranata masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model lainnya berakar dari kebijaksanaan Timur yang disebut keunggulan komparatif. Setiap orang mencapai keunggulan tanpa harus bersaing dengan orang lain, tetapi membandingkan keadaan dirinya sendiri dalam suatu rentang waktu. Dibanding kemarin, apakah hari ini dia sudah lebih dekat kepada sasarannya? Bagaimana caranya agar dia dapat semakin dekat kepada sasarannya? Problem model ini terletak pada kecenderungan eksklusif untuk memikirkan diri sendiri, tidak pernah menggali kepentingan yang lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model alternatif yang ditawarkan oleh Tom Morris adalah keunggulan kolaboratif, yang fokusnya meretas batas-batas individu. Model ini membuang kelemahan dari kedua model sebelumnya, namun tidak menuntut ditinggalkannya hal-hal baik dari cara berpikir kompetitif dan komparatif. Cara berpikir dan kerja kolaboratif yang baik bergantung pada panduan dari cara berpikir kompetitif dan komparatif, namun yang menjadi sumbu roda adalah kerja kolaboratif untuk mencapai hasil yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling gamblang adalah kontes Indonesian Idol, Akademi Fantasi Indosiar, dan yang semacamnya. Ketika memasuki babak final, model keunggulan kolaboratif terlihat amat jelas. Dua orang finalis tidak saling berkompetisi, karena kemenangan salah satunya tidak bergantung kepada kehebatan mereka untuk saling mengalahkan. Masing-masing finalis juga tidak hanya sibuk meningkatkan keunggulan komparatif masing-masing. Agar mendapatkan semakin banyak perhatian audiens, mereka justru berkolaborasi untuk menampilkan performa terbaik mereka, sebagai tim!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situasi begini, jarang sekali fans mereka yang mengalihkan dukungan. Mereka sudah mempunyai pendukung fanatik sendiri-sendiri. Yang terjadi malah fans mereka yang saling berkompetisi dan berulang-ulang mengirimkan sms dukungan. Sementara itu, dengan kolaborasi kedua finalis juga secara bersama-sama menyedot pendukung baru. Sehingga, total pendukung mereka semakin membengkak, yang pada akhirnya akan membeli album yang telah maupun akan mereka telurkan. Kekuatan sinergis, dalam bentuk apapun, seperti dalam model keunggulan kolaboratif ini, selalu dahsyat dampaknya. Betapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan kolaboratif dapat dikembangkan dengan berkomunitas, dalam interaksi sinergis. Motivasi kolaboratif didasarkan atas misi dan visi yang dipahami dan dikembangkan bersama. Kolaborasi perlu dipandu dengan pemahaman tentang kebutuhan untuk bertumbuh. Adalah tugas para pemimpinnya untuk membentuk pemahaman ini bagi komunitas yang terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah komunitas sejati yang berkelimpahan, setiap anggota mendorong partnernya untuk menjadi yang terbaik menurut kemampuannya. Sebuah komunitas kolaboratif tidak ingin saling mengecewakan dan masing-masing bersedia saling membantu dalam keadaan senang atau susah. Hasilnya adalah damai sejahtera dan sukacita berdasarkan kebenaran dalam Roh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Diadaptasi dari buku “Awaking The Excellent Habit”(Sansulung John Sum, Gradien Books).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-7088336335593666069?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7088336335593666069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7088336335593666069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/10/law-of-abraham-secret-of-abundant.html' title='The Law of Abraham (The Secret?)'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RwOF3k-xEjI/AAAAAAAAAJI/wgESMR2EaYQ/s72-c/Abraham.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-4723649749684083471</id><published>2007-09-20T14:56:00.000+07:00</published><updated>2007-10-05T10:39:52.592+07:00</updated><title type='text'>Dapatkan QUANTUM ORA-ET-LABORA pada Ora-et-labora Quadrant</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Johannes Darsum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. ATHEISME (Iman minus, Ikhtiar plus)&lt;br /&gt;2. AGAMAWI (Iman plus, Ikhtiar minus)&lt;br /&gt;3. AMBURADUL (Iman minus, Ikhtiar minus)&lt;br /&gt;4. ALLELUIA (Iman plus, Ikhtiar plus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RvIsA9rrDvI/AAAAAAAAAJA/BBDTw8RVQU8/s1600-h/copernicus.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5112196922088296178" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RvIsA9rrDvI/AAAAAAAAAJA/BBDTw8RVQU8/s320/copernicus.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika Copernicus menyatakan bahwa bukan bumi, melainkan mataharilah, pusat dari galaksi ini, dia menghadapi penganiayaan akibat fatwa pemuka agama saat itu. Saat inipun, masih ada sedikit kalangan yang meletakkan pengembangan kecerdasan dan kemampuan manusiawi kita sebagai sesuatu yang berseberangan dengan iman. Paradigma mereka terbentuk oleh penafsiran yang menekankan seolah-olah upaya pembangkitan daya pikir dan potensi alamiah manusia adalah melawan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebenarnya dalam banyak hal,... &lt;span class="fullpost"&gt; penekanan tersebut hanya merupakan reaksi terhadap sikap orang-orang yang hanya mengandalkan kekuatan manusia semata dan tidak lagi mengandalkan Tuhan. Sayangnya, reaksi tersebut tidak dibarengi discerning yang tepat namun cenderung prejudice yang hanya dilandasi pengalaman beberapa orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Atheism in practise&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruslah kita akui bahwa cukup banyak orang-orang beragama di sekeliling kita yang tindak-tanduknya menyangkali peranan Tuhan. Hati mereka jauh dari Tuhan (Markus 7:6). Mereka memang mengakui Tuhan secara formal dan lisan, tetapi tidak demikian dalam prakteknya (atheism in practise). Inilah bentuk dari atheisme terselubung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atheisme itu sendiri menyangkali peranan Tuhan sebagai Pribadi Utama yang menciptakan dan mengaruniakan segala kemampuan manusiawi kita. Orang-orang atheis menolak keberadaan Tuhan. Mereka merasa segala pencapaian peradaban manusia adalah karena kemampuan manusia itu sendiri. Di dalam semuanya itu, tidak ada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang hatinya menjauh dari Tuhan, walaupun dapat menikmati pencapaian mereka, tetapi tidak dapat sungguh-sungguh menikmati kesukaan sejati dalam hati mereka. (Yeremia 17:5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Ikhtiar plus namun iman minus&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;font-size:100%;"&gt;bukanlah cara hidup yang patut diikuti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Agama bukan narkoba&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di kuadran lain, ada kelompok yang sangat malas. Malas berpikir. Malas berikhtiar. Kerja sekadarnya, tidak berinisiatif upaya ekselensi. Bersikap take it for granted terhadap segala hal. Tidak ada keinginan meningkatkan diri. Enggan berpikir besar. Hidup linear saja asal lumayan cenderung mediocre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parahnya, jika kemalasan itu memakai keimanan sebagai topeng kepasrahan dan penyerahan diri yang keliru. Tak heran jika Karl Marx akhirnya berkesimpulan bahwa agama adalah candu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mediokritas seperti ini bisa timbul karena mindset yang keliru dan kesadaran yang salah tentang nasib dan takdir. Pola pikir yang keliru membuat orang-orang tak berani berpikir besar. Kesadaran yang salah tentang nasib dan takdir membuat orang-orang berjiwa kerdil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan hidupnya atau keluarganya, ia lantas marah kepada perusahaan. Bisa-bisa, marah kepada Tuhan juga. Pikirnya, bukankah Tuhan sudah berjanji akan mencukupkan segala kebutuhannya. Dan, ia pun rajin berdoa dan sungguh-sungguh berserah kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, walaupun Tuhan menyediakan makanan bagi burung pipit, namun Dia tidak meletakkannya di sarangnya. Sekalipun seandainya Tuhan akan mencurahkan hujan uang, kitapun harus bekerja mengumpulkannya, malah ada yang berebut atau direbut orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Iman plus dengan ikhtiar minus&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;bukanlah pola kerohanian yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;3. Amburadul&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kelompok yang paling celaka. &lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Sudah imannya minus, ikhtiarnya pun minus.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Hasilnya? Tidak perlu kita ulas lagi. Menyitir istilah dalam penjelasan UUD, “Sudah jelas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;4. Alleluia!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun percaya akan hal itu dan mereka gemetar. (Yakobus 2:18-19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya kepada Tuhan berarti melakukan apa kata Tuhan. Mungkin ilustrasi berikut ini bisa menjelaskan hubungan antara percaya dan melakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di sebuah pusat perbelanjaan, anak saya perlu ke kamar kecil. Lantas, saya bertanya kepada petugas satpam. Setelah diberitahukan arahnya, saya mengucapkan terima kasih dan segera menuju ke kamar kecil sesuai arah yang ditunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saya tidak berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh petugas satpam tadi, apa artinya? Bukankah ini berarti saya tidak percaya kepada petugas itu, walaupun saya mengucapkan terima kasih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya bukanlah sekadar verbalitas. Percaya adalah tindakan aktif, tidak pasif. Beriman atau berserah penuh kepada Tuhan tentulah bukan berarti kita tidak boleh mengembangkan kemampuan alamiah manusiawi kita yang pada hakikatnya adalah ciptaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah untuk menyetujui bahwa iman adalah hal utama dalam kehidupan kita. Namun, kita pun tidak boleh mengabaikan potensi alamiah manusiawi yang diberikan oleh Tuhan. Pengembangan potensi itu merupakan keharusan sebagai penghargaan kita kepada Sang Pemberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beriman adalah hal yang utama. Tetapi, kita juga perlu memberdayakan sekaligus hati dan otak kita untuk berupaya maksimal seraya menyerahkan hasilnya kepada Tuhan. Sinergi keduanya membuat kita semakin dewasa. Keimanan sejati dan karakter tanpa topeng memberi kekuatan untuk berikhtiar dengan potensi maksimal yang telah Tuhan berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Iman plus, ikhtiar plus.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; Bahan baku keduanya diberikan oleh Tuhan agar kita menghasilkan buah yang teruji. Kajarlah dan dapatkanlah Quantum Ora-et-labora ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:78%;"&gt;Johannes Darsum, penulis buku "Awaking The Excellent Habit: Memberdayakan Akal-Budi untuk Sukses, bersama Aa Gym, Andrias Harefa, Andrie Wongso" (Gradien Books).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-4723649749684083471?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/4723649749684083471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/4723649749684083471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/09/dapatkan-quantum-ora-et-labora-pada-ora.html' title='Dapatkan QUANTUM ORA-ET-LABORA pada Ora-et-labora Quadrant'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RvIsA9rrDvI/AAAAAAAAAJA/BBDTw8RVQU8/s72-c/copernicus.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-2046861117231720963</id><published>2007-08-30T12:54:00.000+07:00</published><updated>2007-10-05T10:36:13.387+07:00</updated><title type='text'>Pengaruh Kemunafikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Purnawan Kristanto&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.morninggloryantiques.com/imagesLZ/purses/purse23864.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand" alt="" src="http://www.morninggloryantiques.com/imagesLZ/purses/purse23864.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di Jakarta ada bisnis baru yang unik, yaitu jasa penyewaan tas-tas mahal. Penggagas bisnis ini melihat bahwa orang Indonesia senang tampil bergaya di muka umum. Mereka berusaha mendandani diri dengan baju dan aksesoris bermerek terkenal. Semakin besar biaya yang dikeluarkan, semakin besarlah rasa percaya diri mereka. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika terus-terusan berbelanja merek mahal tentu kantong akan jebol. Melihat hal ini,...&lt;span class="fullpost"&gt; sang pengusaha mencium peluang bisnis. Dia membeli tas-tas merek terkenal dan menyewakannya. Ternyata jasa ini mendapat sambutan yang baik. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Lakunya bisnis ini menunjukkan gejala bahwa orang semakin enggan tampil apa adanya di depan orang lain. Sikap ini menunjukkan adanya kadar kemunafikan dalam diri orang itu. Penyebabnya adalah perasaan gengsi dan keengganan untuk mengakui kenyataan hidupnya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Perilaku kemunafikan ini tidak banyak merugikan orang lain, kecuali dirinya sendiri. Namun ada kemunafikan yang lebih membahayakan, yaitu kemunafikan untuk menutupi kesalahannya. Dalam film tentang gangster, kita melihat pemimpin mafia yang rajin berderma. Ini dilakukannya untuk menutup-nutupi perilaku busuknya. Yang lebih gawat lagi, jika ada orang yang memanipulasi ajaran agama untuk menciptakan kesan kesalehan. Yesus mengecam keras perilaku ini: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” (Matius 23:27) &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kerugian Kemunafikan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Ada harga yang harus dibayar oleh orang-orang yang memutuskan untuk berperilaku munafik:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;1. Menguras Waktu, Tenaga dan Dana&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kemunafikan adalah hidup dalam kepalsuan. Orang itu harus hidup di dunia dunia: dunia nyata dan dunia rekaannya sendiri. Hal ini tentu saja membutuhkan banyak waktu, tenaga dan dana. Jika ada orang mengaku sebagai pengusaha sukses, maka dia akan mengeluarkan uang untuk membeli berbagai peralatan kaum eksekutif. Termasuk juga mengikuti gaya hidupnya. Misalnya, makan di restoran mewah dan main golf. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;2. Hidup dalam Tekanan&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;Orang yang munafik selalu merasa takut kedoknya bakal terbongkar. Dia harus berakting sedemikian rupa untuk meyakinkan orang lain. Otaknya selalu berputar mencari cara untuk menutupi kebohongannya. “Sebuah kebohongan hanya dapat ditutupi dengan kebohongan lain yang lebih besar.” &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;3. Perasaan Tertuduh&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hati kecil orang yang munafik pasti berkata: “Ini bukan hidupku sesungguhnya.” Dia mengakui bahwa hidup seperti ini sesungguhnya tidak benar. Dalam hatinya selalu dikejar-kejar perasaan bersalah. &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;4. Tuntutan Pertanggung-jawaban&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Penghakiman nanti, kita harus mempertanggungjawabkan kehidupan kita. Terhadap orang-orang yang munafik, Allah akan memberi hukuman “yang lebih berat” (Mat.23:14).&lt;br /&gt;Yesus mengecam keras perilaku yang munafik. Dia memerintahkan pengikut-Nya supaya hidup secara jujur. “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat. 5:37).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-2046861117231720963?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2046861117231720963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2046861117231720963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/08/pengaruh-kemunafikan.html' title='Pengaruh Kemunafikan'/><author><name>Purnawan Kristanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10878734805173160190</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_za1RxbPFQvc/SvNTKaH7FjI/AAAAAAAABHQ/kKAAOQlxpxY/S220/avatar_sabda.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-7255585474011426558</id><published>2007-08-10T11:50:00.000+07:00</published><updated>2007-10-05T10:51:02.192+07:00</updated><title type='text'>Mahkota &amp; Rahasia Keunggulan Manusia</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rrvwxhz6g2I/AAAAAAAAAHc/OFDPbkUv_jM/s1600-h/darsum_gravatar+OK.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096932136980218722" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rrvwxhz6g2I/AAAAAAAAAHc/OFDPbkUv_jM/s200/darsum_gravatar+OK.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;span style="font-family:trebuchet ms;font-size:85%;"&gt;oleh Sansulung Johannes El Darsum&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;“Kita punahkan sumber daya alam dengan menggunakannya habis-habisan. Kita punahkan sumber daya diri kita dengan tidak menggunakannya sama sekali.” [Zig Ziglar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The crown of His creation, mahkota dari segala ciptaan Tuhan, itulah sejatinya manusia. Makhluk terbaik yang penah diciptakan oleh Tuhan. Apa yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia sehingga merupakan ciptaan terbaik? Apa rahasia keunggulan manusia?&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RrwJNhz6hBI/AAAAAAAAAI4/CXWCw_cjb94/s1600-h/cover+awaking.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5096959006295622674" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RrwJNhz6hBI/AAAAAAAAAI4/CXWCw_cjb94/s320/cover+awaking.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Padahal, secara rupa fisik, makhluk lain memiliki kemampuan khas yang bisa mengalahkan manusia. Umpamanya, kuda lebih cepat dan tangguh daripada manusia. Burung bisa terbang. Pohon kelapa lebih tinggi daripada manusia. Ikan bisa bernafas dalam air. Namun, manusia bisa mengungguli segala makhluk lainnya. Apa rahasianya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahasia keunggulan manusia di atas segala makhluk, amatlah sederhana. Rahasia itu terletak pada kemampuannya untuk cerdik bagai ular dan tulus bagai merpati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Manusia berkemampuan untuk tulus karena dikaruniai budi. Namun, bukan hal ini yang membuat manusia unggul. Banyak hewan yang bahkan “lebih” berbudi daripada manusia. Banyak cerita tentang hal ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;...&lt;span class="fullpost"&gt;Manusia berkemampuan untuk cerdik karena dikaruniai akal. Namun, juga bukan ini yang membuat manusia unggul. Karena, akal juga dimiliki oleh hewan dalam kadar tertentu. Bahkan, juga pada tumbuh-tumbuhan. Mungkin Anda pernah membaca atau melihat sendiri beberapa tetumbuhan makanannya adalah serangga atau hewan lainnya. Tetumbuhan seperti ini, biasanya mempunyai teknik yang jitu untuk menjebak dan melahap mangsanya.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RrwITBz6hAI/AAAAAAAAAIw/yLp0RYnCh98/s1600-h/cover+awaking.gif"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan dalam kadar tertentu, karena umumnya orang tidak menyebutnya sebagai akal, tapi intuisi. Saya tak sendirian untuk menyebut intuisi sebagai akal dalam kadar tertentu. Menarik sekali bahwa ketika buku ini [Awaking The Excellent Habit] tengah dipersiapkan, Melly Goeslaw mengeluarkan pernyataan bahwa intuisi itu adalah suatu pemikiran. Melly mengatakan hal ini ketika meluncurkan album terbarunya, “Intuisi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian mutakhir menunjukkan otak burung mirip otak manusia. Burung bisa menggunakan alat, bisa membangun sarang yang hebat, bisa belajar meniru suara di sekitarnya, dan bisa menghitung. Beberapa burung juga memiliki kemampuan kognitif yang lebih kompleks daripada mamalia. Wilayah yang dianggap primitif pada otak burung, yang sebagian besar terdiri dari basal ganglia dan mengontrol perilaku instingtif, itu ternyata merupakan pusat pemrosesan seperti otak mamalia. “Di sinilah burung memroses pembelajaran, pola migrasi, serta perilaku sosialnya,” ujar Erich Jarvis dari Duke University, North Carolina (Reuters, 31/1 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang membuat manusia lebih unggul? Yang membuat manusia lebih unggul adalah kemampuannya untuk mendayagunakan akal dan budinya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;sekaligus&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Bukan cuma salah satunya, tetapi keduanya. Bukan cuma sekadar memilikinya, tetapi mendayagunakan keduanya &lt;strong&gt;&lt;em&gt;sekaligus&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Cerdik bagai ular &lt;em&gt;&lt;strong&gt;dan&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; tulus bagai merpati. Rahasianya ada pada kata &lt;strong&gt;&lt;em&gt;dan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;. Memadukannya, mensinergikannya. Kemampuan itulah yang tak dimiliki oleh ciptaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ko-Kreator, Khalifah, Manajer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan yang dikaruniakan oleh Tuhan ini membuat manusia lebih unggul sehingga dapat menjadi ko-kreator, khalifah, dan manajer-Nya atas semesta alam dan segala makhluk lainnya. Akal Budi menjadi sumber daya dahsyat yang membuat manusia mampu menembus batas-batas kemampuan fisiknya. Bahkan, sesuai kodrat yang ditentukan Sang Pencipta, manusia bisa “mencipta” sesuatu yang “tiada” sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan akalnya, manusia mengembangkan beragam teknologi, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling canggih. Dengan teknologi roda, manusia bisa bergerak lebih cepat daripada kuda. Dengan teknologi roket, manusia bisa melesat lebih tinggi daripada elang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi digital telah menghantar umat manusia mengakhiri milenium ke-2 dengan gemilang dan memasuki milenium baru dengan penuh harapan. Kini, dengan teknologi nano yang sedang dikembangkan, manusia bisa meningkatkan kemampuan semua teknologi yang sudah ditemukan menjadi teknologi yang lebih handal dan semakin handal lagi. Teknologi nano akan mengubah wajah peradaban manusia menjadi baru sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa akal, mustahil manusia bisa mencapai tingkat peradaban dan keunggulan terkini. Tanpa akal, mungkin manusia masih hidup di zaman batu. Tanpa akal, mungkin manusia masih memasak dengan peralatan dari batu dan bahan bakar kayu. Sama seperti tikus masih makan dengan mengerat, sejak dahulu sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila akal dipakai untuk memenuhi dorongan pencapaian ilmu pengetahuan manusia, maka budi akan menunjukkan welas asih yang tulus kepada sesama. Kahlil Gibran menyair begini, “Tuhan menempatkan di dasar hati manusia mata untuk melihat apa yang tak terlihat, dan menciptakan dalam dirinya kasih sayang dan kebaikan terhadap semua makhluk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa budi, semua hasil pencapaian akal tidak akan ada gunanya. Semua kemajuan hanya akan dipakai untuk menghancurkan. Paradigma antroposentrisme sekuler menjadikan akal manusia sebagai puncak ukuran kebenaran sehingga secara sistemik masyarakat modern telah menghancurkan habitatnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat menguasai akan membuat manusia saling membinasakan sesamanya dengan teknologi yang dimilikinya. Lihat saja perang demi perang, dengan segala kehancurannya, tak pernah membuat manusia jera. Agamapun tak sanggup membendungnya. Bahkan, tak jarang agama diselewengkan untuk memenuhi hasrat primitif tersebut. Sampai-sampai Jonathan Swift berujar begini, “Kita punya cukup banyak agama untuk membuat kita saling membenci, tetapi tak cukup agama yang membuat kita saling mencintai.” Tentu saja pernyataan ini tak sepenuhnya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita amati, di dalam agama ada aspek budi pekerti. Hanya, sayangnya aspek ini jarang ditekankan dibandingkan aspek lainnya. Lewat email, kawan saya menceritakan seorang staf di kantornya yang rajin beribadah, telah di-PHK karena memalsukan dokumen. Banyak orang memahami agama sekadar ritual, pertemuan ibadah, dan kegiatan agamawi belaka. Padahal, esensi beragama bukan di sana. Intisari beragama justru pada keluhuran budi pekerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa budi, mungkin kita sudah punah. Mana mungkin kita mencapai keunggulan peradaban terkini. Malahan, mungkin dunia sudah kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah manusia dikarunia kemampuan untuk memadukan akal dan budinya. Saling me-leverage. Bukan saling menegasikan. Tetapi saling memperkuat. Akal harus terus dikembangkan. Budi harus terus diberdayakan. Bersinergi. Dan, menghasilkan keunggulan insani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skala pribadi, kita harus memiliki cita-cita atau impian, dan menggantungkannya setinggi bintang terjauh di jagat raya. Dengan kata lain, kita harus berpikir besar, menetapkan target yang besar. “Bagi saya, amatlah sederhana, kata Donald Trump, “jika Anda memang mau berpikir, lebih baik bepikirlah tentang hal yang besar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bagi mereka yang percaya dan menggantungkan dirinya kepada nasib, William Jenning Bryan mengingatkan, “Nasib bukan sesuatu hal yang ditunggu, tetapi sesuatu yang harus dicapai.” Kalau begitu, tak ada bedanya antara nasib dan hasil pencapaian, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang atlit tidak berlari tanpa tujuan, seorang petinju tidak sembarangan memukul. Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan pasti telah melatih dirinya sedemikian rupa sebelum pertandingan. Untuk memperoleh suatu mahkota kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam gelanggang, dia menguasai dirinya dalam segala hal. Dia berlari sedemikian rupa, sesuai aturan main, agar semua hasil latihannya tidak menjadi sia-sia. Walaupun telah berlatih keras sehingga mempunyai kesempatan besar untuk menang, namun jika tak mengikuti aturan main, dia akan didiskualifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini seumpama pertandingan. Mungkin Anda telah mempunyai impian besar, peluang besar, dan pencapaian besar. Namun jika Anda tak mengindahkan aturan main, lingkungan, dan sesama, Anda tidak akan mencapai garis kemenangan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika Anda mengindahkannya, justru sesama dan lingkungan akan mempermudah kemenangan Anda. Dan sekaligus, Anda juga akan memperoleh nilai tambahnya, yaitu kehormatan, kebesaran, dan kemuliaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akal Budi adalah rahasia keunggulan manusia yang dikaruniakan oleh Sang Pencipta. Ketika kita memadukan akal penalar dan budi pekerti, sinerginya menjadi sumber daya terdahsyat bagi kita. Anda tak ingin menyia-nyiakannya, bukan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-7255585474011426558?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7255585474011426558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/7255585474011426558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/08/mahkota-rahasia-keunggulan-manusia_10.html' title='Mahkota &amp; Rahasia Keunggulan Manusia'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rrvwxhz6g2I/AAAAAAAAAHc/OFDPbkUv_jM/s72-c/darsum_gravatar+OK.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-5419318140884993009</id><published>2007-07-30T11:52:00.000+07:00</published><updated>2007-07-30T12:39:20.353+07:00</updated><title type='text'>Top 15 Multicreation Writing Class</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1zgRz6goI/AAAAAAAAAFs/YSCNujDaeEo/s1600-h/closing2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092853752000053890" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1zgRz6goI/AAAAAAAAAFs/YSCNujDaeEo/s320/closing2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1zSRz6gnI/AAAAAAAAAFk/39UBax8cou8/s1600-h/closing1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092853511481885298" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1zSRz6gnI/AAAAAAAAAFk/39UBax8cou8/s320/closing1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1wYBz6gdI/AAAAAAAAAEU/9fBRxcJMReI/s1600-h/writing1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092850311731249618" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1wYBz6gdI/AAAAAAAAAEU/9fBRxcJMReI/s320/writing1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1x-xz6giI/AAAAAAAAAE8/TXWPLT5FH7Y/s1600-h/writing6.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092852076962808354" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1x-xz6giI/AAAAAAAAAE8/TXWPLT5FH7Y/s320/writing6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1yshz6glI/AAAAAAAAAFU/Kxv9H05v5ow/s1600-h/writing9.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092852862941823570" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1yshz6glI/AAAAAAAAAFU/Kxv9H05v5ow/s320/writing9.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1yehz6gkI/AAAAAAAAAFM/8jDxgi_DcYs/s1600-h/writing8.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092852622423654978" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1yehz6gkI/AAAAAAAAAFM/8jDxgi_DcYs/s320/writing8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1yOBz6gjI/AAAAAAAAAFE/UUdlKSeH-38/s1600-h/writing7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092852338955813426" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1yOBz6gjI/AAAAAAAAAFE/UUdlKSeH-38/s320/writing7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1xphz6ghI/AAAAAAAAAE0/TkVsnzSS3Ak/s1600-h/writing5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092851711890588178" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1xphz6ghI/AAAAAAAAAE0/TkVsnzSS3Ak/s320/writing5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1xZxz6ggI/AAAAAAAAAEs/Y5Sau8U_WB8/s1600-h/writing4.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092851441307648514" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1xZxz6ggI/AAAAAAAAAEs/Y5Sau8U_WB8/s320/writing4.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1xGBz6gfI/AAAAAAAAAEk/bqv6NA-Up_Y/s1600-h/writing3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092851102005232114" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1xGBz6gfI/AAAAAAAAAEk/bqv6NA-Up_Y/s320/writing3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1wrhz6geI/AAAAAAAAAEc/zlU-1Dstlk0/s1600-h/writing2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092850646738698722" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1wrhz6geI/AAAAAAAAAEc/zlU-1Dstlk0/s320/writing2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1zEhz6gmI/AAAAAAAAAFc/e8nuIAwYIhI/s1600-h/writing10.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092853275258684002" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1zEhz6gmI/AAAAAAAAAFc/e8nuIAwYIhI/s320/writing10.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1wGhz6gcI/AAAAAAAAAEM/4K1SQSHBQyk/s1600-h/opening3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092850011083538882" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1wGhz6gcI/AAAAAAAAAEM/4K1SQSHBQyk/s320/opening3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1vzxz6gbI/AAAAAAAAAEE/Z1vWFztYlgs/s1600-h/opening2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092849688960991666" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1vzxz6gbI/AAAAAAAAAEE/Z1vWFztYlgs/s320/opening2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1vFRz6gaI/AAAAAAAAAD8/aHdpWQGGGh4/s1600-h/opening1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5092848890097074594" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1vFRz6gaI/AAAAAAAAAD8/aHdpWQGGGh4/s320/opening1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pembukaan School of Multicreation (multimedia &amp;amp; creative communication) dihadiri oleh 400-an dari 600-an peserta terdaftar untuk 7 kelas/jurusan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-5419318140884993009?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/5419318140884993009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/5419318140884993009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/07/top-15-multicreation-writing-class.html' title='Top 15 Multicreation Writing Class'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/Rq1zgRz6goI/AAAAAAAAAFs/YSCNujDaeEo/s72-c/closing2.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-6744846625994154631</id><published>2007-07-30T11:23:00.000+07:00</published><updated>2007-07-30T12:22:03.199+07:00</updated><title type='text'>Lord, Don't Move That Mountain</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;by Doris Akers &amp;amp; Mahalia Jackson&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Lord, don't move that mountain&lt;br /&gt;Give me strength to climb it&lt;br /&gt;Please don't move that stumbling block&lt;br /&gt;But lead me, Lord, around it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My burdens, they get so heavy&lt;br /&gt;Seems hard to bear&lt;br /&gt;But I won't give up&lt;br /&gt;Because You promised me&lt;br /&gt;You'd meet me at the altar of prayer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lord, don't move that mountain&lt;br /&gt;Please, don't move that mountain&lt;br /&gt;But give me strength to climb it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;The movie The Pursuit of Happyness uses real glide church members and attendees extras in some of the scenes featuring the church, where Christopher Gardner and his son received desperately-needed shelter.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-6744846625994154631?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/6744846625994154631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/6744846625994154631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/07/lord-dont-move-that-mountain.html' title='Lord, Don&apos;t Move That Mountain'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-6415971408225014180</id><published>2007-06-24T17:02:00.000+07:00</published><updated>2007-07-30T12:17:15.075+07:00</updated><title type='text'>Boneka Rusia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_vcHKvr3yr3c/Rn5Bi2V0_LI/AAAAAAAAACw/tMtkgr9RfWI/s1600-h/russian+dolls.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5079569496678923442" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_vcHKvr3yr3c/Rn5Bi2V0_LI/AAAAAAAAACw/tMtkgr9RfWI/s320/russian+dolls.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernah melihat Boneka Rusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boneka ini terdiri dari satu boneka besar yang di dalamnya terdiri dari boneka yang lebih kecil. Di dalam boneka yang lebih kecil ini, terdapat boneka yang lebih kecil lagi. Demikian seterusnya, sampai pada boneka terakhir, yang tak mungkin "beranak" lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulunya saya tak pernah memerhatikan boneka ini, sampai pada suatu hari seorang senior saya...&lt;span class="fullpost"&gt; bercerita tentang &lt;em&gt;&lt;/em&gt;leadership dengan menggunakan satu set boneka Rusia untuk ilustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata beliau, boneka Rusia adalah gambaran yang baik untuk menunjukkan masalah terkait &lt;em&gt;&lt;/em&gt;successor. Banyak pemimpin kurang legowo dalam menurunkan kecakapan kepemimpinannya kepada yuniornya, sehingga yuniornya tidak dapat bertumbuh dengan maksimal. Yuniornya tidak bisa bertumbuh lebih "hebat" darinya, bahkan menyamai dirinya pun tak mampu. Demikian pula yunior ini, juga belajar berhemat dalam menurunkan kepandaiannya kepada orang di bawahnya yang lebih yunior dari dirinya. Akibatnya, yunior kedua ini bertumbuh kerdil dibandingkan dirinya, apalagi jika dibandingkan dua generasi di atasnya. Demikianlah, rantai ini terus bertambah panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya:&lt;br /&gt;1. Apa yang terjadi jika fenomena ini terus berlangsung berkesinambungan, tanpa ada yang terbeban untuk "memotong"-nya?&lt;br /&gt;2. Mengapa fenomena seperti ini sering terjadi di sekeliling kita?&lt;br /&gt;3. Apakah diri kita sendiri terlibat dalam fenomena boneka Rusia ini? Atau bahkan menjadi pelaku utamanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa untuk pertanyaan nomor 1 dan 2, kita semua secara umum tahu jawabannya. Namun untuk pertanyaan ke 3, hanya kita sendiri yang paling tahu jawabannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;martha pratana&lt;br /&gt;24 juni 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-6415971408225014180?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/6415971408225014180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/6415971408225014180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/06/boneka-rusia.html' title='Boneka Rusia'/><author><name>The life's corner</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16864871709323105138</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7516/2129/1600/Martha1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_vcHKvr3yr3c/Rn5Bi2V0_LI/AAAAAAAAACw/tMtkgr9RfWI/s72-c/russian+dolls.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-3551207578780721533</id><published>2007-06-20T00:24:00.000+07:00</published><updated>2007-06-20T00:58:46.299+07:00</updated><title type='text'>Tukul Arwana vs Jaya Suprana</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="350"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/e0iad_lLi_4"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/e0iad_lLi_4" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maaf, tidak ada teks&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-3551207578780721533?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3551207578780721533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/3551207578780721533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/06/tukul-arwana-jaya-suprana.html' title='Tukul Arwana vs Jaya Suprana'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-1403591320430648324</id><published>2007-06-16T04:21:00.000+07:00</published><updated>2007-08-10T12:30:51.618+07:00</updated><title type='text'>Pianis Nan Piawai</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RnMEaKoQ_SI/AAAAAAAAAD0/D4sljTXGzWM/s1600-h/darsum_gravatar+OK.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5076406052553030946" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RnMEaKoQ_SI/AAAAAAAAAD0/D4sljTXGzWM/s200/darsum_gravatar+OK.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Sansulung Johannes El Darsum&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Mungkin para pembaca sudah pernah membaca atau mendengar kisah yang mirip cerita di bawah ini. Namun, perhatikan akhir cerita saya ini sangat berbeda 180 derajat! Silakan disimak. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;::&lt;br /&gt;Ruang tamu telah dipenuhi para undangan. Pesta kecil, yang diadakan dalam rangka syukuran rumah baru seorang pianis tenar, itu cukup semarak. Tiba-tiba terdengar...&lt;span class="fullpost"&gt; bunyi tuts piano ditekan. Tak beraturan, bising, dan merusak suasana. Tentu saja bukan sang pianis yang tengah beraksi. Tetapi, ada anak kecil tiga tahunan yang penasaran dengan piano baru di ruang tamu tersebut. Perlahan, sang pianis menghampiri anak itu dan duduk mendampinginya. Dengan kepiawaiannya yang sohor, sang pianis mengimbangi dan mengisi kelemahan permainan balita itu, sehingga menciptakan suatu komposisi yang sangat indah.&lt;br /&gt;::&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Empat menit berlalu. Para tamu terkesima dan memberikan applause panjang di akhir duet dadakan itu. Mereka memuji kepiawaian sang pianis menempel rusaknya permainan si balita. Tapi, dasar anak kecil, ia mengira dirinya hebat dan para tamu juga bertepuk tangannya untuknya. Ia tertawa lebar menunjukkan rasa bangganya, dan lantas mengundang celetukan nyinyir dari beberapa tamu, seperti, “Nakal!”, “Norak!”, “Sok!”, “Sombong!”, “Ge-er,” atau “Tak tahu diri.” Tetapi, sikap berbeda diperlihatkan oleh sang pianis. Dengan bangga, sang pianis memperkenalkan anaknya itu. Ia memuji minat dan rasa pede puterinya itu. Sang pianis sangat piawai dalam mengenali potensi sang anak. Ia tidak melihat masalah, ia melihat peluang. Tentu saja, dia kan ayahnya. Ya! Itulah hati seorang bapa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-1403591320430648324?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1403591320430648324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1403591320430648324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/06/oleh-sansulung-johannes-el-darsum-ruang.html' title='Pianis Nan Piawai'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RnMEaKoQ_SI/AAAAAAAAAD0/D4sljTXGzWM/s72-c/darsum_gravatar+OK.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-6764846476414762033</id><published>2007-05-24T19:58:00.000+07:00</published><updated>2007-05-29T15:44:47.228+07:00</updated><title type='text'>Friendship Trip Ke Rumah Dunia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWaIAUI5jI/AAAAAAAAADE/uAQQszSDg2U/s1600-h/tagliners,+Gola,+Firdaus.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068126417989461554" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWaIAUI5jI/AAAAAAAAADE/uAQQszSDg2U/s320/tagliners,+Gola,+Firdaus.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Ita Siregar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inilah petikan kami berangkat ke Rumah Dunia (seterusnya disingkat RD), desa Hegar Alam, Ciloang, Serang-Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu sinar matahari lumayan terik dan tidak ada angin. Farianto memarkir mobil di tanah luas di depan RD, yang dulu ketika saya berkunjung dua tahun lalu dipakai tempat parkir. Kini sudah berdiri satu kerangka rumah sedang dibangun. Pintu gerbang kupu-kupu yang terbuat dari kayu, dengan tulisan Rumah Dunia di atasnya, sudah terbuka begitu saja. Kang Igun, salah satu relawan RD yang pintar mendongeng, segera menyambut kami sambil menyapa bersemangat, “Dari Depok ya?” Wah, salah, Kang. Dari Jakarta ini &lt;em&gt;mah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWiyQUI5lI/AAAAAAAAADU/2PrRwQ5Pu-A/s1600-h/tag5030225.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068135939931956818" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWiyQUI5lI/AAAAAAAAADU/2PrRwQ5Pu-A/s200/tag5030225.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kang Roni, relawan lain, dengan congcorang hijaunya, menemani sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Katanya, RD lebih ramai dikunjungi orang luar di hari Sabtu dan Minggu, seperti juga jadwal &lt;em&gt;workshop&lt;/em&gt;. Sedangkan di hari biasa, anak-anak, remaja atau orang dewasa kapan saja bisa membaca di perpustakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut jadwal Gola akan mementori &lt;em&gt;workshop&lt;/em&gt; menulis (jurnalistik) yang sekarang adalah peserta angkatan ke-9 sejak dimulainya. Sambil menunggu, Rebecca dan Hilda sibuk berfoto di gerbang RD, kami juga sih. Konon, Hilda telah lama bermimpi membuat tempat serupa RD. Rebecca menambahkan, sejak kecil, kakak beradik yang kompak ini, bila diberi uang jajan oleh orang tua, mereka pakai membeli buku-buku dan menyusunnya seperti taman bacaan di teras rumah, mengundang teman-teman tetangga untuk datang dan membaca. Dan membayar sewa baca, &lt;em&gt;kan&lt;/em&gt; (betul? Hehe..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWOGAUI5dI/AAAAAAAAACU/oom6h205sI8/s1600-h/tag5030236.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068113189490189778" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWOGAUI5dI/AAAAAAAAACU/oom6h205sI8/s200/tag5030236.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tias Tatanta sibuk memeriksa karya tulis salah seorang dari beberapa anak yang mengikuti latihan menulis di RD. Peserta kursus mulai berdatangan memenuhi kursi plastik warna-warni di depan panggung yang beratap langit. Kang Roni memutar film pendek Indie. Balita Odi dan Kaka, putra ketiga dan keempat Gola-Tias, ikut meramaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bela, putri sulung Gola yang telah menerbitkan satu novel anak Beautiful Days, tidak terlalu mempedulikan orang-orang yang bertanya soal karyanya. Menurut Tias, Bela agak kesal kalau sedang membaca di perpustakaan dan pengunjung ingin dapat tandatangan di novelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWO1wUI5eI/AAAAAAAAACc/Bonc__VTe3Q/s1600-h/tag+sharing+gola+&amp;+my+book.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068114009828943330" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 199px; CURSOR: hand; HEIGHT: 287px" height="293" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWO1wUI5eI/AAAAAAAAACc/Bonc__VTe3Q/s320/tag+sharing+gola+%26+my+book.jpg" width="210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Gola muncul, menyalami kami, bertanya penulis buku Awaking The Excellent Habit, yang diberikan untuk koleksi RD. Bung Darsum. Walhasil, setelah mengingatkan soal cara membuat satu tulisan (jurnalistik), Gola mempersilakan Bung Darsum berbagi perihal proses kreatif terbitnya bukunya, tentang akal penalar dan budi pekerti yang digabungkan menjadi sinergi sehingga manusia dapat mencapai peradaban saat ini. &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWWWgUI5hI/AAAAAAAAAC0/ByBNY6HdPBI/s1600-h/tag+sharing+axh.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068122269051053586" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWWWgUI5hI/AAAAAAAAAC0/ByBNY6HdPBI/s320/tag+sharing+axh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWQcgUI5gI/AAAAAAAAACs/xIMJS4kPk6k/s1600-h/tag+sharing+axh+di+rumah+dunia.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068115775060502018" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWQcgUI5gI/AAAAAAAAACs/xIMJS4kPk6k/s200/tag+sharing+axh+di+rumah+dunia.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Seorang peserta bertanya teknik dan kesulitan mengumpulkan bahan, sementara Pak Zaenal, pria berkumis yang bertampang garang, malah berkomentar bahwa akal dan budi tidak bisa dipisahkan. Wah, kita memang &lt;em&gt;lagi ngomongin&lt;/em&gt; itu. &lt;em&gt;Kemane aje,&lt;/em&gt; Pak Zaenal? Heheh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, Gola mem...&lt;span class="fullpost"&gt;persilakan Firdaus, pemimpin redaksi majalah berita TERAS, serupa TEMPO, tapi didistribusikan di sekitar provinsi Banten, untuk membeberkan seluk-beluk pekerjaan jurnalistik. Ternyata kebenaran sulit ditampilkan dalam sebuah tulisan dan ancamannya berat: masuk bui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu titik, Firdaus memaparkan, bahwa atribusi atau pangkat atau teman di kala senang, tidak selalu bisa dijadikan teman di kala susah. Dalam satu pengalaman Firdaus dikepung puluhan orang, seorang Hindu menelepon dan seorang Katolik memberi bantuan. Sementara yang selama ini mengaku teman, tidak memunculkan batang hidungnya sama sekali. Pemaparan keadaan Banten yang sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gola membesarkan hati peserta workshop, bahwa apapun yang terjadi, hati nurani itu tetap harus menjadi pijakan utama. Tidak semua wartawan itu baik. Tidak semua pejabat atau pengusaha itu buruk. Tapi, mereka juga manusia yang mempunyai hati nurani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWbEwUI5kI/AAAAAAAAADM/HvCMofBv4tk/s1600-h/tag5030235.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068127461666514498" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWbEwUI5kI/AAAAAAAAADM/HvCMofBv4tk/s200/tag5030235.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;RD mendiami lokasi tanah seluas 1000m persegi, berbentuk segi empat, dengan tanah kosong di tengah-tengahnya dengan dua pohon besar (pohon apa ya itu), lalu ruang-ruang yang membentuk segiempat, mulai perpustakaan dewasa "Surosowan" di sebelah kanan pintu masuk, lalu sekretariat, panggung tempat latihan teater atau pertunjukan, perpustakaan remaja, toko buku, perpustakaan anak, ruang Jenderal Kancil, yang berfungsi seperti taman kanak-kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari beranjak sore tapi teman-teman dari IKAPI muncul. Mereka perlu merekam aktivitas Gola sedang mementori workshop, karena film akan ditayangkan di pesta buku mendatang di Jakarta. Karena telah waktu shalat asar, kegiatan reda sejenak. Sambil memberi tip-tip praktis menulis cerpen, menceritakan alur dan plot, Gola direkam. Kami ikut jadi figuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kembali ke Jakarta, kami bersantap siang di sore hari di rumah makan sederhana yang menjual &lt;em&gt;rabeg&lt;/em&gt; (gulai kambing ala Banten), sate bandeng, soto. Soto ayam yang dipesan Rebecca dan Farianto &lt;em&gt;uasin&lt;/em&gt;-nya &lt;em&gt;nggak ketulungan&lt;/em&gt;. Setelah kami berdiri untuk pergi, kucing-kucing langsung menyerbu meja makan yang kami tinggali. Waduh, seperti di film horor deh. Tapi, kami menikmati perjalanan kunjungan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita tunggu saja Hilda dan mimpinya membuat ‘rumah dunia’ yang lain. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-6764846476414762033?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/6764846476414762033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/6764846476414762033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/05/inilah-petikan-kami-berangkat-ke-rumah.html' title='Friendship Trip Ke Rumah Dunia'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWaIAUI5jI/AAAAAAAAADE/uAQQszSDg2U/s72-c/tagliners,+Gola,+Firdaus.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-2727091609166819955</id><published>2007-05-24T17:30:00.002+07:00</published><updated>2007-06-16T03:58:47.584+07:00</updated><title type='text'>Taman Menteng</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWoPwUI5mI/AAAAAAAAADs/x5oYAAy7LeU/s1600-h/tag5030156.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068141944296236642" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWoPwUI5mI/AAAAAAAAADs/x5oYAAy7LeU/s320/tag5030156.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Bekas lapangan Persija yang pembongkarannya bikin heboh akhir tahun lalu, kini telah berubah eksotik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kini, warga Jakarta memiliki &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlVuHQUI5TI/AAAAAAAAABE/vejKMsopHN4/s1600-h/tag5030160.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068078026592937266" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlVuHQUI5TI/AAAAAAAAABE/vejKMsopHN4/s200/tag5030160.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sebuah &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;lagi, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;taman &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;baru di tengah &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kota, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dengan fasilitas olahraga &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;seperti &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;lapangan basket, futsal, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dan voli, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;serta 44 sumur resapan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sesuai dengan namanya, &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Taman Menteng terletak di &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;kawasan &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Menteng, Jakarta &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pusat. Tepatnya, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;di &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;jalan HOS Cokroaminoto.&lt;/div&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5068074861202040082" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlVrPAUI5RI/AAAAAAAAAA0/3plkD72tMzA/s400/tag5030152.jpg" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-2727091609166819955?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2727091609166819955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2727091609166819955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/05/taman-menteng.html' title='Taman Menteng'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RlWoPwUI5mI/AAAAAAAAADs/x5oYAAy7LeU/s72-c/tag5030156.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-8562104652528382999</id><published>2007-05-11T16:42:00.000+07:00</published><updated>2007-06-16T04:08:20.941+07:00</updated><title type='text'>Dunia Belum Berakhir</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RkmppeiQTJI/AAAAAAAAAAM/Hk7mQF_fSXg/s1600-h/darsum_gravatar+OK.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064765785991302290" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RkmppeiQTJI/AAAAAAAAAAM/Hk7mQF_fSXg/s320/darsum_gravatar+OK.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Sansulung Johannes El Darsum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#cc0000;"&gt;DUNIA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; dan perang seakan sepasang sumpit.&lt;br /&gt;Itulah yang muncul menjadi kesan setiap insan yang mengenyam udara awal milenium ini. Bumi ini dilahirkan dari Kasih. Juga oleh, dengan, dan bagi Kasih. Walau begitu, hantu perang selalu setia menemaninya.&lt;br /&gt;Ya, perang. Perang!&lt;br /&gt;Will dan Ariel Durant (The Lessons of History, 1968) menyatakan bahwa sejak manusia bisa mencatat sejarah, yaitu lebih dari 3 milenium, ternyata hanya kurang dari 300 tahun yang bisa dinyatakan bebas konflik atau perang. Itu berarti lebih dari 90% riwayat hidup manusia, yang tercatat oleh sejarah, diwarnai oleh konflik dan peperangan.&lt;br /&gt;Megatragedi Perang Dunia I dan Perang Dunia II telah menjadi noktah dekil dalam...&lt;span class="fullpost"&gt; catatan sejarah. Para pihak pemenang tragedi global terakhir itu pun kemudian terbagi menjadi dua kubu yang saling berhadapan dalam perang dingin. Kubu lainnya berjenis “nonblok” menyusul lahir, Gerakan Non-Blok. Kemudian, Blok Timur tak dapat bertahan. Diruntuhkannya Tembok Berlin menyimboli bangkrutnya sistem yang dicoba dibangun berdasarkan komunisme.&lt;br /&gt;Perang dingin berakhir. Melangkah ke milenium ketiga, bangsa-bangsa mulai optimis akan masa depan dunia ini. Di kawasan Timur Tengah pun, saat itu, terbetik harapan rujuknya Israel dengan Palestina. Ada harapan akan tatanan dunia yang baru. Abad ke-20 yang dua kali mengobarkan api bencana global itu ternyata sanggup mengakhiri milenium kedua dengan “selamat”.&lt;br /&gt;Di Indonesia pun, dada anak pertiwi bisa mulai bernafas lebih lega saat itu. Dipercayakannya tampuk pemerintahan kepada sosok yang dikehendaki rakyat secara demokratis, menimbulkan rasa keniscayaan untuk keluar dari krisis. Ada cinta dengan apa saja yang ikhlas diberikan, ada cita dengan semangat gotong royong untuk meraihnya.&lt;br /&gt;:: SUVENIR MILENIUM BARU&lt;br /&gt;Sedang giat-giatnya menggalang kebersamaan untuk memulihkan Asia dari stroke resesi ekonomi, sontak planet ini mendapat kejutan. &lt;em&gt;Surprise…! &lt;/em&gt;Bukan sebuah hadiah yang dipersiapkan secara diam-diam oleh para sahabat, kerabat, dan kekasih untuk merayakan sebuah momen istimewa. Tetapi, sebuah tanda mata milenium ketiga dengan tanda tangan yang di-&lt;em&gt;teken&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;ground zero &lt;/em&gt;di negaranya bung superman itu. Segenap penjuru kampung global terpana-na.&lt;br /&gt;Olala. Si kembar ikon arogansi niaga globalisasi itu rebah ke bumi. Segilima posko satgas tempur nomor wahid sejagat pun tersruduk oleh salah satu dari 4 pesawat yang berhasil ditunggangi pembajak. Lebih dari 3.000 jiwa dikubur hidup-hidup dalam puing-puing WTC. Para panglima Pentagon tentu merah padam hatinya, bukan cuma naik tensi dan naik pitam tetapi juga malu tiada kepalang.&lt;br /&gt;Dengan lihai, desainer serangan tersebut memainkan emosi bangsa superior tersebut. Tanggal September 11th, bisa ditulis 911 dalam kebiasaan beberapa negara. Sementara itu, bilangan 3 angka itu merupakan nomor telepon bagi masyarakatnya tatkala membutuhkan bantuan polisi, misalnya ketika ada ancaman penjahat. Kode 911, yang sangat akrab dalam keseharian mereka, kini menjadi memori trauma mahahebat.&lt;br /&gt;Banyak yang menitikkan airmata atas jatuhnya korban ribuan jiwa. Banyak juga yang mengejek tidak berdayanya syarikat “adidaya” itu. Banyak juga yang menyoraki ide brilyan yang brutal itu. Banyak juga yang melaknati perancang serangan itu. Banyak juga yang mendoakan pahala bagi para pelakunya. Banyak juga yang menggugat ketidaksigapan aparatur pelindung bangsanya. Banyak juga yang menahan geraman yang siap disalakkan.&lt;br /&gt;Ada juga yang menyebut megatragedi inovasi awal milenium ketiga itu sebagai awal Perang Dunia Ketiga! Namun, siapakah musuh yang harus diserang balas? Sampai saat ini bukti yang cakap masih sulit diungkap. Yang jelas, kemurkaan telah ditumpahkan kepada pihak yang memberi applause bagi tindakan biadab tersebut dan pihak yang berpotensi mendukung aksi sejenis.&lt;br /&gt;Malu hati dan kalut otak telah membuat gelap mata. Karena merasa kedaulatan &lt;em&gt;nation-state&lt;/em&gt; telah dirubuhkan oleh teror spektakuler itu, George W. Bush pun menganggap paradigma geopolitik yang dianut bangsa-bangsa sejak abad ke-16 itu sudah kuno dan tak relevan dalam menghadapi terorisme. Setelah rezim dukungan Al-Qaeda “dibersihkan” dari Afghanistan, giliran pun telah diputar ke arah Saddam Husein. Sang junior bertekad mengulangi sukses George Bush senior mengusir serdadu Saddam Husein dari Kuwait. Kali ini, penguasa Babylonia itu sendiri yang disuruh hengkang dari negerinya.&lt;br /&gt;Saddam dituduh membangkangi resolusi PBB untuk melucuti semua senjata pemusnah masalnya, termasuk senjata biologi dan kimia yang digunakannya semasa Perang Teluk I. Persenjataan itu dianggap berpotensi digunakan oleh teroris. Alasan lainnya adalah bahwa rakyat negeri seribu satu malam itu memerlukan pembebasan dari diktator itu. Lagi-lagi, segenap penjuru kampung sejagat terpana-na-na. Lewat media dengar-pandang setiap saat, kehancuran dan korban jiwa dapat dilihati dan digerutui. Tayangan-tayangan kontak mata melalui Al-arabiya, Aljazeera, BBC, CCTP, dan CNN itu sungguh mengiris-iris sanubari kita. Dapatkah kekejian seperti ini dihentikan? Selama masih ada nafsu angkara, memang hal ini akan berulang terus.&lt;br /&gt;Prof Arnold M Ludwig dari University of Kentucky, menelusuri ribuan kepala negara/pemerintahan seabad terakhir. Ludwig mengungkapkan betapa tingkah laku elite politik, yang disurvei, sangat ditentukan oleh naluri instinktif hewani untuk mendominasi secara psikis, seksual, dan egoisme.&lt;br /&gt;Alois A. Nugroho dari Unika Atma Jaya (Kompas, 4/4’03) menulis: “Drama &lt;em&gt;bellum omnium contra omnes&lt;/em&gt; bukan lagi sekadar &lt;em&gt;the war of every man against man&lt;/em&gt;, tetapi lebih berupa &lt;em&gt;the war of every civilization against civilization&lt;/em&gt;. Karena tidak ada ‘rasionalitas universal’, maka kompetisi klaim harus diselesaikan dengan kekuatan lain. Muncullah pemeo &lt;em&gt;might is right&lt;/em&gt;, kekuatanlah yang akan menentukan siapa-siapa yang pantas disebut universal, yang dalam perkembangan sejarah lazim berhubungan dengan klaim kebenaran ‘final’ (Huntington/Ruslani, 2000:597).”&lt;br /&gt;Semua itu, untuk memenuhi hasrat primitif pemimpin politik untuk saling menguasai. Tanpa peduli korban jiwa, efek keamanan dunia, maupun biaya yang diperlukan untuk penghancuran dan pembangunannya kembali nanti.&lt;br /&gt;AS sendiri membutuhkan anggaran lebih dari lima ratus trilyun rupiah. Bagi mereka yang mengalami trauma mahahebat dengan kerugian moril dan materiil sangat besar, mungkin hal itu cukup masuk akal. Akibat serangan 911, selain ambruknya dua menara WTC, memang telah membangkrutkan beberapa perusahaan besar dan dilanjuti PHK besar-besaran. Lebih baik mencegah, itu logikanya. Dan, tentu ada hitung-hitungan tertentu jika mereka dapat bekerjasama dengan rezim baru dalam mengeksploitasi ladang minyak terbesar nomor dua di dunia itu.&lt;br /&gt;:: WILAYAH PUSAT KONFLIK DUNIA&lt;br /&gt;Christianto Wibisono dalam kolomnya di Suara Pembaruan, Wash’Wacth, menulis: “Gelombang terorisme berlatar belakang kebencian dengan isu Palestina itu mencapai puncak pada serangan megateror 11 September 2001 yang merupakan kegagalan imajinasi FBI/CIA. Tidak pernah terpikir bahwa ada manusia bisa begitu kejam, keji dan sadis membunuh sesama manusia tanpa sebab, tanpa konflik, tanpa salah dan tanpa alasan. Kecuali alasan tradisional bahwa AS membela Israel anti-Palestina, karena itu pantas dibantai secara kejam pada 11 September.”&lt;br /&gt;Kawasan Timur Tengah memang pantas dijuluki thermometer bahkan barometer suhu dunia. Geliat konflik di kawasan ini semakin bergolak ketika negara Israel berdiri dengan dukungan dari Inggris dan AS. Perang di kawasan ini pun mengekspor ekses konflik dengan isu-isu keagamaan ke belahan dunia lain. Sebuah pemahaman keyakinan agama seringkali menjadi harga mati yang patut dibela sampai mati. Beberapa pemimpin bangsa Arab, yang sekuler sekalipun seperti Saddam Husein, pandai sekali memainkan hal ini.&lt;br /&gt;Apalagi, memori kesumat Perang Salib &lt;em&gt;(crusade)&lt;/em&gt; sulit dihapuskan dan kerap membumbui konflik-konflik masa kini. Melalui rekaman &lt;em&gt;audio tape&lt;/em&gt;, Osama bin Laden menganjurkan jihad melawan The Crusaders. Perang Salib memang telah meninggalkan luka budaya terdalam bagi bangsa Arab dan Yahudi.&lt;br /&gt;Sejak tahun 638 Masehi, Yerusalem telah direbut dan dikuasai oleh Khalif Omar. Walikota yang beragama Islam pun menunjukkan toleransi kepada seluruh warga, termasuk orang Kristen dan Yahudi. Namun, ketika Yerusalem jatuh ke tangan pasukan Perang Salib pada tahun 1099, terjadilah salah satu kesalahan besar gereja. Pasukan itu menghebohkan dunia dengan pengkhianatan mereka, dengan membantai warga Yerusalem yang mayoritas orang Arab. Mereka juga membakar sinagoge beserta orang-orang Yahudi yang bersembunyi di dalamnya. Tentara Perang Salib mengesahkan tindakan terhadap orang-orang Yahudi itu sebagai doktrin kompensasi karena orang-orang Yahudi telah membunuh Yesus di kayu salib. Saat gereja-gereja Protestan muncul, teologi beberapa denominasi juga melanjutkan penganiayaan ini. Akhirnya, memuncak pada masa Nazi Jerman.&lt;br /&gt;Hati bangsa Yahudi memang sedemikian keras sehingga membuat mereka sulit dijangkau bagi Injil. Tetapi, janji-janji Allah yang ditujukan bagi Israel lahiriah tidak dapat digagalkan kembali tanpa meragukan integritas-Nya “Mengenai Injil mereka adalah seteru Allah oleh karena kamu, tetapi mengenai pilihan mereka adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang.” (Roma 11). Allah juga menepati janji-Nya untuk menyertai Ismael dan membuat keturunannya menjadi bangsa Arab yang besar saat ini. Beginilah Firman Allah kepada Abraham mengenai Hagar, istrinya, “Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu.” Allah juga berfirman Hagar mengenai Ismael, anak Abraham, “Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar.” (Kejadian 21).&lt;br /&gt;Menurut Rick Joyner dari MorningStar Ministries, pasukan Perang Salib telah menabur berbagai kekuatan, filsafat, dan teologi yang paling jahat ke dalam dunia. Buahnya adalah timbulnya kebencian turun temurun sehingga jutaan orang terpisah dari Injil. Orang-orang Kristen harus bertobat dari dosa-dosa mereka terhadap orang-orang Islam dan Yahudi. Paus Yohanes Paulus II tampaknya telah menyatakan kebenaran ini dengan semangat dan kerendahan hati yang besar sehingga seluruh dunia perlu memperhatikannya.&lt;br /&gt;Dengan mengidentifikasi dan bertobat dari dosa bapa-bapa kita itu, kita akan menerima kelepasan dari dosa generasi itu sehingga tidak mengulanginya. Bukan dengan mengritiknya, karena kritik itu sebenarnya justru memastikan bahwa kita juga akan jatuh. Tetapi dengan menganggap dosa-dosa itu sebagai masalah kita, bukan hanya masalah mereka. Ya, kita harus bertobat dari masalah kita bersama itu dan mencari kasih karunia Tuhan.&lt;br /&gt;Kita bersyukur bahwa terhadap agresi ke Irak oleh AS, cukup signifikan jumlah kelompok gereja di seluruh dunia yang angkat suara dan angkat tangan untuk menentangnya. Di Indonesia pun, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia bergabung bersama pemimpin agama lainnya dalam Gerakan Moral Nasional dan telah mencoba mencegahnya sebelum invasi dilancarkan. Mereka juga berangkat ke Vatikan untuk menyatakan dukungan kepada Paus yang secara tegas menentang serangan tersebut.&lt;br /&gt;:: PEPERANGAN PROFETIK&lt;br /&gt;Iman Kristen menempatkan gereja dalam posisi yang mulia, sebagai penjaga gawang standar moralitas. Tatkala mengakui kesalahannya, gereja belajar untuk rendah hati dan menjadi teladan untuk mengatakan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar. Keterbukaan ini juga penting agar tidak lagi menghambat terjadinya kebangunan rohani.&lt;br /&gt;Keterbukaan ini akan menjadi sarana pembelajaran bagi kita untuk kembali kepada kuasa profetik kita, bukannya mengandalkan kekuatan politik dan militer. Karena, peperangan kita adalah peperangan profetik. Peperangan politik dan militer mengakibatkan kematian. Sedangkan, peperangan profetik akan membuahkan kebangunan rohani.&lt;br /&gt;Sesungguhnya Tuhan Yesus telah memberikan kita kuasa profetik itu “untuk menginjak ular dan kalajengking, dan untuk menahan kekuatan musuh.” Musuh bersama kita saat ini sedang menyemai bibit penyakit jasmani (AIDS, SARS, dll), penyakit jiwani, dan penyakit rohani dalam waktu bersamaan.&lt;br /&gt;Billy Graham (Damai Dengan Allah, YBK/OMF), mengutip Profesor Sorokin, mengatakan, “Kita hidup di tengah-tengah salah satu dari krisis-krisis yang terbesar dalam sejarah manusia. Bukan saja peperangan, bencana kelaparan, penyakit dan revolusi, tetapi banyak lagi bencana-bencana lain merajalela di seluruh dunia. Segala nilai dan norma hidup menjadi tidak menentu dan rusak. Krisis memasuki bidang-bidang sosial, ekonomi, politik, dan seluruh cara hidup dan pola pikir. Melihat semua itu, persangkaan kita cukup beralasan bahwa akibat-akibat yang dahsyat akan menimpa kita secara besar-besaran dalam zaman kita ini.”&lt;br /&gt;Apakah kiamat di zaman akhir ini segera tiba? Apakah Tuhan Yesus segera datang besok, bulan depan, atau tahun depan? Kita tidak tahu persisnya. Yang pasti, saat ini dunia belum berakhir. Dan, selama itu pula, peperangan kita belum berakhir. Di dalam peperangan yang bukan melawan darah dan daging ini, kita akan menjadi kuat di dalam Dia dengan mengenakan kuasa profetik yang dilimpahkannya (Efesus 6:10).&lt;br /&gt;Kita masih menantikan datang kembalinya kebangunan rohani yang lebih besar dibandingkan yang terjadi di masa lalu. Anak-anak Tuhan semakin bertumbuh dewasa serupa Kristus. Gereja yang dewasa akan bersatu dalam ikatan kasih. Kerajaan Allah akan datang dalam kuasa Roh Kudus, bukan dengan kekuatan militer. Kehendak-Nya akan ditegakkan dalam hukum kasih, bukan oleh hukum rimba &lt;em&gt;(might is right).&lt;/em&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-8562104652528382999?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/8562104652528382999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/8562104652528382999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/05/dunia-belum-berakhir_11.html' title='Dunia Belum Berakhir'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RkmppeiQTJI/AAAAAAAAAAM/Hk7mQF_fSXg/s72-c/darsum_gravatar+OK.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-1961468780154049397</id><published>2007-05-11T16:32:00.000+07:00</published><updated>2007-06-16T04:09:07.541+07:00</updated><title type='text'>Hidup dalam Kesederhanaan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Gavrila Pinasthika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua orang mengenal warteg alias Warung Tegal, yang merupakan tempat makan yang sudah menjamur di Nusantara. Jika seseorang menanyakan Anda tentang bentuk fisik warteg, tentu Anda akan membayangkan sebuah ruangan kecil sederhana dengan meja dan lemari kaca yang berisi berbagai macam makanan, serta sebuah atau beberapa kursi panjang tanpa sandaran untuk pengunjung.&lt;br /&gt;Keberadaan warteg dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Dari segi sosial, warteg merupakan tempat yang banyak dikunjungi orang dari strata sosial yang berbeda. Tidak hanya dari buruh bangunan, tukang becak, dan orang-orang dari kelas ekonomi bawah, terkadang kita juga dapat melihat...&lt;span class="fullpost"&gt; orang-orang dari kalangan menengah, seperti pekerja kantor dan mahasiswa, makan di warteg. Warteg menjadi pilihan banyak orang karena harganya yang ekonomis.&lt;br /&gt;Dari segi kesehatan, memang ada beberapa warteg yang kurang memenuhi standar kesehatan, seperti misalnya banyaknya lalat yang mengerubungi makanan, ruangan yang kotor, dan sebagainya. Namun, banyak juga warteg memiliki ruangan yang relatif bersih. Menu di warteg pun terdiri dari beragam masakan seperti tempe goreng, mi goreng, telur dadar, sayur kangkung, ikan goreng, ayam goreng, dan makanan lainnya. Sesungguhnya, warteg mempunyai varian makanan yang lengkap yang memenuhi standar 4 sehat 5 sempurna.&lt;br /&gt;Sekarang kita tahu secara garis besar tentang warteg, namun, tahukah kita bagaimana kehidupan pedagang warteg? Berikut hasil wawancara saya terhadap beberapa pedagang warteg yang berada di ibukota dan di luar ibukota.&lt;br /&gt;Wawancara pertama yang saya lakukan adalah dengan pedagang warteg di Semarang, tepatnya di depan Universitas Diponegoro. Warteg itu bernama Warteg Ibu Dwi. Ibu Dwi menjalankan usaha ini bersama suaminya. Mereka telah menjalankan usaha warteg sejak lama, namun mereka baru menetap di tempat kontrakan mereka di Semarang 2 bulan lalu. Sebelumnya mereka berjualan warteg di Jakarta.&lt;br /&gt;Ibu Dwi dan suaminya adalah orang Tegal. Pendapatan kotor mereka per bulan dari berjualan warteg kira-kira Rp 600.000,- per bulan. Jumlah ini memang tergolong kurang, namun kehidupan di kota Semarang masih memungkinkan mereka untuk hidup sederhana dengan seorang anak lelaki yang berumur 5 tahun. Ketika Lebaran tiba, mereka akan pulang ke “daerahnya” yaitu di Tegal untuk menunaikan Hari Raya dan bertemu dengan keluarga.&lt;br /&gt;Keseharian Ibu Dwi dimulai dengan bangun pagi pk 04.00, setelah itu langsung memasak makanan untuk dijual sejak pk 05.00. Sejam setelah itu barulah warteg dibuka. Semua makanan selesai dimasak pada kira-kira pk 10.00. Setelah itu, Ibu Dwi dan suaminya melayani pembeli hingga makanan habis atau paling lambat hingga pk 21.00.&lt;br /&gt;Ibu Dwi mengakui, salah satu kesulitan dari menjalankan usaha warteg ini adalah kurangnya modal dan kenaikan harga sembako. Namun berkat keahlian masak turun-temurun dalam keluarganya, wartegnya bisa berkembang. Ibu Dwi juga sudah membuka cabang dari wartegnya, yang berada di Bogor dan dijalankan oleh adiknya.&lt;br /&gt;Pengunjung yang datang ke warteg Ibu Dwi ini kebanyakan adalah mahasiswa dari Universitas Diponegoro dan pekerja bangunan. Alasan mereka makan di warteg adalah karena harganya yang murah, yaitu sekitar Rp 3.000,- untuk makanan dan Rp 1.500,- untuk minuman.&lt;br /&gt;Di Semarang, Ibu Dwi dan suaminya juga mengikuti semacam organisasi warteg, yaitu Koperasi Warteg. Di perkumpulan yang semua anggotanya orang Tegal murni ini, pengusaha-pengusaha warteg di Semarang dapat memperoleh pinjaman modal untuk mendirikan warteg atau mendirikan cabang baru. Di perkumpulan ini pula mereka dapat berdiskusi tentang suka-duka menjalankan warteg, tips-tips baru dalam memasak, bahkan reuni keluarga. Jelas sekali semangat kekeluargaan dan gotong-royong yang tinggi tampak dalam perkumpulan ini.&lt;br /&gt;Wawancara kedua yang saya lakukan adalah kepada pedagang warteg di ibukota Jakarta. Warteg ini bernama Warteg Aida. Ibu Aida menjalankan usaha ini semenjak tahun 1995 yang lalu. Awalnya ia bertani, namun karena pendapatan yang diperolehnya belum dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari, ia mulai menekuni bisnis warteg.&lt;br /&gt;Awal-awal Ibu Aida menjalankan usaha ini memang dirasanya berat. Dahulu, ia harus mengontrak selama beberapa tahun dengan biaya Rp 3 juta per tahun. Setelah usahanya berjalan cukup lancar, ia berencana membeli tempat seluas 70 m2 itu dengan harga Rp 3,5 juta per meter (total Rp 245 juta). Kini Ibu Aida telah mempunyai warteg yang cukup luas serta lemari pendingin untuk minuman. Bahkan, ibu 2 anak ini berhasil membiayai anaknya hingga sarjana dan menikah.&lt;br /&gt;Ibu Aida yang mempunyai 2 anak dan 1 cucu ini menggaji 3 pembantu untuk melayani tamu, yang digajinya Rp 900 ribu. Jumlah ini dirasa cukup dari pendapatan kotornya yang berjumlah Rp 4 juta per bulan, suatu jumlah yang menurutnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;Namun, tidak semua perjalanan Ibu Aida mulus. Pernah ia berniat untuk meluaskan usahanya dengan membuka cabang di Purwokerto. Namun karena ulah pegawainya yang tidak bertanggung jawab, yaitu mencuri perabotan dan peralatan wartegnya, ia tidak dapat menjalankan usaha tambahannya. Di samping itu, tidak sedikit pembeli yang ‘nge-bon’ atau berhutang dulu padanya. Kebanyakan dari mereka memang membayar utang mereka, namun beberapa ada yang tidak, bahkan lupa sama sekali untuk membayar utangnya. Menghadapi semua tantangan tersebut, Ibu Aida tetap bersyukur dan optimis untuk mencoba membuka cabang lagi.&lt;br /&gt;Berbeda dengan warteg Ibu Dwi di Semarang, pengunjung warteg Ibu Aida kebanyakan dari kalangan menengah, seperti misalnya pekerja kantoran, sopir taksi, maupun pekerja proyek bangunan. Sama seperti pengunjung-pengunjung warteg pada umumnya, mereka senang makan di warteg dikarenakan harga makanannya yang murah, yaitu di antara Rp 3.000,- hingga Rp 3.500,- per porsi. Harga ini tidak ditentukan oleh sesama pengusaha warteg. Walaupun setiap pengusaha mempunyai harga sendiri-sendiri, namun rata-rata sama dengan harga makanan di warteg Ibu Aida.&lt;br /&gt;Ibu Aida juga mengakui bahwa ada suatu pertemuan khusus pengusaha warteg di Jakarta, yaitu Arisan Warteg. Sama seperti di Semarang, semua anggota arisan ini juga orang Tegal seluruhnya. Arisan ini diadakan sebulan sekali. Ibu Aida senang menjadi bagian dari perkumpulan ini, karena dengan begitu ia dapat mengetahui setiap perkembangan warteg yang berada di Jakarta.&lt;br /&gt;Keseharian Ibu Aida tidak jauh berbeda dengan Ibu Dwi. Ia bangun pagi pada pk 05.00. Setelah itu, ia mandi, sholat, lalu memasak hingga pk 06.00. Ia juga dibantu ketiga karyawannya ketika memasak. Jika bahan-bahan masakannya habis, Ibu Aida biasa membelinya di Pasar Minggu. Modal yang dikeluarkannya untuk membeli bahan-bahan masakan ini juga tidak murah, misalnya saja untuk memasak nasi, ia membutuhkan 1 karung beras 50 kg yang akan habis setelah 2 hari. Ketika Lebaran, Ibu Aida beserta keluarganya juga akan pulang ke kampung halamannya dan bercengkerama dengan handai taulan di Tegal. Di Tegal jugalah, ia akan merekrut seorang atau beberapa pembantu baru untuk membantunya menjalankan usaha warteg.&lt;br /&gt;Demikianlah hasil wawancara saya terhadap dua contoh pedagang warteg yang berada di Jakarta dan di luar Jakarta. Kita dapat menarik suatu kesimpulan di sini, bahwa dalam setiap usaha, kerja keras dan optimisme yang tinggi dapat mengantarkan kita menuju kesuksesan dan mimpi-mimpi kita. Kalaupun gagal, hendaklah kita berpikir bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Di samping itu, kita juga perlu mengingat bahwa hidup tidak hanya bergantung pada materi, tapi juga rasa kekeluargaan dan hubungan sosial kita dengan orang lain. Pengusaha-pengusaha warteg di atas dapat hidup sederhana dan tetap bahagia serta bersyukur dengan hidup yang sudah mereka jalani, mengapa kita tidak mencontoh mereka? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-1961468780154049397?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1961468780154049397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/1961468780154049397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/05/hidup-dalam-kesederhanaan.html' title='Hidup dalam Kesederhanaan'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-9199910617263610445</id><published>2007-05-08T22:46:00.000+07:00</published><updated>2007-06-16T04:13:57.028+07:00</updated><title type='text'>Ketukan Malam Dari Surga</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Hilda Nababan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;MALAM ITU DI JALAN KAYU PUTIH 1, tampak dua sosok perempuan sedang berjalan menembus heningnya malam. Eli beserta teman kostnya berniat mendatangi rumah Bernadeth. Jarak kost mereka dengan tempat tinggal Bernadeth hanya beberapa blok sehingga bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tidak seperti biasanya, rumah tersebut tampak gelap dari luar.&lt;br /&gt;“Tok tok tok…”&lt;br /&gt;“Fidel…Fidel…,” seru Eli memanggil anak lelaki Bernadeth yang berumur 13 tahun. Ternyata, yang keluar adalah...&lt;span class="fullpost"&gt; mamanya. Mereka dipersilahkan masuk, disambut dengan ruangan tak bercahaya, suram, dan terlihat kamar tidur berantakan. Kelesuan tersirat di wajah Ibu Bernadeth. Seperti tak ada gairah kehidupan. Bernadeth adalah ketua home cell mereka di Gereja Katolik Bonaventura. Tak tampak profil seorang pembina rohani yang biasanya selalu penuh senyum, kehangatan, dan semangat hidup dalam menggembalakan jiwa-jiwa.&lt;br /&gt;“Hei… Kak Bernadeth, lagi ngapain nih gelap-gelapan begini? Fidel lagi di mana?,” tanya Eli dengan penasaran.&lt;br /&gt;”Tau nih, saya lagi hamil, si Fidel pergi ke BSD malam-malam begini. Sudah begitu, suami saya malah mengijinkan Fidel pergi. Saya tidak bisa terima tuh, tambah ruwet,” jawabnya. Seakan ingin melepaskan beban hidup yang menghimpitnya, sederetan kata-kata bernada keputusasaan keluar begitu saja dari bibirnya.&lt;br /&gt;“Hhehhhh… Hidup saya lagi kacau balau nih. Ingin rasanya bunuh diri.” Matanya menerawang. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak wanita ini.&lt;br /&gt;Eli sempat terpelongo karena baru kali itu dia melihat ketua home cell-nya tak berdaya. Eli bertanya dengan hati hati.&lt;br /&gt;“Hmmmm…kenapa kak, kok hamil-hamil mau mati? Boleh saya tahu ada apa, Kak?”&lt;br /&gt;“Hidup saya terlalu berat untuk dijalani. Saya sedang hamil. Fidel kabur entah ke mana. Ini juga benjolan-benjolan kecil yang kayak kacang ijo di bawah kulit payudara sangat sakit sekali. Kadang-kadang darah keluar dari puting, ampun….perihnya! Sepertinya jurang sudah siap menyantap saya. Hamil saya kali ini, saya merasa capek banget deh, jasmani dan rohani, jauh dibanding hamil pertama. Kadang-kadang saya ingin menyudahi hidup,” lirihnya.&lt;br /&gt;“Kak Bernadeth, saya ingin sekali agar permasalahan kakak bisa kita tanggung bersama. Saya memang belum pernah menikah dan tidak mempunyai anak. Mungkin saya tidak bisa merasakan persis apa yang Kak Bernadeth rasakan, tapi Tuhan tahu semua yang kakak alami. Kakak tidak berjalan sendirian. Ada saya dan anak-anak home cell yang lain siap memberi pertolongan.”&lt;br /&gt;Warna hidup menjadi berbeda, gairah menyala kembali. Pertolongan Tuhan tak pernah terlalu dini atau pun terlambat. Seruan kata-kata iman kesembuhan terhadap kanker payudara kirinya, dilontarkan setiap hari pasca kehamilannya.&lt;br /&gt;“Tuhan…bakarlah semua benjolan yang ada di tubuhku. Aku tahu Engkau menolongku tidak setengah setengah.”&lt;br /&gt;Dalam hitungan 4 bulan kehamilannya, lambat laun benjolan-benjolan kecil yang ganas, bernanah serta berderet dan bergelayut di bawah kulit payudara, mengempes dan layu. Pertolongan dan penguatan teman-teman seiman terus bergulir menghampiri Ibu Bernadeth. Sungguh, pertolongan Tuhan mengepungnya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;::&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;“HELEN, AKU BARU SAJA MENDAPAT INFO DARI TEMAN MARIA, bahwa ada ibu yang akan melahirkan dan butuh bantuan dana,” ujar Agnes.&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa?,” tanya Helen mengharapkan penjelasan yang lebih rinci.&lt;br /&gt;“Soalnya ibu itu, namanya Bernadeth, ada kanker payudara di sebelah kiri sehingga harus operasi caesar. Tapi, tidak punya dana cukup untuk biaya operasi caesar,” jelas Agnes lebih lanjut.&lt;br /&gt;“Oh..gitu. Ok deh kita bawa permasalahan ini kepada pemimpin AOC,” ujar Helen menutup pembicaraan lewat telpon di akhir tahun 2006 itu. Helen adalah salah satu staf yang bekerja di Poliklinik “Kasih” Kana. Sedangkan Agnes adalah salah seorang anggota jemaat AOC, Maria adalah kakaknya.&lt;br /&gt;Sabtu, 27 Januari 2007, tepatnya jam 22.46 di Rumah Sakit Carolus, Jakarta Pusat.Dunia bertambah jumlah penghuninya dengan kelahiran Pio Rafael De Euksritia. Panjang 48 cm dan berat 3,5 kg. Operasi caesar dibantu pembiayaannya oleh gereja AOC.&lt;br /&gt;Ucapan syukur mengalir dalam kehidupan keluarga Bernadeth dengan memberitahukan kabar gembira kepada teman-teman dan para sahabatnya. Turut merasakan kebahagiaan mereka, Maria berkomentar, “Kak Bernadeth, sudah saatnya mengampuni mama, biar berkat dan anugerah turun loh.”&lt;br /&gt;“Iya, betul. Telpon mama Kak Bernadeth gih, kabarin kelahiran Pio. Ayo dong ampuni mama. Apapun yang pernah terjadi di masa lalu biarlah berlalu,” balas Florida, teman Maria dengan antusias. Bernadeth terhenyak dengan anjuran kedua malaikat yang sangat peduli akan hidupnya. Namun, ia masih ragu-ragu.&lt;br /&gt;“Aduh, kalau soal memberitahukan kelahiran mah gampang. Tapi, kalau mengampuni, aduh, aduh, sudah bertahun-tahun tidak ada komunikasi sama mama. Jadi inget-inget lagi deh yang lalu,” melas Bernadeth.&lt;br /&gt;Maria terus menyemangati, “Ayo, mulai ampuni mama. Biar berkat-berkat tidak tertahan, biar hidup Kak Bernadeth penuh dengan kemajuan.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;::&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;SUATU HARI SETELAH SI KECIL PIO BOLEH DIBAWA PULANG.&lt;br /&gt;“Halo, siapa ini?”&lt;br /&gt;Terdengar jawaban di seberang sana, “Ma, aku Bernadeth.”&lt;br /&gt;Tangis pun pecah.&lt;br /&gt;“Maafin mama ya, ampuni mama ya.”&lt;br /&gt;“Sudahlah, Ma. Bernadeth juga minta maaf. Jangan diingat-ingat yang lalu. Aku sudah melahirkan anak kedua,” kata Ibu Bernadeth melalui telpon kepada mamanya. Tak banyak yang diuraikan, namun mengandung makna yang sangat dalam antar ibu dan anak ini.&lt;br /&gt;Wajah Bernadeth tampak berbinar-binar. Ternyata selain kehadiran kedua buah hatinya, hubungan Bernadeth dengan mamanya mencair setelah bertahun-tahun tidak ada komunikasi. Terjadi rekonsiliasi di antara mereka.&lt;br /&gt;Kejadian demi kejadian itu, sungguh tepat seperti yang dikhotbahkan oleh salah seorang pemimpin jemaat AOC, Eddy Sariatmadja, pada 22 April 2007. Tatkala kita memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan, sesungguhnya kita bukan hanya sedang menyalurkan bantuan semata, tetapi kita sedang menyalurkan iman bagi terjadinya mukjizat laksana anak kecil yang memberi 5 roti dan 2 ikan.&lt;br /&gt;“Inilah yang terpenting dalam kehidupan saya, bahwa saya sudah bisa dekat dan berhubungan kembali dengan mama,” ungkap Bernadeth.&lt;br /&gt;“Salam ya buat seluruh pemimpin dan jemaat AOC yang sudah bantu biaya kelahiran Pio. Saya sangat terberkati kasih Tuhan melalui kalian. Tuhan memberkati,” serunya sambil melambaikan tangan mengiringi Darsum, Hindrasto, dan Hilda yang bergegas masuk ke dalam mobil karena hujan deras turun disertai angin yang berhembus kencang sore 22 April 2007. Kami dari tim The Newsmaker meluncur pulang dengan hati bersyukur kepada Tuhan atas sebuah kisah nyata yang luar biasa.&lt;br /&gt;Betapa tidak. Sebelumnya, kita sama sekali tidak mengenal Bernadeth. Lewat sebuah rantai yang cukup panjang, pertolongan Tuhan dapat kita salurkan bagi keluarga Bernadeth. Bayangkan. Helen-Agnes-Maria-Florida-Eli-Bernadeth &amp;amp; mamanya. Tuhan memiliki banyak cara untuk menolong dan memulihkan umat-Nya. Bagian manusia adalah tetap menjaga iman bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Amin!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-9199910617263610445?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/9199910617263610445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/9199910617263610445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/05/ketukan-malam-dari-surga.html' title='Ketukan Malam Dari Surga'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-9101970818430470591</id><published>2007-05-08T22:39:00.000+07:00</published><updated>2007-06-16T04:11:26.168+07:00</updated><title type='text'>Tukul Arwana [Empat Mata eps. Keluarga]</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="350"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/lA25TOosCEg"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/lA25TOosCEg" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maaf, tidak ada teks.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-9101970818430470591?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/9101970818430470591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/9101970818430470591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/05/tukul-arwana-empat-mata-eps-keluarga.html' title='Tukul Arwana [Empat Mata eps. Keluarga]'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6809885259303513727.post-2089269121932664713</id><published>2007-05-08T21:10:00.000+07:00</published><updated>2007-05-15T19:47:18.564+07:00</updated><title type='text'>Kecil-Kecil Ngobyek</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RkmrAeiQTKI/AAAAAAAAAAU/_p8HfpVPW3k/s1600-h/dar_gravatar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064767280639921314" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RkmrAeiQTKI/AAAAAAAAAAU/_p8HfpVPW3k/s320/dar_gravatar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh Sansulung Johannes El Darsum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;BANYAK&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; orang ingin melihat perubahan di dunia. Orang yang bercita-cita mengubah dunia juga tak kalah banyaknya. Mahatma Gandhi berkata, “Kita harus menjadi perubahan yang ingin kita lihat di dunia.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Membuat sebuah perbedaan di dunia. Begitu suara dari hati kecil banyak orang yang ingin memberi sumbangsih bagi dunia kita. Dalam banyak hal, sebenarnya setiap hari kita telah membuat suatu perbedaan. Kita sering tidak menyadarinya, karena perbedaan itu biasanya dimulai dari hal-hal kecil. Bukan hanya milik orang dewasa, karena anak kecilpun memiliki suara itu, dan dapat membuat perbedaan juga.&lt;br /&gt;Saya sangat terkesan dengan kejadian pada tanggal 8 Desember 1983 di kota Philadelphia yang diceritakan oleh pengembang kepemimpinan Wayne Cordeiro dalam buku “Pembebas Impian”. Saat itu, Trevor Ferrel mendengar berita malam bahwa para tunawisma terancam kematian seketika karena suhu udara kota Philadelphia turun di bawah titik beku.&lt;br /&gt;Trevor merespon suara di hati kecilnya dengan gagasan sederhana di benaknya. Ia ingin memberikan selimut yang tidak begitu ia butuhkan di rumahnya yang hangat. Anak lelaki 11 tahun ini memutuskan untuk segera bertindak! Akhirnya, keteguhan hati Trevor meluluhkan keengganan orangtuanya untuk mengantarnya menemui seorang tuna wisma yang menggigil di jalanan.&lt;br /&gt;Tak hanya sampai di situ. Pengalaman malam itu membuat Trevor bersikeras untuk kembali membawa lebih banyak selimut pada malam-malam berikutnya. Kehabisan selimut di rumahnya sendiri, giliran para tetangga yang dibuatnya frustasi.&lt;br /&gt;Segera, misi kepedulian ini menggemparkan kota dan mengilhami kelompok-kelompok lain mendengar suara hati mereka. Seperti para mahasiswa lokal, restoran cepat saji, dan siapa saja ikut bergerak sesuai kemampuan mereka. Namun, seperti biasa, ada juga kelompok skeptis yang kurang mendukung gerakan itu.&lt;br /&gt;Pendekatan Budi-pekerti seorang bocah diadu dengan pendekatan Akal-penalar profesor sosiologi, “Ketunawismaan adalah masalah yang rumit, sehingga membutuhkan jalan keluar yang rumit pula, tidak sesederhana solusi Trevor.” Apa jawaban Trevor? “Saya benar-benar tidak tahu. Saya hanyalah anak kecil.” Trevor melanjutkan, “Tetapi, apakah para tunawisma itu lebih menginginkan selimut atau jalan keluar yang rumit itu?”&lt;br /&gt;Suara gerakan Trevor bergaung sampai ke Calcutta, India. Mother Teresa pun mengundangnya untuk melihat pekerjaan welas asih di India. Bukan hanya lintas benua, suara hati Trevor tetap terdengar melintas ke abad baru hingga dua dasawarsa ini. Tercatat, lebih dari 1.800 tunawisma yang bukan saja telah mendapat selimut, tetapi juga tempat tinggal tetap.&lt;br /&gt;Bukan, bukan hasil besar itu yang menjadi prioritas Trevor, tetapi passion dan inisiatif untuk menyentuh kehidupan satu orang tunawisma saja pada malam itu yang telah membuat sebuah perbedaan besar.&lt;br /&gt;Sejak akhir tahun 1983 itu, tidak seorang pun tunawisma yang meninggal karena kedinginan di jalanan kota Philadelphia. Padahal, pekerjaan besar dan agung tersebut hanya dimulai dengan sebuah gagasan di benak Trevor yang merespon suara hatinya. Sebuah contoh sinergi Akal-penalar yang sederhana dengan Budi-pekerti yang jernih.&lt;br /&gt;Beberapa kejutan yang pernah terjadi dalam kehidupan kita pun, barangkali dikarenakan kita telah membuat perbedaan secara tidak sengaja. Misalnya, sebuah tepukan di bahu atau senyuman bagi seorang kawan mungkin telah menguatkan hatinya yang tengah dilanda krisis semangat hidup.&lt;br /&gt;Mungkin pula, kita bingung apakah sebuah perbuatan kecil kita akan mendatangkan perbedaan yang baik atau buruk. Misalnya, ketika berkendaraan dan berhenti di “lampu merah”. Anak-anak jalanan menghampiri Anda. Lantas, Anda berpikir, “Apakah seratus rupiah yang saya berikan akan menjadi madu atau racun bagi anak itu?”&lt;br /&gt;Anda betul. Uang receh itu mungkin akan menjadi madu bagi anak itu. Hal ini terjadi jika uang dari Anda itu bersama beberapa uang receh lainnya yang ia kumpulkan akan digunakan untuk biaya sekolah atau keperluan penting lainnya.&lt;br /&gt;Namun, Anda betul juga, uang receh Anda itu mungkin pula akan menjadi racun bagi anak itu. Hal ini terjadi jika uang itu sekadar digunakan untuk membeli rokok atau minuman keras. Atau, ini yang paling berbahaya, “meracuni” mentalnya untuk hidup dari mengemis yang pada akhirnya mengekang potensi dirinya.&lt;br /&gt;::&lt;br /&gt;SOLUSI ALTERNATIF KETIGA&lt;br /&gt;Jadi, apa yang harus kita lakukan jika diperhadapkan dengan situasi ini? Peter F. Drucker mengajak kita berpikir kreatif. Menurutnya, di dalam semua persoalan yang benar-benar tidak memiliki kepastian, seseorang memerlukan berbagai solusi kreatif untuk bisa menciptakan sebuah situasi yang baru. (The Efective Executive, Elex Media Komputindo, 1997).&lt;br /&gt;Dalam buku terbarunya, “The 8th Habit”, Stephen R. Covey menganjurkan untuk mencari alternatif ketiga sebagai solusi sinergis. Menurutnya, alternatif ketiga bukanlah kompromi di tengah-tengah, melainkan sesuatu yang lebih baik daripada kompromi. Orang Buddha menyebutnya Jalan Tengah, sebuah posisi tengah yang lebih tinggi –seperti ujung atas segitiga— dan lebih baik daripada dua alternatif yang ada sebelumnya.&lt;br /&gt;Sedangkan Charles E. Smith, seperti yang telah saya kutip dalam buku saya "Awaking The Excellent Habit", mengemukakan, “Tantangan kita dalam mendefinisikan pintu-pintu gerbang di antara dua dunia adalah: menemukan batasan-batasan inovatif yang—dengan sendirinya—mengarah pada kemungkinan-kemungkinan yang baru dan menyatu bagi manusia.”&lt;br /&gt;Charles E. Smith memakai ungkapan “kemungkinan baru”, yang diperoleh dari menemukan batasan inovatif. Drucker memakai ungkapan “situasi yang baru”, yang dapat dihasilkan oleh solusi kreatif. Covey memakai ungkapan “alternatif ketiga” sebagai hasil dari upaya kreatif sepenuh hati.&lt;br /&gt;Kembali kepada situasi menghadapi anak-anak jalanan, apa yang harus kita perbuat? Kemungkinan baru, situasi yang baru, atau alternatif ketiganya seperti apa? Di sinilah upaya kreatif sepenuh hati, dengan menyinergikan pendekatan Akal-penalar dan Budi-pekerti, memberikan solusi inovatif. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh United Nations Volunteer (UNV) melalui kampanye “Stop Beri Uang, Beri Kami Kesempatan” di jalanan kota Jakarta.&lt;br /&gt;Tanggal 5 Desember telah ditetapkan sebagai Hari Volunteer Sedunia. Dalam rangka memperingatinya, pada tanggal 5 Desember 2004, PBB dalam hal ini melalui UNV melakukan kampanye di Jakarta untuk kepedulian terhadap anak jalanan. Harapannya, kampanye ini akan mengubah paradigma masyarakat terhadap pemberian kepada anak jalanan serta menggalang para sukarelawan yang mendukung kampanye tersebut.&lt;br /&gt;Begini, sebagian bunyi kampanye mereka:&lt;br /&gt;Stop Beri Uang, Beri Kami KesempatanHentikan Memberi Uang Kepada Anak Jalanan. Banyak pihak yang telah mencoba menolong mereka dengan memberikan sekolah gratis, makanan gratis dan rumah singgah bagi mereka. Namun mereka tetap kembali ke jalan. Mengapa? Karena Uang Anda!Karena setiap hari mereka memperoleh "uang gampang" pa ling sedikit Rp.25.000,- itu berarti dalam sebulan mereka bisa memperoleh Rp.750.000,- Jumlah yang cukup besar, tidak heran mereka memilih untuk tetap di jalan.&lt;br /&gt;Tapi jika dibiarkan, 10-20 tahun lagi mereka akan tetap berada di jalanan dan bisa jadi menjadi preman yang tinggal di jalan dan melahirkan anak-anak kurang mampu dan yang tidak berpendidikan. Ini akan menjadi lingkaran setan di negara kita.&lt;br /&gt;Mereka bukannya tidak punya pilihan lain, apa yang bisa kita lakukan agar mereka tidak berada di jalanan lagi ?&lt;br /&gt;1. Berhenti memberikan uang kepada mereka di jalanan.&lt;br /&gt;Dengan begitu kita menolong mereka dari resiko-resiko berbahaya serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyambut uluran tangan yang berguna untuk masa depannya kelak. Dengan kita berhenti memberikan "uang gampang" berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Di satu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan yang berniat membantu mereka. Di sisi lain, dengan tidak memberikan uang kepada mereka di jalanan, maka kita dapat berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.&lt;br /&gt;2. Dukung semangat mereka untuk bekerja dan berusaha.&lt;br /&gt;Berikan reward kepada semangat bekerja dan berusaha. Sebisa mungkin, meskipun akan ada selisih harga, belanjalah kebutuhan Anda kepada usaha-usaha yang dikelola oleh mereka. Anggaplah selisih harga ini sebagai derma untuk mereka. Lebih ekstrim lagi, belanjalah kepada mereka meskipun Anda tidak terlalu membutuhkan barangnya. Hal ini sekali lagi jauh jauh lebih baik daripada sekedar memberikan "uang gampang" kepada mereka di jalanan. Lewat tindakan kita dan kesempatan yang kita berikan, kita secara tidak langsung sedang memulihkan hak-hak asasi anak menurut "Konvensi Hak Anak" PBB (diratifikasi Keppres RI No.36/1990): hak untuk hidup, hak untuk tumbuh dan berkembang, hak untuk memperoleh perlindungan, hak untuk berpartisipasi.&lt;br /&gt;Upaya kreatif sepenuh hati dapat menawarkan solusi inovatif bagi kita untuk membuat sebuah perbedaan. Sesuatu yang sederhana dan tidak sulit, bukan? Ya, karena kita semua diciptakan &lt;em&gt;(created)&lt;/em&gt; oleh Sang Pencipta &lt;em&gt;(Creator)&lt;/em&gt; sebagai ciptaan &lt;em&gt;(creature)&lt;/em&gt; yang memiliki daya cipta &lt;em&gt;(creativity)&lt;/em&gt;. Yang diperlukan hanyalah upaya sepenuh hati, yaitu dengan menyinergikan pendekatan Akal-penalar dan Budi-pekerti.&lt;br /&gt;Ayo kita “ngobyek”. Ngobyek membuat perbedaan di dunia kita masing-masing. Dan, dimulai dari hal yang kecil. Sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6809885259303513727-2089269121932664713?l=tagliners.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2089269121932664713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6809885259303513727/posts/default/2089269121932664713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tagliners.blogspot.com/2007/05/kecil-kecil-ngobyek.html' title='Kecil-Kecil Ngobyek'/><author><name>Sansulung John Sum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10362516421224860879</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_BNih3bkAZjM/RkmrAeiQTKI/AAAAAAAAAAU/_p8HfpVPW3k/s72-c/dar_gravatar.jpg' height='72' width='72'/></entry></feed>
